Al-Quran dan Ilmu Pengetahuan Alam

Oleh Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency)

Al-Quran bukan hanya berbicara soal ketuhanan, syariat ibadah, akhlak, kemanusiaan dan lainnya, namun juga berbicara soal ilmu pengetahuan, termasuk Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Karenanya, jika di sebuah sekolah, sekolah Islam terpadu, pondok pesantren, apalagi tahfidz Al-Quran, ada mata pelajaran IPA. Itu sesungguhnya anak-anak didik sedang belajar Al-Quran. Tidak ada dikotomi ilmu agama dan ilmu umum karena hakikatnya semua ilmu datangnya dari Allah.

Sehingga pelajaran IPA bukan sekedar hafalan atau rumusan angka-angka, namun lebih dari itu, untuk menanamkan kepada anak-anak didik bahwa belajar IPA merupakan bagian dari belajar Al-Quran atau bagian dari Tahfidz Al-Quran. Sebab, alam semesta yang menciptakan ya Allah. Maka, ilmu yang pas untuk menegetahui rahasia alam dan upaya mengeksplorasinya untuk kemaslahatan manusia dan lingkungannya, ya adanya di dalam Al-Quran yang diturunkan dari Allah Sang Maha Pencipta.

Tujuannya agar selama mempelajari IPA itu sama maknanya dengan mengkaji turunan dari ayat-ayat Al-Quran. Sehingga nanti jika dengan izin Allah ada santri yang kemudian menjadi dokter, ya dokter yang hafidz Al-Quran, dokter yang memahami kandungan Al-Quran.

Juga jika menjadi insinyur, ahli farmasi, arsitek, dan lainnya yang berbasis IPA, itu maknanya adalah pengamalan Al-Quran. Dia akan selalu menyertakan nilai-nilai Al-Quran dalam pekerjaannya.

Berikut beberapa di antara ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

1. Surat Ali Imran ayat 190

إِنَّ فِى خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَـٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّہَارِ لَأَيَـٰتٍ۬ لِّأُوْلِى ٱلۡأَلۡبَـٰبِ (١٩٠) ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَـٰمً۬ا وَقُعُودً۬ا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَڪَّرُونَ فِى خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَـٰذَا بَـٰطِلاً۬ سُبۡحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ (١٩١)

Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi [seraya berkata]: “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali Imran [3]: 190).

Isi Kandungan Surat Ali Imran ayat 190-191 ini adalah sebagai pembuktian tentang tauhidullah di satu sisi dan kekuasaan Allah atas hukum-hukum alam.

Untuk dapat men-tadabburi (menghayati) kekuasan Allah pada penciptaan alam semesta, tidak dapat dipahami kecualin dengan berpikir (ulul albab).

Ayat ini juga menunjukkan bahwa sesungguhnya dalam penciptaan alam semesta, yakni kejadian benda-benda angkasa seperti matahari, bulan, dan jutaan gugusan bintang-bintang, terdapat tanda-tanda kemahakuasaan Allah bagi ulul albab, yakni orang-orang yang memiliki akal yang murni.

2. Surat Al-Anbiya Ayat 33

 وَهُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّہَارَ وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ‌ۖ كُلٌّ۬ فِى فَلَكٍ۬ يَسۡبَحُونَ

Artinya: “Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (QS Al-Anbiya [21]: 33).

Ayat ini berbicara tentang matahari, bumi, bulan dan planet-planet lain di jagad raya ini senantiasa bergerak berdasarkan garis edarnya masing-masing. Garis edar ini berbentuk elips.

Dalam pergerakannya, keseluruhan planet bersama masing-masing satelitnya akan bergerak mengelilingi matahari sebagai pusat tata surya di galaksi Bimasakti.

Selama pergerakan tersebut, tidak ada satupun dari benda-benda angkasa itu memotong lintasan yang lain, atau bertabrakan dengan lainnya. Bahkan, telah teramati bahwa sejumlah galaksi berpapasan satu sama lain tanpa satu pun dari bagian-bagiannya saling bersentuhan.

