AKTIVIS KECAM RENCANA PERANCIS BANGUN KAMP PENGUNGSI DI HUTAN

Seorang pengungsi memanjat pagar kawat berduri untuk menyeberang. (Foto: AA)
Seorang pengungsi memanjat pagar kawat berduri untuk menyeberang. (Foto: AA)

Paris, 12 Muharram 1437/25 Oktober 2015 (MINA) – Kelompok aktivis bantuan di Perancis, mengecam rencana pemerintah negara itu membangun kemah untuk ribuan pengungsi di hutan dekat Calais, pelabuhan yang menghadap Selat Inggris.

Awal pekan ini, Menteri Dalam Negeri Bernard Cazeneuve berjanji memberikan bantuan kemanusiaan kepada lebih 6.000 pengungsi yang menghadapi musim dingin di tempat penampungan sementara yang berkondisi kumuh.

Kelompok Solidaritas Medecins du Monde dan Calais mencap rencana itu seperti mengubah kamp menjadi penjara.

“Mereka (nanti) tidak memiliki akses terhadap kebutuhan dasar penting seperti makanan, air atau perumahan yang stabil,” kata Jean-Francois Corty, Ketua Medecins du Monde di Prancis kepada Anadolu Agency yang dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA).

“Apa yang pihak berwenang tawarkan saat ini sebagian besar tidak cukup untuk membuat orang-orang ini (pengungsi) bisa bertahan hidup. Kami sudah mengecam ini beberapa kali sejak tahun lalu,” katanya.

Corty mengatakan, keluarga dari daerah konflik seperti Suriah, Irak, Eritrea, Sudan Selatan dan Afghanistan sekarang tinggal dalam kondisi “yang mengancam jiwa” di kamp 10 kilometer (6 mil) dari Calais.

Kehadiran sejumlah besar migran di daerah itu telah berlangsung sejak 1999 ketika pusat penerimaan Palang Merah Sangatte penuh sesak oleh pendatang.

Lokasi yang dekat dengan terminal Eurotunnel dan pelabuhan Calais sebagai rute untuk menyelundupkan diri ke Inggris, para pengungsi menjadikan kamp pengungsi Sangatte sebagai tujuan, meskipun pemerintah Perancis berupaya memindahkan mereka.

Corty mengakatan, Medecins du Monde telah membuat fasilitas seperti kamp yang mereka buat di zona perang dan daerah bencana.

“Kami tidak mendapat bantuan apa pun dari pemerintah,” kata Corty.

“Sekarang, saat musim dingin datang, situasi memburuk. Dengan suhu dingin, lumpur dan kelembaban, pengungsi lebih rentan terhadap penyakit. Kondisi sanitasi adalah bencana,” tambahnya.

Menurutnya, banyak pengungsi menderita masalah psikologis yang diperparah oleh kondisi di ‘hutan’ dan perasaan terasing.

Mady Denantes, seorang dokter yang bekerja untuk Medecins du Monde mengatakan, kondisi sanitasi di hutan lebih buruk dari pada di negara yang sedang berperang. (T/P001/P2)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

 

Comments: 0