Ancaman Normalisasi Terhadap Masjid Al-Aqsa

Oleh: Ali Farkhan Tsani*

Dengan meningkatnya jumlah serangan Israel di Masjid Al-Aqsa oleh pemukim Yahudi dalam kawalan tentara Israel, menandakan normalisasi “Abraham Accords” menjadi ancaman bagi Yerusalem secara umum dan Masjid Al-Aqsa pada khususnya.

Pernyataan bersama dikeluarkan oleh AS, UEA, dan Israel pada 15 September 2020 menyebutkan “melanjutkan upaya untuk mencapai resolusi yang adil dan komprehensif terhadap konflik Israel-Palestina.”

Kerangka ini seperti yang ditetapkan dalam Kesepakatan Abad Ini pada Januari 2020, menyebutkan bahwa Masjid Al-Aqsa dan tempat-tempat suci Yerusalem lainnya akan tetap terbuka untuk jamaah dari semua agama.

Namun, mengutip pendapat Hisham Yacoub, pemerhati Palestina pada media MEMO berbasis di London, “Kesepakatan Abraham menunjukkan bahwa hal itu memberikan legitimasi pada serangan oleh pemukim Yahudi bersenjata di Masjid Al-Aqsa, dan bahkan pelaksanaan ritual keagamaan mereka di dalamnya, karena perjanjian tersebut memungkinkan akses ke penyembah damai dari semua agama”.

Sementara warga Muslim malah dibatasi, dicegah bahkan diserang ketika akan memasuki Masjidil Aqsa untuk shalat berjamaah.

Kondisi seperti ini memberikan otoritas pendudukan Israel banyak ruang untuk bermanuver mencegah para pemuda Muslim memasuki Al-Aqsa.

Di mata Israel, para pemuda Muslim Palestina dianggap sebagai “pembuat onar” terkait dengan Al-Aqsa karena menjadi penghalang pertahanan gerbangnya.

Para pemuda Muslim Palestina juga dipandang sebagai penghambat utama setiap acara-acara ritual Talmud dan rencana pembagian kompleks Al-Aqsa.

Perjanjian normalisasi telah memberikan lampu hijau kepada pendudukan untuk terus menangkap, mendeportasi, menyiksa, dan mendenda siapa pun yang menghalangi upayanya melakukan yahudisasi situs tersuci ketiga Islam ini. Sementara negar-negara tetangga di kawasan Teluk tak bersuara lagi, terutama yang terikat perjanjian normalisasi.

Terlebih setelah adanya normalisasi hubungan diplomatik Israel dengan UEA dan Bahrain, serta kemudian dengan Sudan dan Maroko. Dengan sambutan hangat dari Mesir dan Oman, serta Arab Saudi yang masih terus dibujuk untuk secara terbuka mengikuti jejak negara tetangganya.

Maka, para penandatangan Perjanjian Abraham pun harus mengabaikan langkah-langkah Yahudisasi yang diterapkan Israel untuk merusak status quo historis Al-Aqsa. Mengabaikan ini berarti bentuk sebuah penerimaan atas tindakan Israel semacam itu.

“Negara Israel harus dipuji karena menjaga situs-situs keagamaan semua orang dan mempertahankan status quo agama,” klaim pemerintah Israel, yang sering mereka kampanyekan ke sekutunya.

Jadi, Kesepakatan Abad Ini memang pada akhirnya menjadi pijakan normalisasi untuk menjadikan konflik Israel-Palestina tetap dipelihara, dengan tujuan menetapkan penerapan kedaulatan penuh Israel atas Yerusalem dan Al-Aqsa, melegalkan serangan pemukim Yahudi ke Al-Aqsa dan memungkinkan tindakan ibadah non-Muslim di dalamnya. (A/RS2/P1)

*Ali Farkhan Tsani, Penulis adalah Wartawan dan Redaktur Senior Kantor Berita MINA, juga sebagai Duta Al-Quds alumni Mu’asssah Al Quds Ad-Dauly Shana’a Yaman.

 

Mi’raj News Agency (MINA)