Apa Bedanya Masjid Raya Sheikh Zayed di Solo dan Abu Dhabi?

Foto: Kemenag RI

Oleh: Sajadi, Wartawan Kantor Berita MINA

Pembangunan Masjid Raya Sheikh Zayed di Solo, Jawa Tengah telah resmi dimulai.

Masjid tersebut merupakan hadiah dari Putra Mahkota Uni Emirat Arab (UEA) Sheikh Mohamed Bin Zayed Al Nahyan untuk Presiden RI Joko Widodo yang disampaikan saat datang ke Indonesia pada Rabu, 24 Juli 2019.

Dimulainya pembangunan masid tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama pada Sabtu, 6 Maret 2021 yang dihadiri oleh sejumlah pejabat negara dan tokoh agama baik dari Indonesia maupun UEA.

Masjid akan dibangun di Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo.

Masjid tersebut merupakan replika dari Sheikh Zayed Grand Mosque di Abu Dhabi.

Seperti dikutip dari laman resmi Kementerian Agama RI, Menteri Agama Yaqut Cholil mengungkapkan, masjid itu direncanakan selesai dibangun dalam kurun waktu 1,5 tahun.

Masjid yang dibangun di atas tanah seluas tiga hektar tersebut  direncanakan mampu menampung hingga sekitar 10 ribu jamaah.

Sedangkan Sheikh Zayed Grand Mosque di Abu Dhabi mampu menampung 40.000 jamaah dengan luas 22.412 meter persegi.

Masa pembangunan Sheikh Zayed Grand Mosque hingga 12 tahun, dengan total anggaran mencapai sekitar USD 545 juta atau setara Rp 8 triliun.

Sementara untuk replikanya yang akan dibangun di Solo, total anggaran pembangunannya mencapai USD 20 juta atau hampir Rp 300 miliar.

Seluruh biaya pembangunan Masjid Raya Sheikh Zayed di Solo ditanggung oleh Pemerintah UEA.

Lantas bagaimana desain replika Masjid Raya Sheikh Zayed di Solo?

Masjid Raya Sheikh Zayed di Solo akan memiliki desain yang mirip dengan masjid aslinya. Hanya saja, ukurannya tidak sebesar Grand Mosque yang ada di Abu Dhabi.

Dikutip dari Kompas melansir Abu Dhabi Culture, Sheikh Zayed Grand Mosque Abu Dhabi memiliki 82 kubah, dan terbesar berada di ruang shalat utama.

Kubahnya ini terbuat dari marmer putih, kolom mahkota berbentuk bawang, serta dihiasi dengan mosaik kaca emas.

Selain itu, Sheikh Zayed Grand Mosque Abu Dhabi juga memiliki empat menara, masing-masing tingginya sekitar 106 meter.

Setiap menara terdiri dari tiga bentuk geometris yang berbeda. Pertama adalah bujur sangkar yang menjadi dasar menara.

Gaya arsitektur menara ini mencerminkan tiga unsur yaitu Maroko, Andalusia, dan Mameluke.

Lalu, di bagian kedua menara, memiliki bentuk segi delapan dengan mengadopsi gaya era Mameluke.

Sementara pada bagian ketiga menara berbentuk silinder yang terinspirasi dari gaya Ottoman dengan lapisan kaca emas berasal dari era Fatimiyah.

Aula utama, dilapisi dengan karpet rajutan tangan terbesar dunia yang dirancang oleh seniman karpet generasi ketiga perusahaan manufaktur Grreh yakni, Dr. Ali Khaliqi.

Karpet tersebut didominasi bahan wol berukuran 5.700 meter persegi serta dibuat oleh 1.200 pengrajin.

Total pembuatan karpet ini memakan waktu hampir dua tahun, termasuk 8 bulan untuk rancangannya dan 12 bulan untuk pembuatan simpul.

Keistimewan Sheikh Zayed Grand Mosque Abu Dhabi tak sampai di situ. Tujuh lampu gantung kristal berukuran jumbo diimpor langsung dari Faustig Kristall-Leuchten München di Munich, Jerman.

Enam lampu gantung kristal itu masing-masing memiliki berat 8 ton, lebar 10 meter, dan tinggi 15 meter, sedangkan satu lampu kristal dengan bobot 12 ton.

Lampu-lampu tersebut berwarna biru, yang paling utama terletak di pintu masuk serambi. Sementara lampu lainnya mengelilingi masjid.

Menurut Menag RI, pendirian Masjid Agung Sheikh Zayed di Solo merupakan simbol kedekatan antara Indonesia dan UEA.

Apalagi hak intelektual desain masjid ini juga milik Pangeran Mohammed bin Zayed Al Nahyan.

“Pembangunan Masjid Agung Sheikh Zayed di Solo ini menunjukkan kedekatan dan hubungan harmonis antara Indonesia dan Uni Emirat Arab, khususnya antara Presiden Jokowi dan Pangeran Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan yang semakin intensif dalam dua tahun terakhir,” ujar Yaqut saat peresmian groundbreaking di Solo, Sabtu (6/3).

Lebih lanjut, Menag menambahkan, Masjid Agung Sheikh Zayed Solo juga akan menjadi salah satu mercusuar syiar Islam di Nusantara dan simbol moderasi beragama dalam rangka mewujudkan perdamaian dunia serta keadilan sosial.

Masjid yang akan dibangun dengan hibah penuh dari Putra Mahkota UEA bukan hanya menjadi tempat untuk shalat berjamaah.

Tetapi juga berfungsi sebagai pusat kegiatan dakwah, sosial dan pembinaan umat serta destinasi wisata religi yang menjunjung tinggi nilai kesucian masjid. (A/RE1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)