Arti Keunggulan Bani Israel (Oleh: Imaam Yakhsyallah Mansur)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَٰبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ ٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتِىَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّى فَضَّلْتُكُمْ عَلَى ٱلْعَٰلَمِينَ (البقرة [٢]: ٤٧)

“Wahai , ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat.” (QS Al-Baqarah [2]: 47)

Redaksi ayat di atas kembali diulang pada ayat 122 pada surah yang sama, yakni Al-Baqarah, surah kedua dalam urutan Al-Qur’anul Karim.

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah (700-774 H) menjelaskan ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan Bani Israil atas nikmat-nikmat yang telah dilimpahkan kepada nenek moyang mereka terdahulu berupa keunggulan dan yang dianugerahkan.

Abu Ja’far Ar-Razi meriwayatkan dari Ar-Rabi bin Anas dari Abul Aliyah, bahwa yang dimaksud keutamaan pada ayat di atas adalah Bani Israil dikaruniai kerajaan yang besar, diutusnya banyak nabi dan rasul, kitab-kitab yang diturunkan, dan mereka diunggulkan atas umat lain pada masa itu.

Sementara itu, Imam Ahmad Musthafa Al-Maraghi Rahimahullah (1300-1371 H) menjelaskan ayat di atas, bahwa Bani Israil yang diberi keutamaan adalah nenek moyang mereka yang berpegang teguh kepada ajaran tauhid dan syariat-syariat yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para nabi dan rasul mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan hal itu agar Bani Israil pada masa Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam mengikuti nenek moyang mereka yang shalih, agar mendapat keutamaan pula sebagaimana yang telah para pendahulunya dapatkan.

Apabila Bani Israil melanggar perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengingkari janji-janji mereka, dan mengkufuri nikmat-nikmat-Nya, maka kehinaan, kemiskinan dan laknat Allah Ta’ala lah yang akan mereka dapatkan.

Ulama Nusantara, Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka) Rahimahullah (1908-1981 M) menjelaskan, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membebaskan Bani Israil dari perbudakan dan penindasan, menyediakan makanan dan minuman bergizi. mengalahkan bangsa yang menghambat jalan mereka, dan memberi pemimpin yang unggul, yakni Nabi Musa Alaihi Salam.

Keutamaan itu bukan semata-mata karena darah keturunan (nasab), tetapi karena keteguhan mereka dalam berpegang teguh pada ajaran tauhid dan kesungguhan mengamalkan syariat-syariat yang diturunkan kepada para nabi mereka.

Prof. Hamka menegaskan, keutamaan yang diberikan kepada Bani Israil itu tidak selamanya (ada batas waktunya), yakni hingga sebelum diutusnya Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi Wasallam. Adapun setelah diutusnya beliau, maka umat yang mulia dan dikaruniai keutamaan adalah mereka yang mengikuti syariat-syariat yang dibawa Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan hal itu dalam firman-Nya:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللّٰهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ (ال عمران [٣]: ١١٠)

“Kamu (umat Islam) adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Ali Imran [3]: 110)

Keunggulan Bani Israil Ketika Berpegang Teguh kepada Ajaran Tauhid

Bani Israel mendapatkan keutamaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala karena mereka masih berpegang teguh kepada tauhid dan melaksanakan syariat-syariat yang dibawa Musa Alaihi Salam.

Mereka diselamatkan dari kekejaman dan penindasan Fir’aun di Mesir. Dari Mesir, mereka diminta untuk masuk ke Baitul Maqdis. Namun sebagian dari mereka membangkang, sehingga Bani Israil tersesat selama 40 tahun di lembah Tih.

Setelah itu, mereka bertaubat dan taubatnya diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka memasuki Baitul Maqdis dipimpin oleh Nabi Yusya’ bin Nun.

Beberapa ratus tahun berlalu, mereka kembali dijajah Jalut yang kejam. Jalut merupakan salah satu raja berasal dari wilayah Babilonia (Irak saat ini). Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaruniakan kepada Bani Israil seorang yang mampu membebaskan mereka dari kekejaman Jalut, yakni Thalut dan Nabi Daud Alaihi Salam.

Nabi Dawud Alaihi Salam adalah seorang Muslim yang mengajarkan tauhid kepada Allah.  Beliau adalah orang shalih, terkenal dengan kezuhudannya. Meskipun beliau seorang raja, beliau tidak mengonsumsi makanan, kecuali dari hasil jerih payah usahanya sendiri, tidak makan dari pajak rakyatnya.

Sepeninggal Nabi Dawud Alaihi Salam, kerajaan Bani Israil dilanjutkan oleh puteranya, yang menjadi raja, Raja yakni Nabi Sulaiman Alaihi Salam.

Nabi Sulaiman Alaihi Salam diberi mukjizat di antaranya kemampuan menundukkan angin sesuai perintahnya, menundukkan jin dan berbicara dengan bahasa binatang, seperti burung dan semut.

Nabi Sulaiman Alaihi Salam juga berhasil mengislamkan negeri Saba, berikut pemimpinnya yaitu Ratu Balqis.

