Anak antara Amanah dan Fitnah

Oleh : Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita Islam MINA

Kehadiran anak dalam sebuah rumah tangga merupakan pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia yang dikehendaki-Nya. Allah menciptakan apa-apa yang Ia kehendaki dan memberikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki.

Allah menyatakannya sendiri di dalam ayat:

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ ( ) أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ ( )

Artinya : “Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya), dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS Asy-Syuura [42] : 49-50).

Dari ayat yang mulia ini kita mengetahui berbedanya pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia tentang anak menjadi empat bagian.

Pertama : Sebagian manusia Allah berikan kepada mereka hanya mendapat anak-anak perempuan saja, tidak mempunyai anak-anak laki-laki atau kedua-keduanya. Selama hidupnya mereka tidak mendapat anak laki-laki walaupun anak laki-laki itu selalu menjadi impian mereka, terutama sebagai penerus ayahnya di tengah masyarakat.

Kedua : Sebagian lagi Allah berikan kepada mereka hanya anak laki-laki saja, tidak punya anak perempuan atau kedua-duanya. Selama hidup mereka tidak pernah melihat anak perempuan lahir di tengah-tengah mereka walaupun mereka sangat megharapkan kehadirannya, terutama sebagai teman ibunya membantu tugas-tugas rumah.

Ketiga : Sebagian yang lain Allah berikan kepada mereka anak laki-laki juga anak-anak perempuan, maka terwujudlah apa yang selama ini mereka dambakan. Seolah-olah telah sempurnalah kehidupan berumah tangga. Ada penerus ayahnya, dan ada pendamping ibunya.

Keempat : Sebagian manusia lain hidup di dalam kehampaan, kesunyian dan kesepian. Mereka tidak mendengar suara anak-anak di rumahnya. Mereka tidak mendengar kecuali suara mereka berdua saja. Sepasang suami-isteri yang selama hidupnya tidak pernah mendengar jeritan dan tangisan seorangpun bayi laki-laki maupun perempuan yang terlahir dari mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa belum atau tidak memberikan kepada mereka seorangpun anak. Walaupun segala cara sudah ditempuh, dan berbagai jenis obat atau ramuan sudah dicoba.

Itulah pembagian anak dari Rabbul Alamin kepada manusia, sesuai dengan kehendak-Nya. Memberikan pelajaran bahwa hendaklah manusia selalu merasa ridha kepada pembagian anak yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada manusia yang dipilih-Nya. Ini karena memang Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui siapa yang berhak dan tidak berhak mendapatkannya. Dan Allah Maha Kuasa memberikan dan tidak memberikan.

Anak Adalah Perhiasan

Anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

Artinya : “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS Al Kahfi [18] : 46).

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya : Dari Abi Musa Al-Asy’ari : Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Apabila mati anak seorang hamba, Allah berfirman kepada para Malaikat-Nya, ‘Kamu telah ambil anak dari hamba-Ku?. Jawab mereka : ‘Ya’. Maka Allah berfirman : ‘Kamu telah ambil buah hatinya?’ Mereka menjawab : ‘Ya’. Maka Allah berfirman : ‘Apa yang diucapkan hamba-Ku?’ Jawab mereka : ‘Ia memuji Engkau dan istirja‘. Maka Allah berfirman ; ‘Bangunkanlah untuk hamba-Ku satu rumah di surga dan namakanlah rumah tersebut dengan baitul hamdi (rumah pujian)’. (HR At-Tirmidzi).

Anak Adalah Amanah

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS Al-Anfal [8] : 27).

Para ulama membagi amanah itu menjadi 3 (tiga) :

  1. Amanat kepada dirinya sendiri.

Menurut Ar-razi, termasuk dalam hal ini adalah amanat dalam memilih yang baik bagi dirinya untuk kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Termasuk menuntut ilmu, bermata pencaharian, tidak menganggur, menjaga kesehatan, berobat kalau sakit, menjaga diri dari penyakit menular dan segala hal yang merusak tubuh.

  1. Amanat kepada sesama manusia.

Termasuk menyampaikan kiriman pada yang berhak, menyimpan titipan sampai yang punya datang meminta, menyimpan rahasia, menjaga hubungan silaturahim, mentaati undang-undang, memelihara keamanan rakyat dan sebagainya.

  1. Amanat manusia kepada Tuhannya.

Berupa : menjalankan syariat-Nya, mengamalkan kandungan Al-Quran dan As-Sunnah. Amanat inilah yang disinggung dalam firman Allah.

لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْءَانَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya : “Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (QS Al-Hasyr [59] : 21)

Anak Merupakan Fitnah

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Artinya : “Dan ketahuilah! Sesungguhnya harta-harta kamu dan anak-anak kamu adalah fitnah (ujian/cobaan bagi kamu). Dan sesungguhnya Allah di sisi-Nya-lah ada ganjaran yang besar” (QS Al-Anfal [8] : 28).

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Artinya : “Hanya saja harta-harta kamu dan anak-anak kamu adalah fitnah (ujian/cobaan bagi kamu). Dan sesungguhnya Allah di sisi-Nya-lah ada ganjaran yang besar” (QS Ath-Thaghaabun : 15)./

Anak merupakan fitnah atau ujian bagi setiap orang tua yang dapat membawa orang tua kepada kesenangan dunia dan akhirat apabila mereka mendidiknya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau akan membawa mereka kepada kesengsaraan dunia dan akhirat apabila orang tua itu mendidik anak-anaknya di jalan syaithan.

Namun demikian orang tua dan masyarakat tidak boleh merasa putus asa dalam mendidik anak sebagai fitnah. Terus arahkan, nasihati dan doakan agar berjalan di jalan Allah. Karena walaupun anak merupakan fitnah atau ujian, ia tetap adalah amanah atau titipan Allah kepada kita.

Semoga Allah beri kekuatan kepada kita untuk menjaga amanah Allah berupa anak dan menjaga anak kita dari berbagai fitnah. Aamiin. (RS-2/RS1)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)