Antara Hillary Clinton dan Seorang Gadis Palestina

Oleh Rudi Hendrik, jurnalis Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Ini adalah kisah Yasmeen Elkhoudary, seorang warga Palestina dari Gaza yang saat ini tinggal di London, Inggris. Dia juga seorang peneliti independen khusus di bidang warisan arkeologi dan budaya Gaza. Kisah ini ia tuangkan dalam tulisan di Al Jazeera.

Pada tanggal 14 Desember 1998, ia dan anak-anak Gaza lainnya sedang libur sekolah. Saat itu ia adalah seorang anak berusia delapan tahun. Kebahagiaan yang ia rasakan biasa-biasa saja.

Di hari itu, semua toko-toko ditutup dan dipasang hambatan jalan di mana-mana. Jalan-jalan dipenuhi dengan bendera Palestina serta bendera berewarna putih dan merah bergaris yang saat itu Yasmeen tidak kenal bendera apa.

Lalu Yasmeen bertanya kepada ayahnya dan dia dijelaskan bahwa bendera selain Palestina itu adalah bendera Amerika Serikat (AS). Hari itu, Presiden AS Bill Clinton akan mengunjungi Gaza City.

Sedikit pun Yasmeen tidak tahu bahwa ia akan mendengar nama Clinton hampir setiap hari selama 18 tahun ke depan.

Almarhum Presiden Palestina Yasser Arafat telah mengundang Presiden AS Bill Clinton dan Ibu Negara Hillary Clinton untuk meresmikan Bandara Internasional Gaza.

Helikopter Clinton mendarat di landasan pacu bandara di Rafah dan kemudian berangkat menuju Gaza City.

Itu adalah kunjungan pertama yang pernah dilakukan oleh seorang Presiden Amerika Serikat untuk entitas Palestina “berdaulat”.

Tahun berikutnya, Yasmeen dan saudaranya bergabung bersama 65 siswa lainnya di Sekolah Internasional Amerika yang baru saja dibuka di Gaza, sebuah sekolah yang sepenuhnya dikelola oleh guru asal Amerika Serikat dan Kanada. Buku teks pelajarannya didatangkan jauh-jauh dari Amerika Serikat ke Gaza.

Sementara itu, Senator Hillary Clinton saat itu bergabung dengan Elie Wiesel dalam menangani retorika “anti-Israel” dan “anti-Semit” dalam buku teks Palestina (PDF). Elie Wiesel adalah seorang profesor dan penulis Yahudi kelahiran Amerika berdarah Rumania.

Pada tahun 2001, Elie mengirim surat kepada Presiden AS berikutnya yang menggantikan Clinton, yakni George W Bush, agar memaksa Yasser Arafat untuk mengubah “retorika penuh kebencian” Otoritas Palestina sebagai syarat untuk perdamaian.

Pada tahun 2007, Hillary Clinton juga mempertanyakan kelayakan Mahmoud Abbas sebagai “mitra untuk perdamaian”, mengingat menurutnya bahwa buku yang diterbitkan di bawah pemerintahan Abbas “menghasut kebencian”.

Hal ini terjadi setelah Hillary mensponsori resolusi Kongres AS yang mendukung pembangunan tembok apartheid Israel di Tepi Barat.

“Ini bukan melawan rakyat Palestina, ini adalah melawan teroris,” kata Hillary membela tindakannya.

Meskipun Hillary tertarik dengan pendidikan Palestina, tapi dia hanya mendapat sedikit pujian untuk sekolah Amerika-nya di Gaza. Sebaliknya, ketika dua jet tempur F-16 Israel pasokan AS meratakan sekolah itu dengan tanah pada perang 2008/2009, Hillary yang saat itu menjabat Menteri Luar Negeri tidak mengatakan apa-apa.

Didorong oleh misi dari “Tuhan” untuk menyebarkan perdamaian dan demokrasi di Timur Tengah, Presiden Bush menekan Dewan Nasional Palestina untuk melawan segala rintangan pada tahun 2006.

Namun, ketika Hamas di Gaza memenangkan pemilu, Presiden Bush menyetujui rencana untuk menggulingkan Hamas dengan menyalakan sebuah perang saudara Palestina dengan bantuan Israel.

Sementara itu, Hillary Clinton sibuk mensponsori resolusi Kongres yang berjudul, “The Palestinian Anti-Terrorism Act of 2006“. Resolusi yang diperkenalkan setelah Hamas memenangkan pemilu dan mengambil alih Gaza tersebut, menolak setiap partisipasi Hamas dalam “proses perdamaian”, kecuali Hamas mengakui Israel dan mau melucuti senjatanya dan meninggalkan kekerasan.

