Aljazair: Pengelakan Prancis Mengakui Kejahatan Kolonialnya Tidak Akan Lama

21 Maret 1962: Tentara Prancis menggeledah seorang warga sipil di jalan Aljir, selama Perang Kemerdekaan Aljazair. (Foto oleh Central Press / Getty Images)

Aljir, MINA – Pemerintah Aljazair mengatakan, mengelaknya Prancis dari mengakui kejahatan kolonialnya tidak akan berlangsung lama, Anadolu Agency melaporkan.

“Pelarian Prancis dari mengakui kejahatan kolonialnya di Aljazair tidak bisa bertahan lama. Seorang penjahat biasanya melakukan segala kemungkinan untuk menghindari mengakui kejahatannya,” kata Menteri Penerangan Ammar Belhimer dalam pernyataan yang dirilis oleh harian pemerintah El-Massa, Senin (8/2).

Belhimer juga menekankan bahwa kerja dan komunikasi antara Aljazair dan Prancis akan terus berlanjut untuk lebih banyak pencapaian, yang paling penting adalah pencapaian moral, yaitu pengakuan atas kejahatan kolonial Prancis.

Pernyataan Belhimer adalah reaksi resmi pertama dua pekan setelah Prancis mengeluarkan laporan tentang kolonisasi Aljazair dari tahun 1830 hingga 1962, yang memicu kecaman luas di Aljazair karena mengabaikan “kejahatan kolonial”.

Pada 20 Januari, sejarawan Prancis Benjamin Stora menyampaikan laporan tentang era kolonial Aljazair kepada Presiden Prancis Emmanuel Macron. Media Prancis mengutip pernyataan Istana Elysee: “Laporan itu tidak berarti mengambil langkah menuju permintaan maaf ke Aljazair.”

Otoritas dan sejarawan Aljazair mengatakan, periode ini menyaksikan pembunuhan hampir 5 juta orang, serta operasi pemindahan dan penjarahan kekayaan, serta pencurian ribuan dokumen dan artefak, beberapa di antaranya berasal dari era Ottoman (1515-1830).

Pejabat Prancis pada beberapa kesempatan menegaskan kembali perlunya membalik halaman baru dalam hubungan, tetapi Aljazair berulang kali menuntut pengakuan resmi dari Paris atas kejahatan kolonial. (T/RI-1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)