SHAH RUKH KHAN BICARA LANTANG KRITIK INTOLERANSI DI INDIA

New Delhi, 24 Muharram 1437/6 November 2015 – Aktor terkemuka Bollywood, Shah Rukh Khan (50), ikut bersuara mengenai meningkatnya intoleransi di India.

Komentarnya yang bernada pedas membuat beberapa pihak ekstrem di tubuh Partai Rakyat India (Bharatiya Janata Party/BJP) yang berkuasa marah dan bahkan menyebutnya pengkhianat.

Baru-baru ini, saat berinteraksi dengan media dan para penggemarnya pada hari ulang tahunnya, superstar Bollywood itu berbicara keras terhadap meningkatnya tingkat intoleransi di India, demikian Chanel News Asia melaporkan, Kamis (5/11), seperti dikutip Mi’raj Islamic News Islamic (MINA).

“Satu hal yang saya benar-benar percaya dalam adalah jika ada intoleransi terhadap kreativitas dan jika ada intoleransi terhadap negara karena agama, kita merusak setiap langkah maju yang diperjuangkan oleh bangsa ini,” ujar aktor Muslim itu.

Anggota BJP mengkritik Khan, mengatakan ia menyerang administrasi mereka. Politisi partai itu bahkan membandingkan dia dengan teroris internasional.

“Orang-orang ini berbicara bahasa para militan. Saya pikir tidak ada perbedaan dalam bahasa Shah Rukh Khan dan Hafiz Saeed,” ujar Anggota parlemen BJP Yogi Adityanath.

Beberapa politikus BJP telah menyerang aktor kawakan itu tidak hanya dalam wawancara televisi tetapi juga di media sosal. Mereka menyebut Khan ‘pengkhianat’ yang mendukung India Pakistan. Namun, sejumlah anggota senior BJP telah mengelak untuk berkomentar seperti itu.

Tak terima dengan pernyataan BJP itu, sejumlah pendukung aktor populer jagat Bollywood itu membela Khan dan menyerang BJP. “Negara ini bukan milik pribadi. Kita tidak perlu izin siapa pun, simpati atau sertifikat untuk tinggal di sini,” ujar Aktor India Raza Murad.

Khan belum mencabut komentarnya, mengatakan ia adalah warga India yang begitu memahami negaranya dan berkeras dengan pandangannya. Salah satu bintang film paling populer di India, Khan termasuk sosok yang dihormati karena pandangan briliannya tentang isu-isu kepentingan nasional dan internasional.

Sekitar tiga tahun yang lalu, Khan ditahan di bandar udara Amerika Serikat oleh pejabat keamanan.

Dalam komentarnya, Khan mengatakan kepada pejabat itu, “Saya Khan dan saya bukan teroris,” mengacu kepada iman Muslimnya yang kerap disangkutpautkan dengan terorisme oleh sebagian besar kalangan di duna Barat, untuk menentang penyematan identitas berbau rasial kepada umat Islam.

Intoleransi Mengkhawatirkan

Pada Oktober lalu, People & Power, yaitu program dokumenter investigasi pekanan Aljazeera, menyelidiki gerakan fundamentalis Hindu India dan pengaruh mereka pada pemerintah negara itu.

Sejak Narendra Modi, seorang nasionalis Hindu dan pemimpin partai  BJP, menjabat Perdana Menteri India pada Mei 2014, kelompok nasionalis Hindu radikal telah meneror agama minoritas di seluruh negeri, terutama Islam.

Menguatnya posisi BJP dengan naiknya Modi ke pucuk kekuasaan ‘Negeri Hindustan’, pendukungnya yang nasionalis sangat radikal telah secara rutin turun ke jalan-jalan, menggunakan kekerasan dan intimidasi untuk menuntut klaim mereka menjadikan India murni untuk Hindu.

Simpatisan BJP tak segan-segan melakukan kekerasan terhadap komunitas Muslim yang menyembelih sapi dan memakan dagingnya. Sapi merupakan hewan yang dianggap suci oleh penganut Hindu, agama mayoritas di India.

Pada 28 September, misalnya, seorang pria Muslim 52 tahun, Mohammaded Akhlaq, digantung oleh massa Hindu atas dugaan menyembelih sapi dan memakan daging binatang itu.

Anaknya yang berusia 22 tahun mengalami luka parah dalam serangan itu hingga terbaring di rumah sakit.

Ajju Chouhan, pemimpin kelompok radikal Bajrang Dal yang menganggap dirinya kaki tentara dalam gerakan nasionalis Hindu, dengan sedikit blak-blakan mengatakan kepada tim People & Power bahwa siapapun yang tertangkap membawa sapi mungkin tidak akan dibunuh, tetapi mereka pasti akan dipukuli.

Menurut lembaga hak asasi Kristen terkemuka, seperti dilaporkan Aljazeera, setidaknya ada 600 serangan terjadi antara periode pemilihan Modi dan Agustus tahun ini yang dilakukan kalangan mayoritas.

Dari jumlah itu, sebanyak 149 menargetkan orang Kristen, sisanya (451 serangan) menyasar komunitas Muslim.(T/P022/R05)

 

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0