Al-Azhar Serukan Deklarasi 2018 “Tahun Bela Al-Quds”

(Foto: Egypt Today)

Kairo, MINA – Imam Besar Al-Azhar Sheikh Ahmed Al-Tayyib pada hari Rabu (17/1) meminta dunia Arab dan Muslim untuk mendeklarasikan 2018 sebagai “Tahun Bela Al-Quds”.

Sheiikh Al-Tayyib menyatakannya dalam sebuah pidato di Konferensi Internasional Al-Azhar dalam Mendukung Kota Al-Quds (Yerusalem) di Kairo, demikian laporan Kantor Berita Palestina WAFA.

Dia menjelaskan, konferensi yang diadakan dua hari pada 17-18 Januari 2018 itu, bertujuan menekankan perlunya menghadapi “kekejaman kaum barbar Zionis Israel abad ke-21”, melalui kebijakan-kebijakan internasional.

Syaikh Al-Tayyib juga mendesak Negara-negara Liga Arab dan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) untuk mendukung Kota Al-Quds melalui pengorganisasian kegiatan budaya dan media untuk meningkatkan kesadaran tentang kota suci tersebut.

Sementara Sekretaris Jenderal Liga Arab Ahmed Aboul Gheit mengatakan dalam pidatonya di konferensi tersebut, Kota Al-Quds bukan hanya komponen geografis tanah, tapi merupakan bagian dari identitas emosional setiap orang Arab.

Dia mengecam keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk memindahkan Kedutaan Besar AS di Tel Aviv ke Yerusalem dan mengakui kota tersebut sebagai ibu kota Israel.

“Perdamaian akan tercapai hanya ketika Yerusalem Timur dibebaskan dan berdaulat … Para menteri Arab menyetujui sebuah rencana pada tanggal 9 Desember tahun lalu untuk melawan keputusan AS,” katanya.

Aboul Gheit memuji orang-orang Yerusalem dan ketabahan mereka melawan pendudukan brutal dan tindakannya, menunjukkan bahwa Israel memiliki rencana sistematis untuk meminggirkan kehadiran orang Arab di kota itu.

Dia menyerukan untuk memobilisasi bantuan keuangan untuk mendukung Yerusalem dan rakyatnya melalui sebuah rencana tindakan sistematis untuk mendorong kehadiran mereka dan memperkuat perjuangan mereka melawan usaha-usaha Israel.

Konferensi dua hari tersebut disponsori oleh Presiden Mesir Abdel Fattah Al-Sisi dan diselenggarakan oleh Al-Azhar, institusi tertinggi otoritas Islam.

Konferensi yang mempertemukan para ulama Muslim dan Kristen terkemuka serta tokoh politik dari 86 negara itu, bercita-cita untuk meningkatkan kesadaran tentang Yerusalem sehubungan dengan perkembangan terakhir. (T/R01/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)