Api Al-Aqsa itu Masih Berkobar

Situasi Masjid Al-Qibly di Kompleks Masjid Al-Aqsha, Kota Al-Quds, Palestina, yang terbakar pada 21 Agustus 1969. (Foto: Istimewa)

Setengah abad telah berlalu sejak pembakaran Masjid Al-Aqsa di Kota Al-Quds (Yerusalem), Palestina, oleh seorang ekstremis Zionis Michael Dennis Rohan. Sementara itu serangan ke Masjid Al-Aqsa tetap sengit sebagai upaya untuk merubah realita yang ada di masjid, serta untuk membagi masjid secara waktu dan tempat.

Saat peringatan ke-50 tahun peristiwa yang menyakitkan ini pada 21 Agustus 1969, api kini terus berkobar di Masjid Al-Aqsa, karena pelanggaran dan serangan harian yang dilakukan oleh pasukan pendudukan Israel dan para pemukim pendatang Yahudi.

Para pemukim pendatang Yahudi dan polisi Israel telah meningkatkan serangan dan pelanggaran mereka terhadap kesucian Masjid Al-Aqsa. Mereka menyerang para pengunjung dan penjaganya, serta mendeportasi puluhan mereka dari masjid dengan periode waktu yang berbeda-beda.

Serangan terakhir Israel di Masjid Aqsa terjadi pada hari pertama Idul Adha, 11 Agustus 2019, ketika pasukan polisi secara brutal menyerang jamaah Muslim usai mereka melaksanakan shalat Idul Adha dan membiarkan puluhan pemukim ekstrimis Yahudi menyerbu kompleks, menodai halamannya.

Pembakaran Sejak Pendudukan

Sekretaris Jenderal Front Kristen Islam, Hanna Issa, mengatakan bahwa pembakaran di Masjid Al-Aqsa tidak dimulai sejak 21 Agustus 1969, tetapi sudah dimulai sejak pendudukan Al-Quds atau Yerusalem sejak 7 Juni 1967, ketika penjajah Israel menghancurkan kampung Al-Mughrabi di Al-Quds yang diduduki. Kampung ini berada di sisi barat tembok Masjid Al-Aqsa dan ada pintu masuk ke masjid bernama Bab Al-Mughrabi.

Hanna Issa menjelaskan bahwa Masjid Al-Aqsa dan gereja-gereja di Kota Al-Quds atau Yerusalem mengalami banyak pembakaran, terutama Gereja Makam Suci (Church of the Holy Sepulchre).

Dia menyatakan, ketika penjajah Israel menduduki bagian barat kota Al-Quds pada tahun 1948, dunia tidak mengakui sebagai miliknya dengan pendudukan ini. Dan juga ketika penjajah Israel menduduki bagian timur kota Al-Quds tidak ada pengakuan sebagai miliknya dengan pendudukan ini.

Issa menyebutkan bahwa penjajah Israel terus melancarkan pelanggarannya terhadap Masjid Al-Aqsa dan Kota Suci Al-Quds sejak tahun 1967 hingga tahun ini. Mereka melakukan Yahudisasi terhadap 97% dari kota Al-Quds atau Yerusalem.

Dia menegaskan bahwa serangan-serangan terhadap Masjid Al-Aqsha ini meningkat ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump datang pada 6 Desember 2017, di mana dia mendeklarasikan bahwa Al-Quds atau Yerusalem adalah kota Yahudi. Dalam pidatonya dia menyangkal eksistensi Kristen, Islam dan Arab di dalam kota suci al-Quds.

Dia menyatakan bahwa Al-Aqsa mengalami pelanggaran serius, di mana ada sebuah kota di bawah Masjid Al-Aqsha yang akan dibuka secara penuh kapan saja, ada aula yang dapat menampung sekitar 5.000 orang. Selain itu pemerintah pendudukan Israel terus-menerus bertemu di bawah tembok barat masjid (Al-Buraq), dengan adanya penggalian-penggalian yang beragam lebih dari 20 meter di bawah tanah.

Dia menyatakan bahwa Masjid Al-Aqsa saat ini dikelilingi oleh 105 sinagog Yahudi dan 28 terowongan di bawah Kota Tua, di samping dua terowongan baru. Yang pertama membentang dari Dinding Buraq menuju Madrasah Umariyah di Kampung Islam (Islamic Quarter), dan terowongan lain dari Kmapung Islam menuju dinding barat Masjid Al-Aqsa.

