Antara Ukhuwah Relawan Indonesia dan Ukhuwah para Sahabat

Oleh: Sakuri, Waliyul Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Jabodetabek

Ulama Gaza Syeikh Doktor Imad Maqooth memberikan apresiasi kepada relawan Pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) Tahap Dua di Gaza. Ia menyebutnya sebagai orang yang memiliki semangat terus membara.

“Ruh itu tidak pernah mati dan ruh tidak pernah menua. Contoh seorang relawan Indonesia di Gaza berusia 50 tahun, tetapi ruhnya tidak 50 tahun, tetapi 20 tahun,” kata Imad.

Hal itu ia ungkapkan kepada puluhan relawan pembangunan pada acara taklim rutin Jumat sore, 13 Maret 2020, di Wisma Indonesia dengan materi “Ukhuwah di dalam Islam”.

Menurutnya, bagaimana beratnya para relawan yang melakukan perjalanan jauh dari Indonesia ke Gaza dengan meninggalkan keluarga, harta dan pekerjaan, sementara di Gaza begitu berat tantangannya dalam situasi blokade dan perang. Itu tidak mungkin dihadapi oleh ruh yang 50 tahun karena semangat terus membara untuk beramal salih membangun RS Indonesia dan membantu kemanusiaan penduduk Gaza. Semangat itu adalah ruh.

Tidak ada kelebihan etnis

Mengawali tausiahnya, ia menyampaikan tentang pesan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam saat memberikan khutbah haji wada’, Musnad Ahmad (Hadts Nomor 22391):

Dari Abu Nadhrah telah menceritakan kepadaku orang yang pernah mendengar khutbah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di tengah-tengah hari tasyriq, beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia! Rabb kalian satu, dan ayah kalian satu (maksudnya Nabi Adam). Ingatlah. Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang ajam (non-Arab) dan bagi orang ajam atas orang Arab, tidak ada kelebihan bagi orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, bagi orang berkulit hitam atas orang berkulit merah, kecuali dengan ketakwaan. Apa aku sudah menyampaikan?” Mereka menjawab: “Iya, benar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menyampaikan.” (Musnad Ahmad)

Hadits ini telah disabdakan sebelum 1.400 tahun lalu, sekarang dunia paham bahwa keutamaan bukan pada bentuk, warna kulit, tinggi besarnya postur tubuh, serta harta, tetapi yang dilihat adalah ketakwaan dan amalnya.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِـنْ يَنْظُرُ إِلَى قُــــلُوبِكُمْ وَأَعْمَــالِكُمْ

“Sungguh Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, melainkan melihat hati dan amal kalian.” [HR Muslim]

Performan rupa dan properti harta kita adalah takdir atau ketetapan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu sebagai amirul mukminin memliki 1.000 ikhwan yang beliau hafal nama mereka dan nama ayah mereka, serta hafal lokasi rumah-rumahnya sebagai bukti bahwa ukhuwah islamiyah terjalin begitu kokoh sebagai pembelajaran bagi kita.

 

Al-mar’u ma’a man ahabba

Tiap-tiap muslim itu bersaudara dan akan bersama dengan saudaranya yang dia cintai.

Dalam suatu tarikh disebutkan, salah seorang sahabat menangis di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kemudian Nabi bertanya, “Kenapa engkau menangis wahai sahabatku.” Sahabat itu menjawab, “Ya Rasulullah, engkau di surga akan berada di derajat yang begitu tinggi sedangkan saya jika Allah menghendaki aku masuk surga yang begitu rendah tidak setinggi surga engkau, padahal aku begitu mencintaimu, ya Rasulullah. Di dunia ini engkau yang paling aku cintai setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala, tetapi kelak karena posisi yang berbeda engkau dan aku akan berpisah karena tempat serta kedudukannya berbeda.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Al-mar’u ma’a man ahabba (seseorang itu akan bersama siapa yang ia cintai).”

