Al Quran Petunjuk untuk Hidup Bahagia

Oleh Bahron Ansori, jurnalis MINA

Siapa pun manusianya. Apa pun agama, pekerjaan, dan sukunya, maka semua pasti ingin mendapat dan merasakan hidup bahagia. Karena itu, hampir tak pernah ada manusia yang hidup di muka bumi ini yang tak menginginkan hidupnya bahagia. Tapi yang menjadi catatan adalah bagaimana jalan untuk meraih kebahagiaan itu. Setiap orang tentu punya cara masing-masing untuk meraih bahagia sesuai dengan paradigmanya tentang definisi bahagia itu sendiri.

Bagi seorang muslim, untuk menjadi dan merasakan kebahagiaan dalam  hidup, maka sudah jelas panduan dan pedomannya: Al Quran. Ya, Al Quran adalah petunjuk (hudan) bagi setiap manusia secara umum (bukan hanya muslim) untuk meraih kebahagiaan dunia bahkan akhirat. Al Quran adalah rahmat bagi orang yang mencari rahmat-Nya. Al Quran pemberi peringatan bagi orang-orang yang mencari peringatan, dan lain-lain.

Masalahnya, jika Al Quran itu sudah jelas di depan mata, berapa banyak manusia yang mau segera mempelajarinya, menghayati (tadabbur), dan mengamalkannya dalam kehidupan ini. Tentu saja, Al Quran bukan kitab klasik masa lalu yang hanya dikramatkan dan disimpan rapi di dalam lemari. Al Quran bukan pula pajangan yang tertata rapi di lemari perpustakaan pribadi. Tapi Al Quran adalah harta termahal bagi seorang muslim yang bisa menjadi investasi kebahagiaan dalam hidup di dunia fana ini dan keberuntungan di akhirat.

Fungsi lain dari Al Quran adalah sebagai pemberi kabar gembira bagi orang-orang yang meyakini bahwa satu-satunya Tuhan di jagat raya ini adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Al Quran menjadi inspirasi bagi setiap orang yang lurus akidah dan tulus hatinya dalam mentauhidkan Allah Ta’ala. Selain itu, Al Quran juga memberikan informasi tentang asal mula manusia dari mana ia berasal, bagaimana proses penciptaannya dan kelak kemana akan kembali. Semua keajaiban Al Quran itu hanya bisa dipahami oleh mereka yang memiliki iman yang lurus di dadanya.

Banyak dalil tentang Al Quran sebagai pedoman terutama bagi setiap orang beriman untuk meraih kebahagiaan sebenar-benarnya (hakiki). Berikut adalah beberapa sumber dalil dari Al Quran dan al Hadis yang meyakinkan setiap muslim betapa Al Quran adalah sumber dari segala sumber dalam meraih kebahagiaan sesungguhnya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Qs. Al Baqarah ayat 2),

Juga firman-Nya:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (Qs. Al Baqarah ayat 185).

Kedua ayat di atas menyebutkan secara jelas bahwa al Quran berfungsi sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa (huda lil muttaqin), yakni orang-orang yang memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya; juga sekaligus menjadi petunjuk bagi manusia secara umum (huda linnaas).

Bagaimana pengertian masing-masing dan di mana letak persamaan dan perbedaannya? Dalam Tafsir Jalalain diterangkan bahwa Al Quran merupakan petunjuk manusia dari kesesatan, merupakan penjelasan yang mengantarkan kepada hukum-hukum yang benar, dan merupakan pembeda yang membedakan antara yang kebenaran (haq) dan kesalahan/keburukan (batil).

Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memuji Al Quran sebagai petunjuk hati (qalbu) manusia bagi yang mengimaninya, membenarkannya, dan mengikutinya. Juga sebagai dalil-dalil dan hukum (hujjah) yang jelas dan nyata bagi yang memahami dan menghayati (mentadabburi)nya.

Sementara Imam As Syaukani dalam tafsirnya Fathul Qadir menerangkan bahwa al Quran adalah petunjuk bagi manusia (huda linnaas), dan juga penjelasan-penjelasan (bayyinnaat) yang khusus tentang hukumnya, baik yang ayat al Quran yang jelas maknanya (muhkam) maupun ayat yang masih harus dicari makna dan tafsirnya (mutasyabih), juga sebagai al furqan yakni pemutus perkara yang haq dan yang batil.

Siapa pun yang berpegang teguh kepada al Quran, maka hidupnya akan mendapatkan kebahagiaan. Seperti disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Telah aku tinggalkan untuk kalian, dua perkara yang kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya; Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Imam Malik).

Bahkan, bagi siapa saja dari kaum muslimin yang mampu membaca dan mengamalkan kandungan al Quran sesuai yang dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabat, maka Allah Ta’ala akan memberikan syafaat (pertolongan) kepada kedua orang tuanya dengan memakaina mereka mahkota.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, Siapa yang membaca Al-Qur’an dan melaksanakan apa yang terkandung di dalamnya (mengamalkannya), maka kedua orang tuanya pada hari kiamat nanti akan dipakaikan mahkota yang sinarnya lebih terang dari pada sinar matahari di dalam rumah-rumah didunia, jika matahari tersebut ada diantara kalian, maka bagaimana perkiraan kalian dengan orang yang melaksanakan isi Al Qur’an?” (HR. Abu Daud).

Jadi intinya, tak ada jalan untuk menggapai kebahagiaan hidup bagi seseorang atau seorang muslim kecuali ia benar-benar menjadikan al Quran sebagai pedoman dalam hidupnya, membacanya, mentadabburinya, dan berusaha sekuat tenaga untuk mengamalkan kandungannya. Dengan begitulah al Quran akan terasa manfaatnya bagi setiap orang yang mengaku sebagai muslim.

Al Quran sejatinya bukan hanya diucapkan sebagai pengakuan kitab suci saja. Al Quran seharusnya bukan menjadi bacaan yang harus dinomorduakan. Al Quran jangan pula dianggap sebagai kitab suci yang hanya berkisah tentang para nabi dan rasul. Al Quran tidak pula hanya diletakkan tergeletak begitu saja di rak-rak buku kita. Tapi al Quran, harus didekati, dibuka, dibaca dan dikaji untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari agar petunjuk yang terkandung di dalamnya bisa menjadi jalan untuk meraih kebahagiaan hidup dunia akhirat. Wallahua’lam.(RS3/B05)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)