Amalan-Amalan Sunnah di Bulan Syawwal

oleh: Abu Abdullah Faqih, Da’i tinggal di Jakarta

بسم الله الرحمن الرحيم

Setelah menjalani Bulan Ramadhan dengan serangkaian amal ibadah, sekarang kita memasuki bulan Syawal. Pada bulan inilah Allah menganugerahkan perayaan Idul Fitri. Peringatan ini dianggap sebagai ganjaran Allah atas keberhasilan menyelesaikan Ramadhan.

Perkataan “Syawal” berasal dari kata Arab, yaitu syala yang berarti irtafa’a, naik atau meninggi. Orang Arab biasa berkata, syala al-mizan (naik timbangan), idza irtafa’a (apabila ia telah meninggi).

Mengapa bulan setelah Ramadan itu dinamai Syawal, bulan yang naik atau meninggi? Ada dua alasan yang dapat dikemukakan, yaitu:

Pertama, karena derajat kaum Muslim meninggi di mata Allah. Hal ini disebabkan mereka mendapat pengampunan (maghfirah) dari Allah setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan. Sebagaimana sabda Rasulullah,“Barang siapa berpuasa di bulan Ramadan karena iman dan tulus kepada Allah, maka dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah.”

Kedua, karena secara moral dan spiritual, kaum Muslim harus mempertahankan dan meningkatkan nilai-nilai amaliah Ramadan pada bulan ini dan bulan-bulan berikutnya hingga datang Ramadan tahun depan.

Berikut ini adalah amalan-amalan sunnah di bulan syawal sehingga kaum Muslimin tetap bisa mempertahankan suasana Ramadhan di bulan-bulan berikutnya.  Amalan-amalan tersebut antara lain adalah :

1. Shalat Idul Fitri dan Mendengarkan Khutbah

Sholat Ied dan Khotbah kedudukannya sunnah mu’akkad yaitu sangat di anjurkan, sesuai hadits dari Ummu ‘Athiyah, beliau berkata,

أَمَرَنَا – تَعْنِى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- – أَنْ نُخْرِجَ فِى الْعِيدَيْنِ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami pada saat shalat ‘ied (Idul Fithri ataupun Idul Adha) agar mengeluarkan para gadis (yang baru beanjak dewasa) dan wanita yang dipingit, begitu pula wanita yang sedang haidh. Namun beliau memerintahkan pada wanita yang sedang haidh untuk menjauhi tempat shalat.”

2. Bersilaturahim

Silaturrahim adalah salah satu perintah Allah dan Rasulnya yang memiliki banyak keutamaan dan kebaikan yang harus diburu oleh muslimin, Allah berfirman:

وَالَّذِيْنَ يَصِلُوْنَ مَآ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ اَنْ يُّوْصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُوْنَ سُوْۤءَ الْحِسَابِۗ

“Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk. (QS. Ar Ra’du: 21)

Silaturahmi juga mendatangkan banyak manfaat, baik secara individu maupun masyarakat, antara lain:

3. Dilapangkan Rezeki

عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Dari Ibnu Syihab dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa ingin lapangkan pintu rizqi untuknya dan dipanjangkan umurnya hendaknya ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari)

4. Tanda Orang Beriman

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia menyambung tali silaturrahmi, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari)

5. Bersedekah

Anjuran bersedekah sebenarnya tidak memerlukan waktu tertentu akan tetapi memanfaatkan momentum yang tepat untuk menyalurkannya kepada sesama muslim dan selainnya.

Bagaimana sikap sahabat dan sahabiyah saat mendengar seruan sedekah pada khutbah Idul Fitri? Benar-benar menakjubkan.

عن ابن عباس قال : خرجت أنا و الحسن و الحسين و أسامةبن يزيد يوم فطر وخرج رسول الله صلى الله عليه و سلم إلى المصلى فصلى بنا ثن خطب صلى الله عليه و سلم فقال : يا أيها الناس إن هذا يوم صدقة فتصدقوا قال : فجعل الرجل ينزع خاتمه والرجل ينزع ثوبه و بلال يقبض حتى إذا لم ير أحدا يعطي شيئا تقدم إلى النساء فقال : يامعشر النساء إن هذا يوم صدقة فتصدقن فجعلت المراة تنزع خرصها وخاتمها وجعلت المرأة تنزع خلخالها و بلال يقبض حتى إذا لم ير أحدا يعطي شيئا أقبل بلال وأقبلنا

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Aku keluar bersama Hasan, Husain dan Usamah bin Zaid pada hari raya Idul Fitri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun keluar menuju tempat shalat dan shalat bersama kami. Kemudian, beliau berkhutbah seraya bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya ini adalah hari untuk bersedekah maka bersedekahlah kalian.” Ibnu Abbas berkata, “Lalu, ada laki-laki yang melepaskan cincinnya dan ada juga yang melepaskan bajunya, sedangkan Bilal tidak melepas apa pun. Hingga tak ada seorang pun memberi lagi, beliau maju dan bersabda kepada kaum wanita, “Wahai para wanita, sungguh hari ini adalah hari bersedekah maka bersedekahlah kalian.” Seketika ada wanita yang melepas kalung dan cincinnya. Seorang wanita lain melepas gelang kakinya. Bilal diam hingga tak ada orang yang memberi sesuatu. Bilal datang menyeru dan kami pun datang. (HR. Ibnu Hibban)

6. Puasa Enam Hari

Puasa syawal setelah hari raya sangat dianjurkan karena bisa menghapus dosa satu tahun.

