Aliyuddin Nasution, Tokoh Perintis Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wafat

Almarhum Aliyuddin Nuzlan Nasution (kedua dari kanan) foto bersama imam ketiga Jama'ah Muslimin (Hizbullah) KH Yakhsyallah Mansur (tengah) dan pembina Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) lainnya. (Foto: file MINA)

Bogor, MINA – Seorang tokoh perintis awal Jamaah Muslimin (Hizbullah) H. Aliyuddin Nuzlan Nasution meninggal dunia pada usia 61 tahun, Rabu malam (27/11).

“Telah meninggal dunia Bapak Aliyuddin Nuzlan Nasution bin Alwi Nasution, malam ini sekitar jam 21.40. WIB di RS Thamrin. Mohon doa para ikhwan dan akhwat semua…. Allahummagfir lahu Wa afihi wa fuanhu…. Mohon maaf atas segala kekhilafan dan kekurangan almarhum. terbaik di sisi Allah SWT,” demikian pesan singkat yang diterima MINA dari seorang menantu almarhum, Arif Rahman Siregar, Kamis pagi (28/11).

Dilahirkan di Jakarta, 7 April 1958, Aliyuddin semasa hidupnya tinggal di kompleks Pondok Pesantren Shuffah (Hizbullah), Cileungsi, Kabupaten Bogor.

Semasa hidupnya, Aliyuddin telah mengabdikan dan mewakafkan dirinya berkhidmat untuk Islam dan Muslimin, melaksanakan amanat dan selalu mendampingi imam kedua Jama’ah Muslimin (Hizbullah) alm. Muhyiddin Hamidy di masa hidupnya.

Hingga akhir hayatnya, ia masih aktif sebagai pembina lembaga tanggap darurat Ukhuwah Al Fatah Rescue (UAR), sebuah organisasi swadaya masyarakat yang berpusat di Cileungsi.

UAR didirikan oleh Imaam Muhyiddin Hamidy setelah terjadinya bencana tsunami 2004 di Provinsi Aceh.

Para petakziah segera berdatangan dari berbagai wilayah sekitar Jabodetabek, Lampung dan lainnya.

Jenazah dishalatkan di Masjid At-Taqwa Pondok Pesantren Shuffah (Hizbullah) Al-Fatah yang diimami oleh Ustaz Aji Muslim, sesama tokoh perintis awal Jama’ah Muslimin, yang dimakmumi oleh ratusan jamaah yang memenuhi masjid, termasuk para santri Al-Fatah.

“Almarhum termasuk perintis dalam Jama’ah sejak 1973, bahkan sebelum itu, ketika masih sekolah, sudah aktif, bahkan mengalami berbagai ujian yang tidak mudah. Enak dibaca tapi berat bagi yang menjalani. Bahkan saat dewasanya, almarhum ditarik Allahu yarham Muhyiddin Hamidy ke Jakarta (dari Lampung). Anak muda ini sangat loyal kepada imam dan tak kenal waktu, malam, siang, pagi, kapan pun rela melaksanakan tugas-tugas,” kata Ustaz Abul Hidayat Saerodji dalam tausiyah saat pemakaman.

Abul Hidayat termasuk tokoh awal ditetapinya kembali Jama’ah Muslimin (Hizbullah), wadah persatuan umat Islam seluruh dunia yang dipimpin oleh seorang imam sejak tahun 1953. (L/SK/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)