Al-Khodari Peringatkan Adanya Upaya Batalkan Mandat UNRWA

Yerusalem, MINA – Ketua Komite Rakyat Melawan Pengepungan (PCAS), MP Jamal Al-Khodari, pada Jumat (28/9) memperingatkan adanya upaya intensif yang dilakukan di PBB untuk membatalkan mandat Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB (UNRWA) yang memberikan bantuan pada pengungsi-pengungsi Palestina di dalam maupun di luar negeri.

Al-Khodari mengatakan, ini adalah bagian dari apa yang disebut “kesepakatan abad ini,” gagasan Aerika Serikat  yang dimulai dengan penangguhan sumbangan AS ke badan PBB itu, MEMO melaporkan.

Al-Khodari mencatat, ada upaya untuk membatalkan mandat UNRWA atau memberikan mandat “tidak lengkap”, mengurangi layanan yang ditawarkan kepada jutaan pengungsi Palestina.

“Membatalkan mandat UNRWA adalah bagian dari langkah mengakhiri bantuan untuk pengungsi Palestina,” ujarnya.

Ia memperingatkan negara-negara Arab dan Islam tentang rencana “bencana” ini dan menyerukan “upaya politik dan diplomatik yang mendesak di semua tingkatan untuk menghindari lebih banyak bencana pada Palestina.”

UNRWA memberikan pelayanan kepada lebih dari satu juta pengungsi di Jalur Gaza dan lebih dari lima juta di wilayah Lebanon, Suriah dan Yordania.

“Oleh karena itu, Majelis Umum PBB menuntut untuk memperpanjang mandat UNRWA tanpa perubahan dan harus membuka pintu bagi para anggotanya untuk membayar janji keuangan mereka agar organisasi internasional melaksanakan misinya,” pungkasnya.

UNRWA adalah badan PBB yang didirikan oleh Majelis Umum pada tahun 1949, dan diberi mandat untuk memberikan bantuan dan perlindungan kepada sekitar 5,4 juta pengungsi Palestina yang terdaftar di UNRWA, di lima bidang operasinya.

Misinya adalah untuk membantu para pengungsi Palestina di Yordania, Lebanon, Suriah, Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur dan Jalur Gaza, untuk mencapai potensi pengembangan manusia sepenuhnya, dengan menunggu solusi yang adil dan langgeng untuk nasib buruk mereka.

Layanan UNRWA mencakup pendidikan, perawatan kesehatan, bantuan dan layanan sosial, infrastruktur, pembuatan kemah, perlindungan dan keuangan mikro.

Organisasi itu saat ini menghadapi defisit 120 juta Dolar AS, karena kurangnya dukungan keuangan dibandingkan dengan meningkatnya permintaan untuk layanan. Ini adalah dampak dari pertumbuhan jumlah pengungsi Palestina yang terdaftar, tingkat kerentanan mereka dan kemiskinan mereka yang semakin dalam, di samping karena dihentikannya kucuram dana AS oleh Presiden Trump. (T/Ast/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)