Keutamaan dari puasa Syawal tersebut disebutkan dalam hadist di bawah ini.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْر

Artinya: “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka baginya (pahala) puasa selama setahun penuh.” (HR Muslim).

Perumpamaan dari ibadah puasa Syawal ini adalah seperti melakukan puasa tiada henti. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadist riwayat Muslim, yaitu:

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الأَنْصَارِيِّ، – رضى الله عنه – أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ “‏ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ ‏”

Artinya: Abu Ayyub al-Ansari (semoga Allah SWT ridho atasnya) melaporkan Rasulullah SAW berkata, “Dia yang berpuasa selama Ramadhan dan melanjutkannya dengan enam hari puasa saat bulan Syawal akan seperti melakukan puasa terus menerus.” (HR Muslim).

7. Menjaga Amalan Ramadhan

Ibadah yang sering kita laksanakan pada bulan suci Ramadhan hendaknya ditingkatkan dan dilanjutkan dibulan syawal serta dibulan- bulan berikutnya antara lain membaca Qur’an dan Qiamul lail karena ini perintah Allah dan Rasulnya.

8. Membaca Al-Quran

Sementara itu, di sebuah hadist qudsi disebutkan, orang yang sibuk membaca Al-Quran dan tak sempat membaca dzikir yang lain tetap akan mendapatkan balasan terbaik. Bahkan, melebihi balasan mereka yang meminta. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Sa’id dari Rasulullah SAW, Allah SWT berfirman:

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى مَنْ شَغَلَهُ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ عَنْ ذِكْرِي وَمَسْأَلَتِي أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ ثَوَابِ السَّائِلِينَ وَفَضَلُ الْقُرْآنِ عَلَى سَائِرِ الْكَلَامِ كَفَضْلِ اللَّهِ عَلَى خَلْقِهِ

“Allah berfirman, ‘Siapa saja yang disibukkan oleh membaca Al-Qur’an, hingga tak sempat dzikir yang lain kepada-Ku dan meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya balasan terbaik orang-orang yang meminta. Ingatlah, keutamaan Al-Qur’an atas kalimat-kalimat yang lain seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya,” (HR. Al-Baihaqi).

9. Sholat Tahajjud

Berikut dibawah ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menyerukan shalat tahajud di ayat-ayat Al Quran. Surat Al Isra Ayat 79

وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا

Artinya: “Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”

10. Melangsungkan Walimatul Ursy

‘Aisyah radiallahu ‘anha menceritakan,

تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللهِ فِي شَوَّالٍ، وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ، فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللهِ كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّي؟، قَالَ: ((وَكَانَتْ عَائِشَةُ تَسْتَحِبُّ أَنْ تُدْخِلَ نِسَاءَهَا فِي شَوَّالٍ))

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahiku di bulan Syawal, dan membangun rumah tangga denganku pada bulan syawal pula. Maka isteri-isteri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam yang manakah yang lebih beruntung di sisinya dariku?” (Perawi) berkata, “Aisyah Radiyallahu ‘anhaa dahulu suka menikahkan para wanita di bulan Syawal” (HR. Muslim).

Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam menikahi ‘Aisyah di bulan Syawwal adalah untuk menepis anggapan bahwa menikah di bulan Syawwal adalah kesialan dan tidak membawa berkah. Ini adalah keyakinan dan aqidah Arab Jahiliyah. Ini tidak benar, karena yang menentukan beruntung atau rugi hanya Allah Ta’ala.

11. Shalat Berjamaah di Masjid

Ketika Ramadhan, umat Islam sangat bersemangat untuk memakmurkan masjid dengan shalat berjamaah dan tarawih. Kini selepas Ramadhan, kebiasaan baik itu hendaknya tetap di pertahankan.

Umat Muslim yang menegakkan shalat, tentu mendapat berbagai rahmat kebaikan dari Allah. Terlebih lagi, bagi umat muslim yang rajin mengerjakan shalat secara berjamaah di masjid. Tentu ini menjadi amalan baik dengan pahala yang berlipat ganda, dibandingkan shalat yang dikerjakan secara mandiri di rumah.

Rasulullah Shallallahu alahi Wasalam pernah memberikan peringatan kepada orang Islam yang enggan menegakkan shalat berjamaah di masjid, sebagaimana hadits dari Imaam Muslim:

“Demi jiwaku yang berada dalam kekuasaan-Nya, sungguh aku bertekad menyuruh mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku suruh seorang adzan untuk sholat dan seseorang untuk mengimami manusia, kemudian aku pergi kepada orang-orang yang tidak ikut sholat, kemudian aku bakar rumah mereka”

Wallahu A’lam bisshowaab. (A/P2/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)