Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Amal Baik vs Amal Banyak: Rahasia Hidup Bermakna Menurut QS. Al-Mulk Ayat 2

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - 53 detik yang lalu

53 detik yang lalu

0 Views

Al-Mulk ayat 2 mengingatkan kita bahwa bukanlah banyaknya amal yang menentukan, melainkan kebaikan dan kualitas amal itu sendiri.(foto: ig)

HIDUP manusia dipenuhi dengan kesibukan dan rutinitas, tapi pernahkah kita berhenti sejenak bertanya, “Apakah semua amal yang kita lakukan benar-benar bernilai di hadapan Allah? Qs. Al-Mulk ayat 2 mengingatkan kita bahwa bukanlah banyaknya amal yang menentukan, melainkan kebaikan dan kualitas amal itu sendiri.

Sebuah amal kecil yang ikhlas bisa lebih berat di timbangan Allah dibandingkan amal besar yang penuh riya’. Mari kita menelusuri makna ayat ini, agar hidup kita lebih bermakna dan setiap langkah amal menjadi cahaya di akhirat. Allah Ta’ala berfirman,

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ ٢

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Tadabbur dan Kajian Tafsir

Baca Juga: 9 Fakta Mengejutkan: Tanda-Tanda Zionis Israel Menuju Kehancuran

Ayat ini membuka kesadaran kita bahwa kematian dan kehidupan bukanlah sesuatu yang terjadi tanpa tujuan. Allah Ta’ala menciptakan keduanya sebagai medan ujian, bukan sekadar perjalanan singkat. Hidup bukan hanya untuk mengumpulkan sebanyak mungkin amal lahiriah, tetapi untuk menimbang kualitas amal yang kita lakukan. Di sinilah terletak rahasia: Allah tidak mengatakan “ayyakum aktsaru ‘amalan” (siapa yang paling banyak amalnya), melainkan “ayyakum ahsanu ‘amalan” (siapa yang paling baik amalnya).

Perbedaan ini sangat mendasar. Banyak amal tidak menjamin nilai di sisi Allah, sedangkan amal baik, meski sedikit, memiliki bobot yang besar. Seorang ulama tafsir, Fudhail bin ‘Iyadh, menegaskan bahwa “ahsanu ‘amalan” adalah amal yang paling ikhlas dan paling benar. Ikhlas artinya hanya untuk Allah, benar artinya sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Inilah standar kualitas amal yang menjadi tujuan hidup.

Bayangkan seseorang yang menghabiskan siang dan malamnya dengan kesibukan ibadah, namun niatnya bukan karena Allah, melainkan karena ingin dipuji manusia. Maka semua itu gugur di hadapan Allah. Sebaliknya, seorang hamba yang memberi seteguk air kepada orang kehausan dengan ikhlas bisa mendapat ampunan Allah dan surga-Nya. Kualitas amal lebih menentukan daripada banyaknya.

Kehidupan ini adalah ujian kualitas, bukan kuantitas. Allah ingin melihat apakah manusia hidup dengan kesadaran penuh, dengan hati yang terhubung kepada-Nya, dan dengan amal yang benar-benar mencerminkan ketaatan. Amal sedikit namun terjaga dari riya’ dan bid‘ah lebih berharga daripada amal sebanyak gunung tetapi penuh kepura-puraan.

Baca Juga: Kementerian Haji dan Umrah, Antara Harapan dan Kekhawatiran

Dalam dunia nyata, banyak orang mengejar angka—angka prestasi, angka harta, angka amal. Namun ayat ini mengajarkan kita untuk melampaui angka dan fokus pada makna. Seperti seorang pelajar yang bukan sekadar banyak menulis jawaban, tapi benar dan tepat, demikian pula seorang hamba Allah harus memastikan amalnya benar dan ikhlas.

Amal baik adalah amal yang membawa perubahan hati, mendekatkan diri kepada Allah, menumbuhkan rasa takut dan cinta kepada-Nya, serta meninggalkan maksiat. Banyak amal tanpa ruh bisa menjadikan hati keras, merasa bangga, bahkan meremehkan orang lain. Maka kualitas amal selalu lebih tinggi nilainya.

Allah Ta’ala menutup ayat ini dengan sifat-Nya “Al-‘Aziz” (Maha Perkasa) dan “Al-Ghafur” (Maha Pengampun). Ini isyarat bahwa amal baik membutuhkan kesadaran akan kekuasaan Allah yang mutlak, sekaligus harapan kepada ampunan-Nya. Kita beramal dengan takut akan murka-Nya, tapi juga berharap pada rahmat-Nya. Amal baik lahir dari keseimbangan antara khauf (takut) dan raja’ (harap).

Seringkali kita mengukur diri dengan amal banyak. Kita merasa puas dengan rutinitas ibadah yang bertumpuk, namun lupa bertanya: apakah semua itu benar-benar ikhlas? Apakah sesuai sunnah Rasulullah SAW? Ayat ini mengetuk kesadaran bawah sadar kita agar berhenti dari kesombongan kuantitas dan mulai merenungi kualitas.

Baca Juga: Israel Raya: Mimpi di Siang Bolong yang Menelan Negeri Lain

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa ada orang yang kelak di hari kiamat membawa amal sebanyak gunung Tihamah, namun semuanya terhapus karena ia tidak melakukannya dengan keikhlasan. Betapa menakutkan jika ternyata amal yang kita banggakan di dunia hanyalah debu yang berterbangan di hadapan Allah.

Hidup yang sebentar ini terlalu berharga jika dihabiskan dengan amal yang salah arah. Allah tidak menuntut kita menjadi manusia dengan amal terbanyak, tetapi menuntut kita untuk menjadi hamba dengan amal terbaik. Amal terbaik lahir dari hati yang lurus, niat yang murni, dan kesesuaian dengan tuntunan wahyu.

Karena itu, setiap kali kita beramal, mari bertanya pada diri sendiri, “Apakah aku melakukannya karena Allah? Apakah amal ini sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW?” Jika jawabannya ya, maka meski kecil, ia menjadi cahaya di akhirat. Jika jawabannya tidak, maka sebesar apapun, amal itu bisa menjadi beban.

Qs. Al-Mulk ayat 2 adalah alarm yang membangunkan kita dari tidur panjang. Ia mengajarkan bahwa hidup ini bukan lomba memperbanyak amal tanpa arah, tetapi lomba mempersembahkan yang terbaik kepada Allah. Maka mari kita ubah orientasi: dari banyak amal menjadi baik amal. Dari sekadar rutinitas menjadi kualitas. Dari sekadar gerakan lahiriah menjadi penghambaan yang hakiki.[]

Baca Juga: Meneguhkan Janji Kemerdekaan Palestina Dari Sumud Nusantara ke Solidaritas Global

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Baca Juga: Ziarah ke Masjidil Aqsa Tanda Kedalaman Iman

Rekomendasi untuk Anda