Semuanya itu dapat terjadi karena kekuasaan Allah sebagai pengatur segala sesuatu yang ada di muka bumi ini. Karena itu Allah adalah robbul ‘aalamiin (pemelihara semesta alam). 

3. Surat Yunus ayat 5-6

هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ ٱلشَّمۡسَ ضِيَآءً۬ وَٱلۡقَمَرَ نُورً۬ا وَقَدَّرَهُ ۥ مَنَازِلَ لِتَعۡلَمُواْ عَدَدَ ٱلسِّنِينَ وَٱلۡحِسَابَ‌ۚ مَا خَلَقَ ٱللَّهُ ذَٲلِكَ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ‌ۚ يُفَصِّلُ ٱلۡأَيَـٰتِ لِقَوۡمٍ۬ يَعۡلَمُونَ (٥) إِنَّ فِى ٱخۡتِلَـٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّہَارِ وَمَا خَلَقَ ٱللَّهُ فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ لَأَيَـٰتٍ۬ لِّقَوۡمٍ۬ يَتَّقُونَ (٦)

Artinya: “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah [tempat-tempat] bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan [waktu]. Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda [kebesaran-Nya] kepada orang-orang yang mengetahui. () Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda [kekuasaan-Nya] bagi orang-orang yang bertakwa.” () (QS Yunus [10]: 5-6).

Ayat berbicara tentang adanya rotasi dan revolusi planet bumi, maka akan menghasilkan waktu bulan dan tahun. Salah satu akibat dari rotasi bumi itu adalah terjadinya pergantian siang dan malam di berbagai belahan bumi.

4. Surat Ar-Ruum Ayat 48

ٱللَّهُ ٱلَّذِى يُرۡسِلُ ٱلرِّيَـٰحَ فَتُثِيرُ سَحَابً۬ا فَيَبۡسُطُهُ ۥ فِى ٱلسَّمَآءِ كَيۡفَ يَشَآءُ وَيَجۡعَلُهُ ۥ كِسَفً۬ا فَتَرَى ٱلۡوَدۡقَ يَخۡرُجُ مِنۡ خِلَـٰلِهِۦ‌ۖ فَإِذَآ أَصَابَ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۤ إِذَا هُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ

Artinya: “Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira.” (QS Ar-Ruum [30]: 48).

Ayat ini berbicara tentang bagaimana kekuasaan Allah mengirimkan angin, lalu angin itu mengenai awan, dan tejadilah hujan dari celah-celahnya.

Lalu manusia bergembira menerima hujan itu, apalagi jika sudah lama musim kemarau tak kunjung hujan. 

5. Surat Al-Ghasyiyah Ayat 17-20

أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى ٱلۡإِبِلِ ڪَيۡفَ خُلِقَتۡ (١٧) وَإِلَى ٱلسَّمَآءِ ڪَيۡفَ رُفِعَتۡ (١٨) وَإِلَى ٱلۡجِبَالِ كَيۡفَ نُصِبَتۡ (١٩) وَإِلَى ٱلۡأَرۡضِ كَيۡفَ سُطِحَتۡ (٢٠)

Artinya; “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, (17) Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? (18) Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? (19) Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (20). (QS Al-Ghasyiyah [88]: 17-20).

Ayat-ayat tersebut berbicara tentang bagaimana kekuasaan alam menciptakan binatang unta (Biologi), langit, gunung dan bumi (Geografi).

Dengan mentadabburi ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan Ilmu Pengetahuan Alam ini, dan masih banyak lagi, akan dapat menjadi landasan bagi anak-anak didik untuk terus belajar IPA karena Allah. Sehingga kelak jika Allah beri wewenang dan kekuasaan untuk menguasai alam dan kandungannya, maka akan dapat digunakan untuk kesejahteraan umat dan untuk pengabdiannya kepada Allah. (A/RS2/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)

Comments are closed.