AS Prihatin Jumlah Kekerasan di Sudan

Washington, MINA – Pemerintah Amerika Serikat pada Rabu (23/1) menyatakan, keprihatinannya soal meningkatnya jumlah penangkapan, penahanan dan korban yang terluka dan terbunuh setelah protes selama hampir sebulan di Sudan.

Wakil juru bicara Departemen Luar Negeri Robert Palladino mengatakan, AS mendukung hak rakyat Sudan untuk berkumpul secara damai guna menyuarakan tuntutan mereka akan reformasi politik dan ekonomi dan Sudan yang lebih damai dan inklusif.

“Kami mengutuk penggunaan kekerasan, termasuk penggunaan tembakan langsung dan penggunaan gas air mata yang berlebihan oleh pasukan keamanan Sudan,” kata Palladino.

“Hubungan yang lebih positif antara kedua negara membutuhkan reformasi politik yang signifikan dan kemajuan yang jelas dan berkelanjutan tentang penghormatan terhadap hak asasi manusia,” tambahnya.

Palladino mendesak pemerintah Sudan untuk membebaskan semua jurnalis, aktivis dan pengunjuk rasa damai yang telah ditahan secara sewenang-wenang, serta meminta pemerintah untuk mengizinkan akses penuh ke perwakilan hukum bagi mereka yang menghadapi dakwaan.

Dia mendesak pemerintah untuk dilakukannya penyelidikan yang kredibel dan independen terhadap kematian dan kekerasan yang dialami pengunjuk rasa.

“Pemerintah harus mengatasi keluhan penduduk dan menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi publik dan dialog dengan oposisi dan masyarakat sipil dalam proses politik yang lebih inklusif,” ujar Palladino.

Sejak pertengahan Desember, Sudan diguncang oleh demonstrasi massa di beberapa bagian negara itu.

Para pengunjuk rasa menyalahkan Presiden Omar al-Bashir dan Partai Kongres Nasional yang berkuasa atas kegagalan mereka untuk memperbaiki keburukan ekonomi negara dan menyerukan pengunduran dirinya.

Menurut pernyataan pemerintah, lebih dari 20 orang tewas dalam bentrokan antara demonstran dan pasukan keamanan sejak protes dimulai.

Kelompok oposisi mengatakan jumlah korban tewas mencapai 40 orang.

Berkuasa sejak 1989, al-Bashir berjanji untuk melakukan reformasi ekonomi yang mendesak di tengah seruan yang berkelanjutan oleh oposisi untuk terus berdemonstrasi.

Sebagai negara berpenduduk 40 juta jiwa, Sudan berjuang untuk pulih dari kehilangan tiga perempat produksi minyaknya yang menjadi sumber utama mata uang asing, sejak pemisahan Sudan Selatan pada 2011. (T/R03/RS1)

Mi’raj News Agency (MINA)