RUU itu ditandatangani menjadi undang-undang oleh Bush pada bulan Desember 2006 dan efektif menyetujui Israel untuk memulai pengepungan yang sedang berjalan di Gaza. Presiden Bush dan Senator Hillary mencoba untuk mengubah hasil pemilu yang dimenangkan Hamas dengan memaksakan perang.

Pihak Palestina yang kalah memutuskan untuk menghukum Hamas dan rakyat Gaza dengan klaim “pilihan demokrasi yang salah”.

Ketika Hamas memenangkan pemilu karya Bush, Yasmeen baru saja lulus dari sekolah dan siap untuk meninggalkan Gaza pergi ke Universitas Amerika di Kairo.

Yasmeen Elkhoudary. (Foto: Twitter)
Yasmeen Elkhoudary. (Foto: Twitter)

Ketika aktivis mahasiswa Universitas Amerika di Kairo mengkampanyekan pembelaan terhadap Palestina, Yasmeen dan rekan-rekannya harus terlibat diskusi “tak berujung” dengan mahasiswa Amerika yang berpendapat positif tentang sikap-sikap Presiden Bush terhadap Palestina.

Kemudian ketika pemilu Presiden AS 2008 memilih Barack Obama sebagai presiden, harapan Yasmeen jadi melangit, sampai-sampai sekelompok warga Palestina di Gaza bergabung dalam kampanye Obama melalui Skype. Mereka berharap kemenangan Obama akan membawa solusi bagi penderitaan mereka. Namun, ternyata tidak.

Pada liburan musim semi 2009, Yasmeen terjebak di Kairo karena pengepungan terus menerus yang diterapkan penjajah Israel terhadap kampung halamannya, Gaza. Ia sangat ingat ketika menonton pidato Obama di Universitas Kairo dengan perasaan yang campur aduk.

Meskipun Obama berusaha menawarkan nada yang lebih rekonsiliatif, tapi ia sudah menyatakan posisi pada isu-isu mendasar Palestina dalam dua pidatonya untuk AIPAC (Komite Urusan Publik Amerika Israel) selama kampanyenya.

Obama meyakini bahwa Yerusalem akan tetap menjadi ibu kota tak terpisahkan dari Israel.

Harapan Yasmeen menguap seketika, bahwa Obama saat ini sudah delapan tahun berkantor di Gedung Putih, masa kepresidenannya akan berakhir, terbukti ia tidak berbeda bagi rakyat Palestina, terutama mereka yang terkepung di Gaza.

Dengan Clinton sebagai Menteri Luar Negeri, hal yang didapat lebih buruk lagi.

Dalam kata-katanya sendiri kepada AIPAC, Hillary adalah musuh vokal BDS (Gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi), wanita itu bangga melawan setiap resolusi PBB terkait Palestina, pembela gigih serangan Israel di Gaza, dan menjadi faktor utama di balik penolakan AS terhadap pengajuan kenegaraan Palestina di PBB.

Ketika AS mengumumkan rencana untuk memberikan Israel bantuan militer senilai $ 38 miliar selama dekade berikutnya, Hillary menyatakan kesenangannya. Dalam sebuah pernyataan ia mengucapkan selamat kepada Obama dan Perdanan Menteri Israel Benjamin Netanyahu atas “prestasi diplomatik” penting itu.

Hillary berjanji, jika nantinya ia sebagai presiden, ia akan bekerja untuk melaksanakan perjanjian itu.

Namun sayangnya, rencana Hillary akan dilaksanakan tanpa dirinya. Ia melewatkan kesempatan bersejarah untuk menegaskan kembali dukungannya yang teguh kepada Israel. Sebagai gantinya, Donald Trump akan mengambil alih tugas tersebut.

Timbul pertanyaan bagi Yasmeen, “Mengapa AIPAC dan Israel selalu muncul sebagai pemenang terlepas dari siapa yang duduk di Kantor Oval?”

Sebagai seorang wanita, Yasmeen mengaku sangat tersinggung dengan kemenangan Trump, terutama setelah menonton pidato Trump kepada AIPAC.

“Sebenarnya, saya berhenti peduli tentang pemilu Amerika setelah Obama menampar kami di muka dengan ketidakpeduliannya yang mengejutkan kepada Palestina, yang  membuat hidup kami seperti di neraka,” kata Yasmeen. (P001/P2)

Sumber: tulisan Yasmeen Elkhoudary di Al Jazeera

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

=====
Ingin mendapatkan update berita pilihan dan info khusus terkait dengan Palestina dan Dunia Islam setiap hari dari Minanews.net. Yuks bergabung di Grup Telegram "Official Broadcast MINA", caranya klik link https://t.me/kbminaofficial, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.