Api Semangat Perang Khaibar untuk Kalahkan Yahudi

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Duta Al-Quds Internasional, Redaktur Senior Kantor Berita MINA

Perang Khaibar merupakan salah satu perang besar yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Perang Khaibar terjadi pada tahun 9 Hijriyah, setelah Fathu Makkah (tahun 8 Hijriyah). Khaibar adalah nama tempat pemukiman Yahudi, sekitar 30 km sebelah timur laut kota Madinah.

Sebelum Perang Khaibar berlangsung, orang-orang Yahudi waktu itu mampu mengalahkan reputasi penduduk Madinah, yaitu suku Aus dan Khajraz. Keahlian Yahudi tersebut mereka gunakan untuk menguras sumberdaya harta, alam dan warga setempat. Mereka mengembangkan sistem riba, yang membuat para petani jazirah Arab tidak berdaya.

Sebagai produsen, banyak warga terbelenggu riba yang diterapkan orang-orang Yahudi sebagai bandar. Sedangkan sebagai konsumen, mereka juga kesusahan mengingat segala kebutuhan dipasok dan ditentukan harganya oleh para distributor Yahudi.

Setelah umat Islam datang berhijrah dari Mekkah ke Madinah, lambat laun keadaan mulai berubah. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mulai menata muamalah (sistem sosial) umat Islam. Beliau menata perekonomian masyarakat berlandaskan kejujuran, keadilan, bebas riba, dan jauh dari eksploitasi ekonomi.

Sistem ekonomi yang dicontohkan para sahabat, segera menarik perhatian banyak kalangan di sekitar Madinah. Masyarakat pun berbondong-bondong menyambut sistem itu.

Sementara itu kaum Yahudi merasa tersisihkan karena sistem kapitalisme-liberalisme ekonomi berbasis riba yang mereka kendalikan selama ini mulai terancam. Padahal sistem ekonomi syariah yang melarang riba, yang diterapkan Islam, justru untuk keuntungan dan kesejahteraan semua pihak, termasuk nonmuslim dan Yahudi sekalipun.

Akibat merasa tersisihkan dan mereka tidak lagi menjadi superpower yang biasanya dengan bebasnya semaunya sendiri mengendalikan masyarakat dengan sistem ribanya. Mereka pun berusaha melawan kekuatan umat Islam, dengan cara melakukan persekongkolan jahat dengan kabilah-kabilah kafirin-musyrikin Arab.

Terlebih, musyrikin Quraisy merasa dipermalukan akibat kekalahan sebelumnya dalam perang Badar (th 2 Hijrah), Perang Khandaq (6 Hijrah), Fathu Mekah (8 Hijrah) hingga perang Hunain (8 Hijrah).

Andalan Yahudi waktu itu hanya tinggal benteng-benteng Khaibar yang terkenal kokoh lagi kuat. Mereka menyimpan cadangan makanan untuk dua tahun, dan menyiapkan persenjataan terhebat yang belum pernah ada dalam sejarah peperangan masa itu.

Namun benteng kokoh itu pun pada akhirnya dapat dirobohkan oleh pasukan kaum Muslimin di bawah panglima medan tempur terdepan Ali bin Abi Thalib. Umat Islam hanya memerlukan waktu singkat saja untuk merebutnya.

Kekalahan Yahudi di benteng-benteng yang kuat di Khaibar itu, kemudian menjadi dongeng sebelum tidur yang terus-menerus diceritakan para orang tua kepada anak cucunya. Agar tumbuh dendam berkepanjangan bagaimana dapat mengalahkan umat Islam.

Merekapun mempelajari Al-Quran, apa ayat yang turun kepada Muhammad ketika dapat mengalahkan Yahudi.

Lalu, ditemukanlah ayat di dalam Surat Al-Hasyr ayat 14  :

لا يُقاتِلُونَكُمْ جَميعاً إِلاَّ في قُرىً مُحَصَّنَةٍ أَوْ مِنْ وَراءِ جُدُرٍ بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَديدٌ تَحْسَبُهُمْ جَميعاً وَ قُلُوبُهُمْ شَتَّى ذلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْقِلُونَ

Artinya : “Tidaklah mereka akan memerangi kalian dalam keadaan bersatu-padu, kecuali di dalam kampung-kampung yang diben¬tengi atau dari belakang dinding-dinding; permusuhan di antara sesama mereka sangat hebat. Engkau sangka mereka bersatu, padahal hati mereka berpecah-¬belah. Yang demikian itu ialah karena mereka itu adalah kaum yang tidak berakal”. (QS Al-Hasyr/59: 14).

Oleh Yahudi Zionis Internasional, kekalahan nenek-moyang mereka pada Perang Khaibar dijadikan bahan kajian. Diolah sedemikian rupa dari kelemahan menjadi kekuatan. Lalu dialihkan dengan berbagai cara kepada kalangan umat Islam masa kini.

Sehingga yang terjadi sekarang, Yahudi mempersatukan diri dalam ikatan yang kuat Zionisme Intenasional. Sedangkan umat Islam dibuat tercerai-berai dalam berbagai pecahan-pecahannya.

Maka, untuk menghadapi persekongkolan jahat Zionis Yahudi yang semakin semena-mena di Palestina, wabil khusus di kawasan Masjidil Aqsa, tidak lain kaum Muslimin harus berjuanga berjama’ah.

Semangat persatuan dan kesatuan (bil jama’ah) inilah yang merupakan kekuatan untuk pembebasan Masjidil Aqsa dan kemerdekaan Palestina. Bukan hanya itu, bahkan untuk mengangkat harkat, martabat dan kehormatan Islam dan muslimin, “Li ‘izztil Islam wal muslimin”.

Maka, kalau Yahudi saat mengalahkan Muslim Arab dalam Perang Enam Hari 1967 meneriakkan, “Muhammad, maat, maat, wa khalafa banaat”. (Muhammad -pasukan umat Muhammad- telah mati, mati, hanya menyisakan anak-anak perempuan).

Maka, teriakkan itu kita balas dengan teriakan lebih kencang lagi, lebih keras lagi, lebih bersemangat lagi, “Khaibar, khaibar ya Yahud, Jaisyu Muhammad saufa ya’ud”. (Khaibar, Khaibar hai Yahudi. Tentara Muhammad –umat Muhammad- datang kembali). Allahu Akbar! Al-Aqsa Haqquna!! (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)