 

Kemuliaan mengunjungi saudara sesama Muslim

Di antara kemuliaan akhlak seorang Muslim adalah senang mengunjungi saudaranya semuslim. Namun, kunjungan ini bukan didasari kebutuhan dan keperluan duniawi, melainkan didasari rasa cinta kepada saudaranya karena Allah.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

أنَّ رجلًا زارَ أخًا لَهُ في قريةٍ أخرى ، فأرصدَ اللَّهُ لَهُ على مَدرجَتِهِ ملَكًا فلمَّا أتى عليهِ ، قالَ : أينَ تريدُ ؟ قالَ : أريدُ أخًا لي في هذِهِ القريةِ ، قالَ : هل لَكَ عليهِ من نعمةٍ تربُّها ؟ قالَ : لا ، غيرَ أنِّي أحببتُهُ في اللَّهِ عزَّ وجلَّ ، قالَ : فإنِّي رسولُ اللَّهِ إليكَ ، بأنَّ اللَّهَ قد أحبَّكَ كما أحببتَهُ فيهِ

“Pernah ada seseorang pergi mengunjungi saudaranya di daerah yang lain. Lalu Allah pun mengutus Malaikat kepadanya di tengah perjalanannya. Ketika mendatanginya, Malaikat tersebut bertanya, “Engkau mau ke mana?” Ia menjawab, “Aku ingin mengunjungi saudaraku di daerah ini.” Malaikat bertanya, “Apakah ada suatu keuntungan yang ingin engkau dapatkan darinya?” Orang tadi mengatakan, “Tidak ada, kecuali karena aku mencintainya karena Allah ‘Azza wa Jalla.” Maka malaikat mengatakan, “Sesungguhnya aku diutus oleh Allah kepadamu untuk mengabarkan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya“ (HR Muslim no.2567)

Dari hadits ini ditegaskan bahwa orang yang saling berkunjung karena Allah akan dicintai oleh Allah Ta’ala. Imam An Nawawi mengatakan:

فِيهِ فَضْلُ الْمَحَبَّةِ فِي اللَّهِ، وَأَنَّهَا سَبَبٌ لِحُبِّ اللَّهِ وَفَضِيلَةِ زِيَارَةِ الصَّالِحِينَ

“Dalam hadits ini ada keutamaan saling mencintai karena Allah, dan itu merupakan sebab mendapatkan cinta dari Allah dan keutamaan mengunjungi orang salih.” (dari Mirqatul Mafatih, 8/3135)

Namun yang demikian jika kunjungannya didasari rasa cinta karena Allah, bukan karena suatu tujuan duniawi. Perkataan dijelaskan oleh Ath-Thibi, “Maksudnya, apakah dengan kunjungan tersebut engkau mendapatkan sesuatu berupa keuntungan duniawi sehingga dengan kepergianmu ini engkau dapat mengembangkannya, yaitu dapat engkau miliki dan engkau sempurnakan?” (Mirqatul Mafatih, 8/3135)

Dan ternyata si lelaki tersebut menjawab, “Tidak.” Sehingga ia berhak mendapatkan cinta Allah.

Cobalah perhatikan hubungan kita dengan teman-teman karena hubungan kebersamaan karena Allah, karena ibadah kepada-Nya, sekalipun tidak ada hubungan maslahat dunia ketika kita dapat mensifatinya, maka sesungguhnya teman seperti itulah teman yang karena Allah.

Nabi pernah duduk dengan para sahabat yang berasal dari negeri yang berbeda-beda dengan kedudukan yang berbeda-beda, tapi duduk bersama-sama di depan Nabi. Di samping beliau ada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu yang adalah orang Quraisy Makkah, Umar bin Khattab dari suku Quraisy, Shuhaib bin Sinan Ar Rumi dari Romawi, Bilal bin Rabbah dari Habsyi, Abu Dzar Al Ghifari dari Suku Ghifari dan Salman Al Farisi dari Parsi. Siapa yang mengumpulkan dengan latar belakang yang berbeda-beda di hadapan Nabi menjadi sahabat-sahabat yang mulia dengan kedudukan yang sama di hadapan Nabi? Tentu jawabnya adalah Allah, yang mempersaudarakan mereka saling mencintai karena Allah.

Bagian dari sunnah apabila kita mencinta orang lain karena Allah maka kita supaya datang ke rumahnya dan menyampaikan bahwa aku mencintaimu karena Allah.

Ada kedudukan yang begitu tinggi, yaitu mimbar-mimbar dari cahaya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tentunya tidak mudah untuk meraihnya tapi kita ingin meraihnya.

الارواح جنود مجندة فما تعارف منها ائتلف وما تناكر منها اختلف
Ruh-ruh/jiwa itu laksana tentara yang berkumpul, maka yang saling mengenal daripadanya niscaya menyelaraskan (mudah bergaul atau saling menyesuaikan) dan yang bertentangan daripadanya niscaya saling menyelisihi (berseberangan ).” HR. Imam Muslim dari Abi Hurairah dan Imam Bukhari meriwayatkan sebagai ulasan dari hadits Siti Aisyah)

Ruh di barisan yang tersusun rapi itu tidak akan saling kenal-mengenal kecuali ketika di dunianya menyatakan saling mencintai di antara mereka karena Allah. Ruh mereka akan saling merasakan kedekatannya. Interaksi di antara ruh dikarenakan interaksi kecintaan mereka karena Allah ketika di dunia.

