Api Perjuangan Al-Aqsa Terus Menyala

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Duta Al-Quds Internasional, Redaktur Senior Kantor Berita MINA

Pasukan Zionis Israel boleh saja menembaki warga Muslim Palestina. Namun, semangat juang warga tidak akan pernah mati selamanya.

Pasukan Zionis bisa saja memadamkan aksi demonstrasi warga sekitar Kota Tua Yerusalem. Namun aksi massa justru semakin hidup bak api disiram minyak atau bensin.

Malam saat pasukan Yahudi beraksi melukai puluhan warga, bahkan tak jarang sampai membuat demonstran terbunuh. Namun api perjuangan kaum Muslimin di negeri penuh berkah itu tidak akan pernah mati. Bahkan semakin hidup.

Semangat jihad mereka, terlebih dalam membela kesucian Masjidil Aqsa, serta upaya memakmurkannya, mereka sandarkan pada ayat, di antaranya :

وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّن مَّنَعَ مَسَـٰجِدَ ٱللَّهِ أَن يُذۡكَرَ فِيہَا ٱسۡمُهُ ۥ وَسَعَىٰ فِى خَرَابِهَآ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ مَا كَانَ لَهُمۡ أَن يَدۡخُلُوهَآ إِلَّا خَآٮِٕفِينَ‌ۚ لَهُمۡ فِى ٱلدُّنۡيَا خِزۡىٌ۬ وَلَهُمۡ فِى ٱلۡأَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ۬

Artinya : “Dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya [masjid Allah], kecuali dengan rasa takut [kepada Allah]. Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat”. (QS Al-Baqarah/2 : 114).

Kita sebagai sesama Muslim yang mengetahui kondisi itu, tentu tak boleh membiarkannya begitu saja. Apalagi ini menyangkut kehormatan kaum Muslimin.

Di dalam sebuah hadits juga dikatakan:

مَا مِنْ امْرِئٍ يَخْذُلُ امْرَأً مُسْلِمًا فِي مَوْضِعٍ تُنْتَهَكُ فِيهِ حُرْمَتُهُ وَيُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ إِلَّا خَذَلَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ. وَمَا مِنْ امْرِئٍ يَنْصُرُ مُسْلِمًا فِي مَوْضِعٍ يُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ وَيُنْتَهَكُ فِيهِ مِنْ حُرْمَتِهِ إِلَّا نَصَرَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ نُصْرَتَه

Artinya : “Tidaklah seseorang yang membiarkan seorang Muslim di tempat di mana kehormatannya dilanggar dan dilecehkan, kecuali Allah akan membiarkannya di tempat yang ia menginginkan pertolongan-Nya di sana. Tidaklah seseorang menolong seorang Muslim di tempat yang kehormatannya dilanggar kecuali Allah akan menolongnya di tempat yang menginginkan ditolong oleh-Nya,” (HR Abu Daud dan Ahmad).

Dalam urusan perjuangan Al-Aqsa ini, kita ingat akan pesan yang pernah disampaikan sahabat Nabi, Abdullah bin Rawahah salah satu panglima Perang Mu’tah. Ketika ia dengan gagh berani menerjang pasukan kaum kuffar.

Ia berseru: “Demi Allah! Apa yang tidak kalian sukai dalam kepergian ini sebenarnya adalah sesuatu yang kita cari, yaitu mati syahid. Kita memerangi mereka karena Islam memerintahkan seperti ini, yang dengannya Allah memuliakan kita. Maka berangkatlah! Karena di medan juang sana hanya ada satu dari dua kebaikan yang akan kita jemput : kemenangan atau mati syahid!”

Juang pembebasan Al-Aqsha dan kemerdekaan Palestina, ini tak lepas dari dari keimanan seorang Muslim.

Jika kita mau menghayati, keberadaan Masjidil Aqsa itu tidak lepas dari keimanan kepada Allah. Bagaimana tidak, Al-Aqsa adalah masjid tempat hamba-hamba Allah beribadah kepada-Nya. Dari Al-Aqsa pula awal turunnya perintah shalat fardhu.

Maka, Al-Aqsha adalah bagian yang berharga dari umat Islam dan komponen penting yang tidak dapat dipisahkan dari iman.

Menjadi keinginan iman terdalam kita umat Islam, untuk shalat berjamaah bersama kaum Muslimin di Masjidil Aqsha, di negeri para Nabi, wilayah penuh berkah.

Syeikh Dr Mahmoud Al-Khatib, salah seorang dosen di Mu’assasah Al-Quds Ad-Dauliyah Yaman, menegaskan bahwa jihad memuliakan Al-Aqsa merupakan bukti akidah dan keimananan seseorang. Makin tinggi ruhul jihad seorang mukmin terhadap Al-Aqsa, makin tinggi pula kadar akidah dan keimanannya. Demikian pula sebaliknya makin tidak peduli, menganggap biasa atau bahkan menganggap remeh segala hal yang berkaitan dengan kemuliaan Al-Aqsa, begitulah kadar lemah akidah dan imannya.

Untuk itu, marilah kita semua terus-menerus mempersiapkan diri dengan segala daya dan upaya dengan pertolongan Allah, untuk membela dan mempertahakan Al-Aqsa yang hingga saat ini masih terjajah.

Ini seperti Allah sebutkan di dalam ayat :

وَأَعِدُّوا۟ لَهُم مَّا ٱسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ ٱلْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِۦ عَدُوَّ ٱللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَءَاخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ ٱللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَىْءٍ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

Artinya : “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)”. (QS Al-Anfal/6: 60).

Kita hamba-hamba-Nya hanyalah menjalankan amanah-Nya, melaksanakan perintah-Nya, berjihad di jalan-Nya. Adapun kemenangan adalah hak mutlak Allah. Dan yang mampu mengalahkan Zionis Israel bukanlah pada kekuatan senjata, materi, dan fisik. Tetapi terletak pada akidah yang kokoh kepada Allah dan kekuatan kaum Muslimin berjama’ah.

“Ya Allah tolonglah saudara-saudara kami di Masjidil Aqsa dan sekitarnya dalam menghadapi penindasan Zionis Israel”. Aamiin. (A/RS2/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)