Sepeninggal Nabi Sulaiman Alaihi Salam, Bani Israel kembali melakukan berbagai penyimpangan terhadap ajaran tauhid. Mereka juga terjebak dalam perpecahan dan peperangan. Akibatnya, mereka kembali ditindas bangsa lain, menjadi budak di berbagai negeri.

Bani Israil Saat Ini

Zionis Israel yang saat ini menjajah, menindas dan melakukan aksi genosida terhadap bangsa Palestina adalah manifesto dari Bani Israil yang berperangai sangat buruk, sebagaimana yang diceritakan dalam Al-Qur’an.

Perbuatan biadab dan kekejian yang dilakukan Zionis Yahudi Israel, dikritik oleh masyarakat internasional, termasuk oleh warganya sendiri. Salah satunya adalah Shlomo Sand, ahli sejarah dari Universitas Tel Aviv. Penulis buku The Invention of The Jewish People (2009) itu menyebut, Israel sesungguhnya bukan sebuah negara demokrasi ataupun teokrasi, melainkan negara etnokrasi.

Etnokrasi adalah salah satu tipe pemerintahan negara yang dikendalikan oleh kelompok etnis dominan. Karenanya, mereka mendiskriminasi warga negara lainnya yang minoritas, termasuk sesama Yahudi sendiri.

Dalam buku yang lain, berjudul “Pretending Democracy: Israel, an Ethnocratic State“, yang ditulis seorang peneliti sejarah bernama Naeem Jeenah, ia menyebut negara Israel sebagai sebuah negara penuh dengan kepura-puraan belaka, dibuat untuk menutupi pembersihan etnis (ethnic cleansing) yang mereka lakukan.

Untuk menghentikan aksi genosida Zionis Israel, Keputusan terbaru yang dikeluarkan oleh Mahkamah Internasional (International Court Of Justice/ICJ) pada Jumat (26/01/2024) memerintahkan Israel untuk mengambil tindakan  mencegah tindakan genosida yang mereka lakukan di Jalur Gaza.

Dalam keputusannya, pengadilan ICJ mendesak negara Zionis itu untuk memperbaiki situasi kemanusiaan di di Gaza, menghentikan agresi dan mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke wilayah itu.

Agresi yang dilakukan Zionis Israel terhadap Gaza sudah memakan puluhan ribu korban jiwa. Hingga akhir Januari 2024, jumlah korban yang gugur mencapai 26 ribu jiwa dan 65 ribu lainnya mengalami luka-luka. Sebagian besar korban adalah anak-anak dan wanita.

Dalam agresinya ke Gaza, pasukan Zionis Israel membombardir rumah sakit, masjid, gereja, sekolah, tempat pengungsian warga sipil. Tindakan itu jelas melanggar hukum internasional, mengabaikan Hak Asasi Manusia (HAM) dan merendahkan nilai-nilai kemanusiaan.

Sementara itu, undang undang (UU) dan berbagai kebijakan yang dibuat para pimpinan negara Israel semuanya diskriminatif, dirancang untuk melanggengkan kepentingan Zionis dan menghapus eksistensi kelompok selainnya di wilayah itu.

Semua perbuatan jahat yang mereka lakukan sesungguhnya hanyalah akan mempercepat datangnya siksaan dan hukuman Allah Ta’ala kepada mereka, sebagaimana yang telah dijanjikan dalam Al-Qur’an:

إِنۡ أَحۡسَنتُمۡ أَحۡسَنتُمۡ لِأَنفُسِكُمۡ‌ۖ وَإِنۡ أَسَأۡتُمۡ فَلَهَا‌ۚ فَإِذَا جَآءَ وَعۡدُ ٱلۡأَخِرَةِ لِيَسُـۥۤـُٔواْ وُجُوهَڪُمۡ وَلِيَدۡخُلُواْ ٱلۡمَسۡجِدَ ڪَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ۬ وَلِيُتَبِّرُواْ مَا عَلَوۡاْ تَتۡبِيرًا (الاسراء [١٧]: ٧)

“Jika kamu berbuat baik [berarti] kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi [kejahatan] yang kedua, [Kami datangkan orang-orang lain] untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai”. (Q.S. Al Isra [17]: 7).

Mantan kepala Badan Intelijen Israel, Mossad, Meir Dagan mengatakan dalam wawacaranya dengan Jerusalem Post beberapa tahun silam berkata, “Kami sudah di bibir tebing kehancuran. Saya tidak menyampaikan ini berlebihan dan saya tidak bilang ini tragedi. Namun kami saat ini menghadapi berbagai prediksi buruk apa yang akan terjadi di masa mendatang.”

Sementara itu, cendikiawan Palestina, Dr. Bassam Nahad Jarrar menguraikan bahwa dua janji Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Bani Israil yang diturunkan dalam kitab Taurat. Menurut Kitab Taurat, Allah Ta’ala menetapkan bahwa Bani Israil akan memasuki bumi yang diberkati, yaitu Palestina.

Di sana, mereka akan mendirikan pemerintahan. Tetapi kemudian mereka membuat kerusakan besar sehingga menyebabkan Allah Ta’ala menghukum mereka dengan cara mengirim hamba-hamba-Nya yang tangguh. Setelah kerajaan mereka binasa, mereka diusir dan dicerai-beraikan.

وَاللَٰهُ ‌أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

(A/P2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)