Al-Aqsa Titik Transit Perjalanan Rasulullah dari Bumi ke Langit

Baitul Maqdis atau Masjid Al-Aqsa yang merupakan milik umat Islam sepanjang masa, dari masa ke masa menjadi perebutan berbagai penguasa kafir. Ada keyakinan yang tercipta bahwa siapa yang menguasai Al-Aqsa, maka ia akan menguasai dunia.

Di dalam Islam sendiri, Al-Aqsa memiliki banyak keutamaan yang menuntutnya untuk selalu berada di bawah kekuasaan umat Islam. Salah satu keutamaan itu adalah Al-Aqsa menjadi titik transit bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika melakukan perjalanan dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj.

Al-Aqsa yang berada di tanah Syam (Palestina) menjadi tujuan perjalanan bumi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dari Masjidil Haram di Makkah. Kemudian, Al-Aqsa pun menjadi titik tolak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melakukan perjalanan naik ke langit hingga ke Sidratul Muntaha yang dikenal dengan peristiwa Mi’raj.

Perjalanan ajaib beberapa jam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam satu malam tersebut terjadi pada 10 tahun kenabian (620M), menurut pendapat Ibnu Katsir. Pendapat masyhur mengatakan bahwa peristiwa itu terjadi pada malam 27 bulan Rajab.

Peristiwa yang melampaui batas akal manusia di kala itu, diabadikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firman-Nya, Al-Quran Surah Al-Isra’ (17) ayat 1.

سُبۡحَـٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلاً۬ مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِى بَـٰرَكۡنَا حَوۡلَهُ ۥ لِنُرِيَهُ ۥ مِنۡ ءَايَـٰتِنَآ‌ۚ إِنَّهُ ۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

 

Perjalanan Isra’ Rasulullah

Pada malam Isra’ itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bermalam bersama dengan pamannya, Hamzah bin Abdul Muththalib dan anak pamannya, Ja’fara bin Abi Thalib, di rumah Ummi Hani’ bin Abi Thalib (pamannya).

Malaikat Jibril kemudian mendatanginya lewat atap rumah, turun dan mengambil Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam lalu membawanya ke Masjidil Haram. Di sana Jibril membaringkannya, membelah dadanya, dari bawah leher sampai ke bawah perutnya, mengeluarkan hatinya, membersihkannya dengan air zam-zam, kemudian memenuhinya dengan iman dan hikmah, lalu mengembalikannya dan tidak ada tersisa luka bekas belahan. Itu terjadi tanpa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam merasakan sakit.

Setelahnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam siap melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj, bertemu dengan Rabb-nya pada malam itu.

Malaikat Jibril mempersiapkan sarana untuk perjalanan mengagumkan ini dengan Buraq, hewan kendaraan berwarna putih, lebih besar dari keledai, lebih kecil dari bighal, sangat cepat, jangkauan kaki depannya sejauh pandangan matanya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengendarainya, didampingi Jibril ‘Alaihissalam. Buraq terbang membawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pergi ke Baitul Maqdis.

Setibanya di Baitu Maqdis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam turun. Jibril mengikat Buraq lalu masuk ke masjid.

Keduanya bertemu dengan Nabi Ibrahim, Musa, dan Isa ‘Alaihissalam bersama dengan sejumlah para nabi yang telah berkumpul untuk menyambut mereka.

Jibril membawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ke depan untuk mengimami ruh para nabi dan rasul shalat dua rakaat.

Selesai shalat berjamaah di Masjid Al-Aqsa, Malaikat Jibril kemudian membawakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dua gelas, satu berisi khamr dan satunya berisi susu. Nabi lalu memilih susu dan Jibril berkata, “Engkau telah memilih yang fitrah, engkau telah memilih tanda Islam dan istiqamah.”

Setelah selesai perjalanan Isra’ diteruskan dengan Mi’raj yang mirip tangga. Dari Baitul Maqdis, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam naik bersama dengan Jibril ke langit dunia, kemudian ke langit berikutnya. Setiap penghuni langit menyambutnya, para nabi yang ada di setiap langit memberikan salam kepadanya.

Selesai urusan di langit, tempat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendapat perintah shalat lima waktu, Rasulullah kembali turun bersama Jibril ke Baitul Maqdis.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kembali menunggangi Buraq untuk pulang ke Makkah, di kala malam masih gelap dan penghuni bumi masih terlelap.

Sulit rasanya untuk menggali tahu secara jelas, mengapa Masjid Al-Aqsa menjadi tempat transit perjalanan ajaib Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dari bumi ke langit ketujuh, terlebih di tempat itu pula Rasulullah mengimami ruh para nabi dan rasul.

Namun, sejumlah peristiwa yang terjadi di Baitul Maqdis menunjukkan, betapa penting dan sakralnya kedudukan kiblat pertama umat Islam tersebut. Menunjukkan pula bahwa Al-Aqsa adalah salah satu harta paling berharga umat Islam yang harus berada di tangan kepemimpinan Muslimin secara mutlak.

Baitu Maqdis yang kini dikuasai oleh kaum Yahudi, adalah hak umat Islam dunia dan kaum muslimin berkewajiban untuk mengambil kembali miliknya, yang dirampas secara licik oleh orang-orang kafir. (A/RI-1/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)