Ruh itu tidak pernah mati dan ruh tidak pernah menua, contohnya seorang relawan Indonesia di Gaza berusia 50 tahun tetapi ruhnya tidak 50 tahun, tetapi 20 tahun. Dan bagaimana beratnya para relawan melakukan perjalanan jauh dari Indonesia ke Gaza sebagaimana dijelaskan di atas.

Jasad bisa mati dan buktinya jasad dikubur, tapi ruh tidak akan mati. Ketika merindukan seseorang, apakah badan kita atau ruh kita yang merasakan rindu? Jawabannya adalah ruh kita.


Bukti kecintaan para sahabat dan mujahid Yarmuk

Bukti kecintaan yang tinggi, ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu melihat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam minum, maka Abu Bakar merasakan bahagia yang begitu dalam. Itulah hubungan cinta karena Allah yang begitu dalam.

Pemandangan di akhir perang Yarmuk sangatlah mengharukan. Ada tiga orang sahabat Rasulullah yang terbujur lemah penuh luka dan darah. Mereka bukan lain adalah Ikrimah bin Abu Jahl, Al Harits bin Hisyam yang gagah berani maju melawan Romawi, serta seorang shahabat lain, yakni Ayyasy bin Abi Rabi’ah (riwayat lain menyebutkan bukan Ayyasy melainkan Suhail bin Amr).

Maka dibawalah air itu pada Al Harits. Namun Al Harits melihat Ayyasy menoleh padanya. Al Harits pun meminta agar Ayyasy lebih dahulu meneguk air segar itu. “Berikan air itu untuknya saja,” kata Al Harits. Air itu pun dibawa pada Ayyasy. Namun sebelum meneguknya, Ayyasy sudah menemui ajal. Maka si pembawa minum itu pun kembali menuju Ikrimah dan Al Harits agar keduanya dapat meminum air. Namun terlambat, keduanya pun sudah wafat sebagai mujahid.

Betapa mulianya akhlak para sahabat Rasulullah. Di saat sakratul maut pun, mereka masih mengutamakan saudara seiman dari pada diri sendiri. Hal ini tidak bisa dilakukan kecuali karena kecintaan di antara mereka karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Para sahabat menampilkan sejarah yang penuh heroik yang tidak mementingkan pribadi, tetapi lebih mementingkan sahabatnya yang lain walau kondisi sudah dalam kondisi antara hidup dan mati.

Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu di saat merasakan bahwa kematian sudah mendekat, ia meminta izin kepada Aisyah agar bisa dikuburkan di sisi Rasulullah. Begitulah para sahabat begitu cintanya karena Allah, maka saat meninggal pun ingin dikuburkan di sisi orang yang sangat dicintainya.

Abdullah bin Umar pernah menyampaikan bahwa beliau saat dahulu mencintai para sahabat Nabi itu, melebihi emas dan perak, tetapi ketika bergeser ke zaman selanjutnya hari ini, manusia mencintai emas dan perak melebihi mencintai saudaranya sesama Muslim. Itulah sebuah pergeseran nilai.

Itsar pengutamaan saudaranya para pejuang Gaza

Pada perang 2014 di Gaza, ada sebuah kejadian ada sekitar 20 pejuang yang terjebak selama 20 hari di dalam terowongan runtuh, tertutup semua pintu keluar karena digempur pesawat Israel. Setiap pejuang biasanya dibekali istrinya kurma. Kemudian pimpinan mereka mengumpulkan seluruh kurma yang dibawa. Pimpinannya membagi saat sahur dan saat buka puasa, sangat terbatas. Begitu pula air yang terbatas dibagikan menggunakan tetesan celupan air setiap pejuang. Ini adalah salah satu contoh yang mengutamakan saudaranya pada kondisi sekarang.

Menutup ceramahnya, Syeikh Doktor Imad Maqooth berharap, dengan modal kecintaan karena Allah, mudah-mudahan “kita” bisa bersama-sama masuk ke Masjidil Aqsa dalam keadaan merdeka dan dibebaskan.

“Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang memiliki saham dalam pembebasan Al Aqsa. Mari kita membuka pintu-pintu saham dalam pembebasan Masjidil Aqsa,” katanya. (A/RS5/RI-1)

Sumber: Edy Wahyudi, Site Manager Pembangunan Tahap Dua RS Indonesia di Gaza

Mi’raj News Agency (MINA)