Washington, 4 Ramadhan 1435/2 Juli 2014 (MINA) – Juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat Jen Psaki mengatakan, Negara Islam Irak dan Levant (ISIS) yang mengumumkan “kekhalifahan” untuk menyatukan daerah-daerah yang mereka rebut di Irak dan Suriah, tidak bermakna apa-apa.
“Kami telah melihat pernyataan-pernyataan seperti ini sebelumnya dari ISIS,” kata Jen Psaki, demikian dilaporkan Press Tv yang dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Selasa.
“Pernyataan tersebut tidak memiliki makna apa-apa bagi rakyat di Irak dan Suriah,” hal itu menunjukkan bahwa organisasi ini sedang mencoba untuk “menenteramkan rasa takut rakyat dengan fatwanya”.
Gedung Putih mengatakan, kelompok ISIS telah melancarkan sebuah “kampanye teror dengan menggunakan tindakan kekerasan yang mengerikan dan ideologi represif yang menimbulkan ancaman serius bagi masa depan Irak”.
Baca Juga: Uni Eropa: Situasi di Pusat Distribusi Makanan GHF di Gaza ‘Tidak Dapat Ditoleransi’
Juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest mengatakan, “ISIS tidak berjuang membangun Irak agar lebih kuat, sebaliknya, ISIS berupya untuk menghancurkan Irak.
Terkait rencana parlemen Irak untuk mengadakan sidang pertamanya, Rabu, Psaki mengatakan, Washington “terus mendesak para pemimpin Irak untuk mencapai kesepakatan antara presiden dan perdana menteri terkait pembentukan pemerintahan baru.
Organisasi Negara Islam Irak dan Levant (ISIS) mengumumkan, pada Ahad, menyatakan pembentukan “Khilafah Islam” dan berjanji setia kepada pemimpinnya Abu Bakr Al-Baghdadi sebagai “Khalifah Islam” dan berganti nama menjadi “Negara Islam”.
ISIS mengontrol daerah yang luas di utara dan timur Suriah. Organisasi ini telah mampu memperluas wilayahnya selama beberapa minggu terakhir ke daerah yang lebih besar di Irak utara dan barat. (T/P012/EO2)
Baca Juga: Trump Umumkan Akan Ada Laga UFC di Halaman Gedung Putih
Mi’raj Islamic News Agency (MINA)