AS Mitra “yang Sangat Tidak Bisa Diandalkan” Turki

Amerika Serikat (AS) telah menjadi “mitra yang sangat tidak bisa diandalkan” bagi Pemerintah Turki sebagai akibat dari ketidakkonsistenan kebijakan Washington di Suriah, serta pendekatannya terhadap Turki dan kelompok “teroris”.

Pandangan itu diutarakan oleh Yasin Aktay, penasihat bagi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Partai AK, kepada Al Jazeera.

“Masalah dan kesalahpahaman antara AS dan Turki adalah hasil dari kebingungan dan hiruk-pikuk antara para aktor di berbagai tingkat pemerintahan dan lembaga AS,” kata Aktay dalam sebuah wawancara hari Senin, 14 Januari 2018.

Dukungan Washington terhadap pejuang Kurdi di Suriah menjadi “duri” dalam hubungan AS – Turki.

Menjadi pertanyaan, apa yang akan terjadi dengan Kurdi jika pasukan AS sudah ditarik habis dari Suriah.

Pekan awal bulan Januari, Erdogan pernah mengatakan, Pemerintah AS “sangat keliru” dalam bekerja sama dengan pejuang Kurdi Suriah. Sementara itu pada Ahad, 13 Januari, Presiden AS Donald Trump mengancam akan “menghancurkan secara ekonomi” Turki jika melakukan serangan militer terhadap milisi Kurdi.

“Kami telah mengatakan berulang kali bahwa kami tidak takut dan tidak akan diintimidasi oleh ancaman apa pun,” kata Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu kepada wartawan, kemudiannya. “Ancaman ekonomi terhadap Turki tidak akan berhasil.”

Trump telah mengumumkan penarikan sekitar 2.000 tentara AS dari Suriah bulan lalu. Keputusan itu mengejutkan banyak politisi di Washington serta sekutu Barat, termasuk pejuang Kurdi Suriah yang berperang melawan Islamic State (ISIS) bersama pasukan AS

 

Washington dalam “Kebingungan”

Menurut Aktay, tidak jelas proses penarikan pasukan AS sejak pengumuman Trump serta dalam pendekatannya terhadap “kelompok teroris” yang berbeda.

Trump terjebak di antara opini publik AS yang secara luas mempertanyakan kehadiran AS di Suriah dan Timur Tengah yang lebih luas. Sementara politisi dari partai dan negara-negara sekutunya seperti Israel dan Arab Saudi menentang penarikan itu. Trump sendiri telah menggeser waktu penarikan beberapa kali selama beberapa pekan terakhir.

Keputusan Trump untuk menarik pasukan pada awalnya dijadwalkan dilakukan dengan cepat, tetapi jadwal menjadi tidak jelas dan beberapa kondisi ditetapkan dalam berpekan-pekan setelah pengumumannya, termasuk keamanan Pasukan Demokratik Suriah (SDF), yaitu pasukan anti-ISIS yang dipimpin oleh Unit Perlindungan Rakyat (YPG) Kurdi.

“Washington melawan satu kelompok teroris, Daesh (ISIS), sementara mendukung yang lain, YPG. Ketidakkonsistenan  dalam kebijakan AS seperti itu menurunkan reputasi negara tersebut sebagai kekuatan global,” kata Aktay.

Serangan SDF yang didukung AS adalah bagian dari berbagai operasi yang telah mengusir pejuang ISIS dari sebagian besar wilayah Suriah dan Irak yang dikuasai pada tahun 2014.

Pemerintah Turki menganggap YPG dan sayap politiknya, Partai Persatuan Demokratik (PYD), sebagai “kelompok teroris” yang memiliki hubungan dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang dilarang, yang telah melakukan perang di Turki sejak 1980-an.

Turki telah lama mengutuk Washington karena hubungan militernya dengan YPG dan berusaha mengambil alih daerah-daerah yang dikuasai milisi di sebelah timur Sungai Eufrat di Suriah.

Ankara telah meluncurkan dua operasi militer di Suriah utara selama tiga tahun terakhir yang menargetkan YPG dan ISIS.

 

Peringatan dari Sekutu

Setelah pengumuman penarikan oleh Trump, maka Perancis, Inggris dan kelompok-kelompok bersenjata lokal memperingatkan bahwa ISIS belum sepenuhnya dikalahkan di Suriah. Keputusan itu juga mendorong pengunduran diri Menteri Pertahanan AS James Mattis.

Selanjutnya, para pejabat AS menjelaskan, penarikan itu tidak akan terjadi dengan cepat dan akan berlangsung dengan tertib, karena Gedung Putih menghadapi reaksi keras dari anggota Kongres.

Aktay mengatakan AS mengabaikan ancaman yang diajukan YPG kepada Turki dan terus membuat kesalahan dengan mengidentifikasi kelompok itu dengan Kurdi Suriah.

“Para pejabat AS terus berbicara dengan PYD dan YPG, seolah-olah kelompok-kelompok ini mewakili Kurdi Suriah. Ini memalukan. Ada etnis lain di kelompok ini dan mereka terlibat dalam kegiatan teroris terlepas dari etnis mereka,” katanya kepada Al Jazeera.

“Sebagai sekutu NATO, AS mendukung dan memilih bekerja sama dengan ancaman terhadap sekutu NATO lainnya, muncul sebagai mitra yang sangat tidak bisa diandalkan,” tambahnya. (AT/RI-1/P1)

Sumber: tulisan Umut Uras di Al Jazeera

 

Mi’raj News Agency (MINA)