Angka Kemiskinan di Gaza Capai 80%

Gaza, MINA – Tingkat kemiskinan di Jalur Gaza telah mencapai 80 persen di tengah blokade Israel lebih dari satu dekade, pemotongan bantuan Amerika Serikat dan akibat konflik internal antar faksi Palestina,

Federasi Umum Serikat Buruh Palestina, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita Ma’an, Jumat (12/10), pengangguran di Gaza meningkat dua kali lipat, mencapai lebih dari 50 persen, termasuk 283.000 pekerja yang dianggap menganggur tahun ini,

Federasi Buruh itu  mendesak solusi permanen untuk mengatasi tingkat pengangguran yang tinggi di antara warga Palestina dan kondisi kerja yang berat. Demikian Daily Sabah melaporkan yang dikutip MINA, Sabtu.

Sudah tertekan oleh blokade Israel selama 12 tahun terakhir, ekonomi Gaza semakin dilemahkan oleh pemotongan bantuan Amerika Serikat dan langkah-langkah keuangan. Pemangkasan US$50-60 juta setahun dari program bantuan pemerintah Amerika Serikat dan pemotongan untuk Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB (UNRWA) bagi para pengungsi Palestina telah semakin memperburuk perekonomian Gaza.

Puluhan warga Palestina telah lama berdemonstrasi menentang tingkat pengangguran yang tinggi di Jalur Gaza, yang telah terguncang di bawah blokade Israel yang melumpuhkan. Dengan kemiskinan merajalela dan pengangguran tinggi, banyak dari dua juta penduduknya bergantung pada layanan UNRWA.

Para pemrotes meminta pemerintah setempat dan Departemen Tenaga Kerja yang berbasis di Ramallah untuk campur tangan guna menciptakan lapangan kerja bagi warga Palestina yang tidak punya pekerjaan di daerah pantai.

Bulan lalu, Bank Dunia memperingatkan bahwa ekonomi Gaza dalam “terjun bebas,” menyerukan kepada Israel dan masyarakat internasional untuk mengambil tindakan segera untuk menghindari “keruntuhan segera” di wilayah Palestina. Menurut Bank Dunia, pengangguran kini di atas 50 persen dan lebih dari 70 persen di antara pemuda Gaza.

“Kombinasi perang, isolasi, dan persaingan internal telah meninggalkan Gaza dalam keadaan ekonomi yang melumpuhkan dan memperburuk penderitaan manusia,” kata Marina Wes, direktur Bank Dunia untuk kawasan itu.

“Peningkatan frustrasi kian mengipasi peningkatan ketegangan yang telah mulai tumpah ke kerusuhan dan pengaturan kembali perkembangan manusia dari populasi pemuda yang besar di kawasan itu,” tambahnya.

Sejak 2007, Jalur Gaza berada di bawah blokade Israel dan Mesir yang melumpuhkan yang telah menghancurkan ekonominya dan merampas sekitar 2 juta penduduk dari banyak komoditas penting, termasuk makanan, bahan bakar, dan obat-obatan.

Di gaza yang diembargo lama, situasi kemanusiaan memburuk setiap hari. Blokade Israel yang bertahan lama di Jalur Gaza telah menciptakan kekurangan kronis dalam fasilitas kesehatan Palestina. (T/R11/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)