AKTIVIS KEPALESTINAAN: MASJID AL-AQSHA TAK BISA DIBAGI-BAGI

Humas AWG Biro Lampung, Nurhadis saat menyampaikan orasinya terkait pembelaan terhadap Masjid Al-Aqsa dihadapan ribuan umat Islam Lampung di Tugu Adipura Bundaran  Gajah, Jum'at, (2/10). Photo : Rizki Aldy/MINA
Humas AWG Biro Lampung, Nurhadis saat menyampaikan orasinya terkait pembelaan terhadap Masjid Al-Aqsha dihadapan ribuan umat Islam Lampung di Tugu Adipura Bundaran Gajah, Bandar Lampung, Jumat, (2/10). Photo : Rizki Aldy/MINA

Bandar Lampung, 18 Dzulhijjah  1436/ 2 Oktober 2015 (MINA) – Umat Islam di Lampung menolak keras keputusan penjajah Israel yang memberlakukan pembatasan dan pembagian  Masjid Al Aqhsa Palestina.

Penolakan dan kecaman pada pemerintah zionis Israel itu disampaikan oleh ribuan umat Islam di Lampung, masa yang tergabung dalam Aqsa working Group (AWG) dan Pesantren Al Fatah, melakukan aksi longmarch dari Masjid Al-Furqon menuju Tugu Adipura Bundaran Gajah, Bandar Lampung, usai shalat Jum’at, (2/10).

Mereka mengecam keras pemerintah penjajah Israel yang mengeluarkan keputusan membagi Al Aqsa menjadi tiga bagian pada jamaah muslim yaitu waktu, tempat dan usia.

Dalam orasinya, aktivis Cinta Al-Aqsha Palestina, Nurhadis mengatakan, pembagian waktu, tmepat dan usia untuk pengunjung Masjid Al-Aqsha merupakan penghinaan terhadap seluruh umat Islam di dunia.

“Dari pukul tujuh pagi hingga sebelas  siang, Masjid Al Aqsha diperuntukan bagi peribadatan orang Yahudi setiap harinya dan tidak ada satupun umat Islam yang boleh memasuknya. Ini jelas penghinaan dan penodaan pada umat Islam seluruh dunia,” ujar Humas AWG Lampung, koresponden Mi’raj Islamic News Agency (MINA) Lampung Arif Asy’ari melaporkan.

Lebih lanjut dia mengatakan, khusus hari Sabtu yang merupakan hari besar yahudi, Masjid Al Aqsha bahkan dialihfungsikan menjadi sinagog. Pada hari tersebut Yahudi akan mengusir seluruh muslimin yang ada di masjid Al Aqsha.

Lalu, Secara usia zionis israel menetapkan hak berkunjung terhadap Masjid Al Aqsha bagi muslimin yang berusia diatas 50 tahun dengan alasan para pemuda yang masuk ke masjid kerap melakukan kekerasan pada umat Yahudi.

“Padahal faktanya, Zionis melakukan hal ini sebagai upaya untuk menguasai Masjid Al-Aqsha, meruntuhkannya, lalu menggantinya dengan kuil Solomon yang mereka klaim, “ ujarnya.

Sejak 24 Agustus lalu, Otoritas Pendudukan Israel telah melancarkan kebijakan membagi Masjid Al-Aqsha secara tempat dan waktu bagi umat Islam dan Yahudi, dengan menutup semua gerbang menuju Al-Aqsha setiap harinya pada pukul 7:30-11:30 waktu setempat.

Pada Ahad (13/9), saat perayaan Tahun Baru Yahudi, ratusan ekstrimis Yahudi menyerbu Al-Aqsa di bawah pengawalan ketat tentara Israel. Bentrokan pun pecah saat pasukan keamanan Israel dengan kekuatan besar menangkap dan menyerang jamaah Muslim Palestina yang berada di dalam Masjid.

Pada 8 September 2015, Menteri Pertahanan Israel Moshe Ya’alon, mengumumkan, memboikot dua kelompok Muslim Palestina yang aktif melakukan kegiataan pembelaan di kompleks Masjid Al-Aqsa.

Kelompok Palestina Murabitat dan Murabitun yang selalu berkumpul di kompleks Masjid Al-Aqsa untuk memprotes semakin meningkatnya kontrol Israel atas tempat tersuci ketiga bagi umat Islam itu, di tengah gencarnya kunjungan provokatif kelompok pemukim ilegal Yahudi di bawah penjagaan pasukan bersenjata. (L/ari/rzk/K08/P4)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0