Dia menyatakan, penjajah Israel bekerja untuk merebut tanah kuburan dan menyita semua trotoar di wilayah itu. Di samping perluasan Tembok Buraq, pencabutan identitas secara keseluruhan, tidak mendaftar identitas sekitar 22 ribu anak, menghancurkan rumah-rumah secara keseluruhan, dan enam RUU yang disiapkan oleh penjajah Israel yang berkaitan dengan pembagian masjid secara waktu dan tempat yang bisa disahkan kapan saja.

Menurut Issa, Al-Quds menjadi sasaran pembantaian nyata melalui koloni permukiman Yahudi dan perluasan koloni perdagangan Yahudi di dalamnya, menciptakan karakter baru pada kota tersebut, yaitu yang berkarakter Yahudi. Selain mendirikan apa yang disebut Yerusalem Raya di atas area seluas 600 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 3,5 juta jiwa, dan melakukan pembongkaran semua masjid dan gereja yang mengarah ke jantung Masjid Al-Aqsa.

Kejahatan Abadi

Sementara itu, Syaikh Ikrima Shabri, Kepala Badan Tertinggi Islam yang juga khatib di Masjid Al-Aqsa, menyatakan bahwa api kebakaran yang mengelilingi Masjid Al-Aqsa dari semua sisi disebabkan oleh kejahatan-kejahatan yang dilakukan berulang-ulang oleh penjajah Israel.

Dalam sebuah pernyataan kepada Pusat Informasi Palestina, Shabri menyatakan bahwa serangan dan penggalian yang dilakukan berulang-ulang dan pembangunan tembok apartheid Israel yang mengelilingi kota Al-Quds atau Yerusalem, bukan hanya istilah kebakaran khusus dengan menyalakan api saja.

Dia menyatakan bahwa tujuan penjajah Israel terhadap Masjid Al-Aqsa adalah ekspansionisme yang agresif, dan diwakili dalam bentuk penyerbuan-penyerbuan dan perubahan realitas baru di Masjid Al-Aqsa.

“Apa yang terjadi pada Idul Adha menjelaskan ambisi yang mereka inginkan terhadap Masjid Al-Aqsa,” tegasnya.

Shabri menjelaskan bahwa ada skema Zionis yang mengerikan dalam masalah pembagian secara waktu dan tempat di Masjid Al-Aqsa. Dia menyatakan bahwa para jamaah yang bersiaga di dalam masjid (al-murabithin wal murabithat) terus waspada terhadap setiap upaya untuk menodai kesucian Masjid Al-Aqsa.

Shaikh Shabri menyatakan bahwa penjajah Israel harus bertanggung jawab atas serangan berulang-ulang yang dilakukan para pemukim pendatang Yahudi, karena penjajah Israel yang melindungi para pemukim pendatang Yahudi dan mendorong mereka untuk menyerbu dan menodai Masjid Al-Aqsa.

Pada 21 Agustus 1969, Masjid Al-Aqsa, yang merupakan kiblat pertama umat Islam, dibakar seorang ekstrimis Zionis asal Australia, Michael Dennis Rohan, yang ditangkap dan diadili.

Namun, pengadilan sandiwara yang dilaksanakan di Tel Aviv memutuskan turis tersebut mengalami gangguan jiwa dan karena itu dia dibebaskan. Untuk menanggapi kejadian pembakaran tersebut, warga muslim di berbagai penjuru dunia melakukan aksi protes damai.

Ia mulai pembakaran secara diam-diam dari gerbang Al- Ghawanmeh. Dia juga membakar mushala Al-Qibli, serta menghentikan aliran air di Masjid Al-Aqsa dengan tujuan untuk menghambat dan menghalangi para jamaah shalat yang dalam upaya memadamkan api tersebut.

Akibat kebakaran tersebut, masjid tersebut mengalami kerusakan berat.

