Al-Aqsa Awareness Week Ungkap Penggalian sebagai Upaya Penghancuran Perlahan

Jatinangor, MINA – Penjajahan Israel dan keinginan untuk menguasai Masjid Al-Aqsa tidak hanya dilakukan di atas tanah yang dipijaki masyarakat Palestina, tapi juga sampai ke bagian bawah tanahnya.

Kondisi itu disampaikan oleh Heba Shehab dalam rangkaian kegiatan ketiga dari acara Al-Aqsa Awareness Week (AAW) pada Rabu (28/10), demikian keterangan resmi yang diterima MINA.

Heba Shehab adalah seorang wanita asal Palestina yang juga mahasiswa Teknik Arsitektur Universitas Sains Islam Malaysia (USIM).

Pada kesempatan itu, ia menceritakan bagaimana upaya entitas zionis Israel mencoba membangun terowongan-terowongan untuk menggali dasar Al-Aqsa.

Operasi penggalian dasar kawasan Al-Aqsa ini dilakukan secara rahasia oleh Otoritas Pendudukan Israel, dengan tujuan membangun kuil Sulaiman Ketiga (The Third Temple) yang merupakan kuil suci bagi kaum Yahudi.

Al-Aqsa Awareness Week sebagai Pekan Pengingat Al-Aqsha yang digelar Smart 171 berlangsung pada 26-30 Oktober 2020. Agenda tersebut menghadirkan acara seminar, talkshow, bedah film, dan kampanye lari virtual untuk Palestina.

SMART 171 (Solidarity of Muslim for Al-Quds Retaken) adalah sebuah lembaga sosial masyarakat yang fokus bergerak di bidang kepalestinaan. Berdiri sejak Mei 2016, SMART 171 memiliki visi menjadi LSM yang berjuang membebaskan Al-Quds dan secara aktif, taktis, dan sinergis.

“Pemerintah Israel merahasiakan proses penggalian tersebut. Terdapat terowongan-terowongan yang dapat kita lihat sekarang, tapi itu hanyalah representasi kecil dari penggalian yang dilakukan. Bisa jadi ada lebih banyak terowongan yang sudah dibuat, tetapi tidak diketahui,” ujar Heba.

Bahkan, orang yang berada di atas tempat penggalian (masyarakat Palestina) pun tidak tahu sudah seberapa banyak terowongan yang dibangun oleh Pemerintah Israel.

“Pemerintah Israel berlaku semena-mena dan jelas melakukan perbuatan yang ilegal,” tambah Heba.

Heba juga menyampaikan, Otoritas Pendudukan Israel memperkerjakan para arkeolog ke terowongan penggalian di dasar Masjid Al-Aqsa dan mengatakan jika terowonan tersebut merupakan situs sejarah yang sudah ada sejak waktu yang lama.

Namun, Heba menimpali, kabar itu merupakan suatu kebohongan. Nyatanya tidak terdapat bukti-bukti terowongan tersebut merupakan situs bersejarah.

Ia menyesali, tidak terdapat informasi-informasi mengenai penggalian ini di media-media di seluruh dunia.

“Seharusnya, perlu ada informasi yang disampaikan kepada masyarakat dunia jika telah terjadi penggalian di dasar Masjid Al-Aqsa dan ini merupakan sebuah pelanggaran karena akan menghancurkan tempat peribadatan umat muslim,” jelas Heba.

Upaya Masyarakat Palestina

Heba mengatakan, masyarakat Palestina dan yang bermukim di sekitaran Masjid Al-Aqsa menentang keras upaya penggalian yang dilakukan oleh Otoritas Pendudukan Israel. Mereka cemas apabila Israel terus melakukan penggalian, suatu saat bila terjadi goncangan atau gempa bumi yang besar Masjid Al-Aqsa akan runtuh.

Salah satu upaya protes menolak penggalian dasar Masjid Al-Aqsa adalah pada 25 September 1996. Saat itu salah satu terowongan penggalian dibuka untuk umum oleh Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu.

Tindakan tersebut spontan memicu kemarahan warga Palestina. Mereka melakukan demontrasi selama enam bulan berturu-turut hingga menewaskan 76 orang dan menyebabkan 1.600 warga Palestina terluka.

Pada akhir pertemuan, Heba berpesan kepada para peserta yang sebagian besar milenial agar menyebarkan informasi mengenai fenomena yang terjadi di Masjid Al-Aqsa. Sebab, itulah jalan paling mudah bagi kita untuk membantu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai apa yang terjadi di Masjid Al-Aqsa dan upaya Zionis Israel untuk menggalinya.

Apalagi informasi semacam ini tidak disampaikan oleh media-media mainstream. Maka, kita harus secara aktif menyuarakan isu ini. Harapan Heba, dengan makin membesarnya suara mengenai isu penggalian Masjid Al-Aqsa ini, semakin banyak masyarakat yang akan bergerak untuk membantu Palestina dan Masjid Al-Aqsa. (L/R1/RI-1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)