Al-Jazeera Tampilkan Gambar Peluru yang Membunuh Shireen Abu Akleh

Al Jazeera menampilkan gambar peluru yang digunakan untuk membunuh wartawan Palestina Shireen Abu Akleh. Peluru kaliber 5,56 mm yang menurut para ahli dirancang untuk menembus baju anti peluru.(Foto: Al Jazeera)

Doha, MINA – Hasil investigasi oleh Al Jazeera telah memperoleh gambar peluru yang digunakan untuk membunuh wartawan Palestina Shireen Abu Akleh.

Dalam laporan Al Jazeera yang dikutip MINA, Jumat (17/6), menampilkan  untuk pertama kalinya foto menunjukkan jenis amunisi yang digunakan membunuh koresponden senior Al Jazeera di Tepi Barat yang diduduki bulan lalu.

Menurut ahli balistik dan forensik, peluru berujung hijau dirancang untuk menembus baju besi dan digunakan dalam senapan M4. Peluru tersebut berhasil dicabut dari kepalanya.

Peluru itu dianalisis menggunakan model 3D dan, menurut para ahli, mempunyai kaliber 5,56mm – sama dengan yang digunakan oleh pasukan Israel. “Peluru itu dirancang dan diproduksi di Amerika Serikat,” kata para ahli dilaporkan Al Jazeera.

Fayez Al-Dwairi, mantan mayor jenderal Yordania, mengatakan kepada Al Jazeera, senjata dan peluru yang digunakan untuk membunuh Abu Akleh biasanya dibawa oleh pasukan Israel.

“M4 dan amunisi ini digunakan oleh tentara Israel. Ini tersedia dan digunakan oleh unit militer. Saya tidak bisa mengatakan seluruh unit, atau sebagian besar tentara, tetapi mereka menggunakannya,” kata Al-Dwairi kepada Al Jazeera.

“Ketika tentara mana pun menggunakannya, dia menggunakannya untuk target yang pasti – dia ingin berburu, dia ingin membunuh … Tidak ada cara untuk menggunakannya untuk hal lain,” tambahnya.

Asisten Menteri Urusan Multilateral Palestina Ammar Hijazi mengatakan kepada Al Jazeera, peluru itu akan tetap berada di tangan pemerintah Palestina untuk penyelidikan lebih lanjut.

Abu Akleh, seorang koresponden TV yang sudah lama bertugas untuk Al Jazeera Arabic, terbunuh bulan lalu saat meliput serangan tentara Israel di kota Jenin.

Kasus Abu Akleh telah dikirim ke Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dan penyelidikan baru-baru ini diserahkan kepada jaksa ICC. Namun, status kasusnya masih belum jelas.

“Kami pikir ada cukup bukti dengan jaksa … yang membuktikan tanpa keraguan bahwa kejahatan yang dilakukan terhadap Shireen Abu Akleh dilakukan oleh pendudukan Israel dan mereka adalah pelaku kejahatan mengerikan ini dan mereka harus bertanggung jawab untuk itu,” kata hijazi.

Abu Akleh mengenakan rompi bertuliskan ‘PERS’ dan berdiri bersama wartawan lain ketika dia dibunuh.

Pihak berwenang Israel awalnya mengatakan pejuang Palestina bertanggung jawab atas kematiannya, beredar video pria Palestina menembak jatuh seseorang di sebuah gang. Namun, peneliti dari kelompok hak asasi manusia Israel B’Tselem menemukan tempat di mana cuplikan video itu difilmkan dan membuktikan bahwa tidak mungkin untuk menembak Abu Akleh dari sana.

Dalam sebuah wawancara, Omar Shakir, Direktur urusan Israel dan Palestina di Human Rights Watch, mengatakan, semua bukti menunjukkan bahwa tembakan membunuh itu berasal dari seorang tentara Israel.

Koordinator program MENA dari Komite Perlindungan Jurnalis Sherif Mansour,, mengatakan kepada Al Jazeera dari Washington, DC bahwa “pola” pembunuhan pekerja media Palestina “sudah dikenal luas”.

“Kami telah mendokumentasikan setidaknya 19 jurnalis yang terbunuh oleh tembakan Israel, beberapa dari mereka dalam perang Gaza di kendaraan yang bertanda tulisan ‘PERS’ pada 2012 dan 2014,” kata Mansour.

“Beberapa dari mereka juga dibunuh oleh penembak jitu Israel saat mengenakan rompi dengan tanda-tanda pers, jauh dari situasi yang mengancam, dua di antaranya pada tahun 2018. Jelas, kami memiliki masalah di sini tentang kebijakan pemicu bahagia yang memungkinkan ini berlanjut,” pungkasnya.(T/R1/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)