Area pembakaran Masjid Al-Aqsa lebih dari sepertiga dari total area masjid. Di mana lebih dari 1.500 meter persegi dari area total 4.400 meter persegi terbakar. Api telah menyebabkan kerusakan besar pada bangunan Masjid Al-Aqsa, pilar-pilarnya, lengkungan dan dekorasi kuno pada masjid, atap masjid jatuh ke tanah akibat kebakaran tersebut. Dua pilar utama juga roboh bersama dengan lengkungan yang menyangga kubah.

Kerusakan juga terjadi pada kubah hiasan interior, mihrab, dan dinding selatan. Empat puluh delapan jendela masjid, yang terbuat dari gipsum dan kaca patri, hancur, dan karpet serta banyak ornamen dan kaligrafi Al-Quran terbakar.

Kebakaran melahap sayap timur mushallat yang terletak di sisi selatan Masjid Al-Aqsa. Api membakar bagian depan Masjid Al-Aqsa, atapnya, karpet, dan dekorasinya yang langka. Api juga membakar semua isi masjid mulai dari mushaf Al-Quran dan perabotan. Bangunannya rusak parah. Butuh bertahun-tahun untuk merenovasi dan mendekor kembali seperti semula.

Api juga melahap mimbar masjid yang bersejarah, yang dibawa oleh Shalahuddin Al-Ayyubi dari Aleppo, Suriah, ketika umat Islam merebut kembali Yerusalem pada tahun 1187. Mimbar indah ini memiliki kedudukan khusus, di mana Sultan Nuruddin Zanki, yang memerintahkan untuk menyiapkannya pada hari pembebasan Al-Aqsa.

Kejahatan ini terjadi sebagai bagian dari serangkaian tindakan yang diambil oleh penjajah Zionis sejak tahun 1948 dengan tujuan untuk menghapus dan melenyapkan identitas budaya Islam di Al-Quds.

Selain itu, pembakaran Masjid Al-Aqsa mendorong pemerintah negara-negara muslim untuk mendirikan Organisasi Konferensi Islam (sekarang Organisasi Kerjasama Islam – OKI) dengan tujuan menghadapi bahaya yang mengancam dunia dan kesucian Islam.

Ketua Komite Yerusalem untuk Federasi Muslim Dunia Dr. Ahmad Al-Umari menyerukan para ulama, para da’i dan para khotib untuk menyampaikan Khutbah Jum’at tanggal 23 Agustus 2019 dengan tema khusus tentang “Masjid Al-Aqsa dan Peringatan Setengah Abad atas Peristiwa Pembakarannya”

Saudara-saudaraku para ulama, para da’i dan para khotib sekalian. Sebagai bentuk jawaban serta dukungan kepada lembaga-lembaga Al-Aqsa, para Murabithin (penjaga Masjid Al-Aqsa), juga para pembela Al-Aqsa yang telah berjuang dengan jiwa, jasad dan harta mereka, serta sebagian tazkirah atas serangan pembakaran Al-Aqsa oleh Zionis sejak puluhan tahun silam, sekaligus agar Al-Aqsa terus hidup dalam iman dan hati kita, serta sebagai rasa semangat terhadap negara kita, mengajak kita semua agar mendedikasikan Khutbah Jum’at tanggal 23 Agustus 2019 untuk mengungkap tindakan Zionis Penjajah ketika menyerang Al-Aqsa, memobilisasi massa dengan segenap energi mereka sebagai bentuk dukungan kepada para Murabithin serta untuk meneguhkan usaha perjuangan masyarakat Jerusalem dengan segala bentuknya, terutama harta.

Kami juga mengajak semua untuk berpartisipasi dalam setiap acara dan kampanye pembelaan Masjid Al-Aqsa dan Kota Al-Quds (Yerusalem)...”

Peristiwa pedih dan menyakitkan ini masih terngiang, lidah api penjajah masih bergejolak di Masjidil Aqsa, mereka melakukan penindasan dan penyerangan setiap hari.

Mereka masih menyalakan api, api yang selalu hidup dan berdiri, api yang melawan dan mengokohkan para pejuang. Sementara para pejuang kaum Muslimin akan tegas meneriakkan “Akan kami tunaikan shalat di Al-Quds…!! Akan kami kembalikan kehormatan agama ini… Akan kami kembalikan kemuliaannya… Dan akan kami tumpahkan darah kami untuknya…!!“(AK/R01/RS3)

Sumber: Palinfo; #WeAreMaryam

Mi’raj News Agency (MINA)