Apakah Suhu Mempengaruhi Penyebaran Virus Corona? (Oleh: Dr. Hayu Prabowo, Ketua LPLH&SDA MUI)

Banyak pihak yang menyampaikan bahwa virus corona akan berkurang atau berakhir pada musim panas sekitar awal Juli karena kenaikan suhu suatu daerah. Menurut Imam Ibn Hajar Al Asqallani yang  kehilangan tiga anaknya karena wabah Thaun, berkata bahwa “pada umumnya wabah penyakit terjadi selama musim semi, kemudian sirna pada awal musim panas” (Kitab Badzlu al Maun Fi Fadhli al Thaun, hal 369)

Bagaimana Menurut Peneliti?

Penelitian yang telah dilakukan Chan, dkk menunjukkan bahwa menunjukkan bahwa terdapat faktor yang mempengaruhi kemampuan virus untuk mempertahankan eksistensi independen (virus viability), yaitu suhu dan kelembaban. Dimana pada tingkat suhu dan kelembaban relatif yang lebih tinggi, virus viability semakin cepat cepat (virus akan lebih cepat mati). Penelitian oleh WHO menyatakan bahwa virus corona SARS akan mati pada suhu 56 derajat Celcius dalam 15 menit.

Hasil penelitian Chan dikonfirmasi oleh Araujo, dimana dia menambahkan bahwa tidak semua virus tergantung dengan cuaca, misalnya HIV/AIDS, tidak diakibatkan oleh faktor eksternal, tapi oleh hubungan seksual, transfusi darah, dll, sehingga virus tidak pernah keluar dari kondisi internal inangnya atau tidak pernah terpengaruh kondisi eksternal. Namun sebaliknya, virus corona, merupakan virus pernapasan sehingga virus corona akan selalu terpengaruh dengan kondisi lingkungan eksternal.

Kondisi lingkungan negara-negara seperti Malaysia, Indonesia, dan Thailand dengan demikian tidak kondusif bagi kelangsungan hidup virus yang berkepanjangan. Di negara-negara seperti Singapura dan Hong Kong di mana terdapat penggunaan AC yang intensif, transmisi sebagian besar terjadi di lingkungan ber-AC seperti apartemen, rumah sakit atau hotel.

Bagaimana di Indonesia?

Suhu udara tergantung dari elevasi atau ketinggian permukaan tanah. Berdasarkan data pengukuran, climate4live[4] telah bisa memperkirakan suhu dan ketinggian seperti gambar 2. Dari tabel ini terlihat hubungan antara temperatur dan ketinggian, misal untuk bulan Oktober temperatur Jakarta 29,3 derajat Celcius, maka di Cicalengka akan 24,3 derajat Celcius.

Kesimpulannya adalah bahwa semakin tinggi temperatur akan semakin lemah virus untuk mempertahankan dirinya secara independen. Namun berdasarkkan hasil penelitian Chan, temperatur kita belum cukup tinggi secara signifikan mengurangi virus viability, apalagi masih banyak daerah pegunungan yang bertemperatur rendah.

Data temperatur sepanjang tahun untuk daerah sekitar Jakarta tidak banyak beda, hanya bervariasi beberapa derajat saja . Hal ini berbeda dengan daerah Arab yang temperaturnya mendekati 0 derajat Celcius pada musim dingin, dan antara 45-55 derajat celcius ketika musim panas.

Jadi nampaknya, bila dilihat dari faktor suhu, maka berdasarkan penelitiian dari virus corona SARS, kondisi Indonesia pada pertengahan tahun tidak banyak berbeda dengan saat April ini. yang masih terus meningkat Sehingga kita harus tetap waspada dalam menghadapi virus ini.

BIN memperikakan puncak penyebaran virus corona kemungkinan terjadi dalam 60–80 hari setelah kasus pertama terkonfirmasi. Lembaga itu juga memperkirakan puncak akan terjadi pada Juli 2020.

Untuk saat ini kita harus terus berikhtiar dan tawakal dan menghadapi cobaan ini. Karena dalam kesulitan akan datang bersamanya kemudahan dan hikmah yang tidak kita ketahui.

Kajian Tim BMKG dan Mikrobiologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Jakarta 3 April 2020 Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati membenarkan bahwa Tim BMKG yang diperkuat oleh 11 Doktor di Bidang Meteorologi , Klimatologi dan Matematika, serta didukung oleh Guru Besar dan Doktor di bidang Mikrobiologi dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM, telah melakukan Kajian berdasarkan analisis statistik, pemodelan matematis dan studi literatur tentang Pengaruh Cuaca dan Iklim dalam Penyebaran COVID-19.

Hasil kajian yg telah disampaikan kepada Presiden dan beberapa Kementerian terkait pada tanggal 26 Maret 2020 yang lalu ini, menunjukkan adanya indikasi pengaruh cuaca dan iklim dalam mendukung penyebaran wabah COVID-19, sebagaimana yg disampaikan dalam penelitian Araujo dan Naimi (2020), Chen et. al. (2020),

Luo et. al. (2020), Poirier et. al (2020), Sajadi et.al (2020), Tyrrell et. al (2020), dan Wang et. al. (2020), tulis Dwikorita melalui komunikasi online.

Hasil analisis Sajadi et. al. (2020) serta Araujo dan Naimi (2020) juga menunjukkan sebaran kasus COVID-19 pada saat outbreak gelombang pertama, berada pada zona iklim yang sama, yaitu pada posisi lintang tinggi wilayah subtropis dan temparate. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan sementara bahwa negara-negara dengan lintang tinggi cenderung mempunyai kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara tropis.

