Arab Saudi Harapkan Houthi Setuju Genjatan Senjata di Yaman

Riyadh, MINA – Menteri Luar Negeri Arab Saudi Faisal bin Farhan Al-Saud   berharap Houthi akan menanggapi secara positif inisiatif gencatan senjata di Yaman untuk hindari terus berlangsungnya pertumpahan darah dan memberikan kesempatan untuk solusi politik

Pemerintah Arab Saudi pada Senin (22/3) mengajukan rencana gencatan senjata kepada kelompok pemberontak Houthi di Yaman. Demikian Menlu dalam pernyataan yang disiarkan di televisi.

Ia mengatakan, inisiatif tersebut telah diberlakukan dari pihak Saudi, demikian Anadolu Agency.

“Arab Saudi mengumumkan inisiatif yang mencakup gencatan senjata komprehensif di bawah pengawasan PBB, pembukaan Bandara Internasional Sana’a untuk sejumlah penerbangan, dan dimulainya konsultasi antara berbagai pihak di bawah naungan PBB,” tambah menteri itu.

Sebelumnya, Arab Saudi telah memberitahui PBB tentang niatnya untuk mengumumkan gencatan senjata sepihak di Yaman dalam beberapa jam.

Sumber itu mengatakan, langkah Saudi datang untuk mendukung upaya Utusan Khusus AS untuk Yaman Timothy Lenderking dan Utusan Khusus PBB untuk Yaman Martin Griffiths, mencapai penyelesaian dan mengakhiri konflik.

Pada 9 April 2020, Koalisi yang dipimpin Saudi mengumumkan, gencatan senjata di Yaman selama dua pekan untuk mendukung upaya pandemi virus corona dan kemudian memperpanjangnya beberapa kali.

Awal bulan ini, koalisi pimpinan Saudi meluncurkan kampanye udara membebaskan wilayah yang dikuasai pemberontak Houthi, sebagai balasan atas peningkatan serangan roket dan drone Houthi di wilayah Saudi.

Pada 18 Maret, Anggota Dewan Keamanan PBB meminta pihak-pihak yang bertikai di Yaman untuk berkumpul dan bekerja dengan utusan khusus PBB agar bernegosiasi tanpa prasyarat.

Yaman dilanda kekerasan dan kekacauan sejak 2014, ketika Houthi menguasai sebagian besar negara, termasuk Ibu kotanya, Sana’a.

Krisis meningkat pada 2015 ketika koalisi militer pimpinan Saudi meluncurkan kampanye udara yang bertujuan menggulung kembali kemenangan teritorial Houthi.

Puluhan ribu orang Yaman, termasuk warga sipil, diyakini telah tewas dalam konflik tersebut, yang menyebabkan apa yang dikatakan PBB sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia karena jutaan orang berhadapan dengan risiko kelaparan. (T/R4/P1)

 

 

Mi’raj News Agency (MINA)