Penelitian Chen et. al. (2020) dan Sajadi et. al. (2020) menyatakan  bahwa kondisi udara ideal untuk virus Corona adalah temperatur sekitar 8 – 10 °C dan kelembapan 60-90%. Artinya dalam lingkungan terbuka yang memiliki suhu dan kelembaban yang tinggi merupakan kondisi llingkungan yang kurang ideal untuk penyebaran kasus COVID-19.

Para peneliti itu menyimpulkan bahwa kombinasi dari temperatur, kelembapan relatif cukup memiliki pengaruh dalam penyebaran transmisi COVID-19. Selanjutnya penelitian oleh Bannister-Tyrrell et. al. (2020) juga menemukan adanya korelasi negatif antara temperatur (di atas 1 °C) dengan jumlah dugaan kasus COVID-19 per-hari. Mereka menunjukkan bahwa bahwa COVID-19 mempunyai penyebaran yang optimum pada suhu yang sangat rendah (1 – 9 °C).

Artinya semakin tinggi temperatur, maka kemungkinan adanya kasus COVID-19 harian akan semakin rendah. Lebih lanjut Wang et. al. (2020) menjelaskan pula bahwa serupa dengan virus influenza, virus Corona ini cenderung lebih stabil dalam lingkungan suhu udara dingin dan kering.

Kondisi udara dingin dan kering tersebut dapat juga melemahkan “host immunity” seseorang  dan mengakibatkan orang tersebut lebih rentan terhadap virus sebagaimana yg dituliskan dalam studi Wang et al. (2020) tersebut. Demikian pula Araujo dan Naimi (2020) memprediksi dengan model matematis yang memasukkan kondisi demografi manusia dan mobilitasnya, mereka menyimpulkan bahwa iklim tropis dapat membantu menghambat penyebaran virus tersebut.

Mereka juga menjelaskan lebih lanjut bahwa terhambatnya penyebaran virus dikarenakan kondisi iklim tropis dapat membuat virus lebih cepat menjadi tidak stabil, sehingga  penularan virus Corona dari orang ke orang melalui lingkungan iklim tropis cenderung terhambat, dan akhirnya kapasitas peningkatan kasus terinfeksi untuk menjadi pandemik juga akan terhambat.

Kajian oleh Tim Gabungan BMKG-UGM ini

Analisis statistik dan hasil pemodelan matematis di beberapa penelilitian di atas  mengindikasikan bahwa cuaca dan iklim merupakan faktor pendukung untuk kasus wabah ini berkembang pada outbreak yang pertama di negara atau wilayah dengan lintang linggi, tapi bukan faktor penentu jumlah kasus, terutama setelah outbreak gelombang yang ke dua. Meningkatnya kasus pada gelombang ke dua saat ini di Indonesia tampaknya lebih kuat dipengaruhi oleh pengaruh pergerakan atau mobilitas manusia dan interaksi sosial.

Disampaikan pula bahwa kondisi cuaca/iklim serta kondisi geografi kepulauan di Indonesia, sebenarnya relatif lebih rendah risikonya untuk berkembangnya wabah COVID-19. Namun fakta menunjukkan terjadinya lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia sejak awal bulan Maret 2020. Indonesia yang juga terletak di sekitar garis khatulistiwa dengan suhu rata-rata berkisar antara 27- 30 derajat celcius dan kelembapan udara berkisar antara 70 – 95%, dari kajian literatur sebenarnya merupakan lingkungan yang cenderung tidak ideal untuk outbreak COVID-19.

Namun demikian fakta menunjukkan bahwa kasus Gelombang ke-2 COVID-19 telah menyebar di Indonesia sejak awal Maret 2020 yang lalu. Hal tersebut diduga akibat faktor mobilitas manusia dan interaksi sosial yang lebih kuat berpengaruh, daripada faktor cuaca dalam penyebaran wabah Covid-19 di Indonesia.

Akhirnya laporan Tim BMKG-UGM merekomendasikan berdasarkan fakta dan kajian terhadap beberapa penelitian sebelumnya,  bahwa apabila mobilitas penduduk dan interaksi sosial ini benar-benar dapat dibatasi, disertai dengan intervensi kesehatan masyarakat (Luo et. al. 2020 dan Poirier et. al., 2020), maka faktor suhu dan kelembapan udara dapat menjadi faktor pendukung dalam memitigasi atau mengurangi risiko penyebaran wabah tersebut.

Selain itu perlu diwaspadai pula bahwa memasuki bulan April s/d Mei ini, sebagian besar wilayah Indonesia memasuki pergantian musim, yang sering ditandai dengan merebaknya wabah Demam Berdarah.

Jadi secara umum hasil kajian Tim BMKG dan UGM ini juga sangat merekomendasikan kepada masyarakat untuk terus menjaga kesehatan dan meningkatkan imunitas tubuh, dengan memanfaatkan kondisi cuaca untuk beraktivitas atau berolahraga pada jam yang tepat, terutama di bulan April hingga puncak musim kemarau di bulan Agustus nanti, yang diprediksi akan mencapai suhu rata – rata berkisar antara 28 derajat Celcius hingga 32 derajat Celcius dan kelembapan udara berkisar antara 60% s/d 80%, serta tentunya dengan lebih ketat menerapkan “Physical Distancing” dan pembatasan mobilitas orang ataupun dengan “Tinggal di Rumah”, disertai intervensi kesehatan masyarakat, sebagai upaya untuk memitigasi atau mengurangi penyebaran wabah COVID-19 secara lebih efektif. Karena cuaca yang sebenarnya menguntungkan ini, tidak akan berarti optimal tanpa penerapan seluruh upaya tersebut dengan lebih maksimal dan efektif.

(A/R8/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)