Asam Sunti, Inovasi Baru Untuk Cairan Pencuci Piring Khas Aceh

Banda Aceh, MINA – Sebahagian orang menganggap asam sunti sebagai bumbu dapur khas Aceh yang terbuat dari belimbing wuluh yang dikeringkan. Bagi kebanyakan orang Aceh, bumbu satu ini wajib ada di dapur. Kegunaannya banyak dipakai untuk memberi rasa asam dan gurih pada masakan.

Namun siapa sangka, ditangang Mirza, asam sunti justru diolah menjadi cairan pencuci piring, terinspirasi dari kebiasaan emak-emak jaman dulu yang menggunakan asam sunti untuk mencuci piring serta memberisihkan lantai rumah yang kotor.

Sebenarnya, orang jaman dulu punya banyak ide-ide kreatif, lantaran tidak bisa dikembangkan, akhirnya termakan oleh jaman, sehingga Mirza berinisiatif untuk mengembangkan menjadi sabun yang lebih praktis, tentunya dengan bahan dasar asam sunti yang lebih lokalistik.

Hal ini disampaikan Rachmad Siregar, menejer Mak Rah Pireng (Mamak Cuci Pring) saat wartawan Mina menyambangi rumah produksi, jalan Sultan Malikulsaleh, Lhong Raya, kota Banda Aceh.

“Didaerah belaiau asam sunti selain bumbu masak juga berfungsi sebegai pembersih lemak, pada acara pesta jaman dulu, ibu-ibu menggunakan asam sunti untuk membersihkan peralatan masak dan lantai, terlintas ide Mirza untuk mengembangkan menjadi produk caairan pencuci piring,” kata Rachmad Siregar, Senin (18/3).

Selama ini, pihaknya mengambil bahan baku asam sunti dari desa Lubok Gapuy kecamtan Ingin Jaya, Aceh Besar. Desa Lubok Gapuy merupakan salah satu desa wisata yang ada di Aceh Besar.

Menurut Rachmad, warga didesa tersebut sangat ramah dan terbuka bagi pendatang dari luar, sehingga sangat mudah untuk diajak bekerjasama didalam menyediakan bahan baku untuk produksi Mak Rah Pireng.

“Dulu mereka jual ke pengepul dengan harga murah, namun kita ambil dengan harga lebih tinggi, tentu dengan standar kita. Kita ambil nya yang sudah jadi asam sunti bukan belimbing wuluh,” sebut Rachmad.

Di Lubok Gapuy, tidak ada kebun khusus belimbing wuluh, hanya saja hampir disetiap rumah di desa tersebut punya pohon belimbing, “Minimal mereka punya satu hingga dua batang pohon belimbing disetaip rumah di desa itu,” terang Rachmad.

Pada tahap pruduksi, jelas Rachmad, setiap 150 liter Mak Rah Pireng, pihaknya menggunakan 7 liter ektrak asam sunti atau sekitar 4,6 persen. Dirinya juga bekerjasama dengan Univeritas Syiah Kuala Banda Aceh dalam segi pengembangan serta uji laboraturiom untuk produksi Mak Rah Pireng.

Dalam satu hari, Mak Rah Pireng mampu memproduksi 300 hingga 400 liter dalam bentuk jirigen ukuran lima liter, botol dan juga kemasan saset.

Rachmad mengkalim produk yang dihasilkan juga sudah mendapat lebel halal dari Majelis Ulama Indonesia atau MUI, sehingga sudah terjamin untuk digunakan, hanya saja saat ini pihaknya masih menunggu proses perijinan untuk penjualan di luar provinsi Aceh.

“Kalau di Aceh kita sudah hampir seluruh kabupaten kota, tapi untuk di luar Aceh produk kita belum masuk,” pungkasnya.

produk Mak Rah Pireng juga satu dari 10 Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) yang dikirim Kemenristekdikti untuk mengikuti program pelatihan pada 17-26 Januari 2019 di London. Produk inovatif bimbingan Inkubator Bisnis Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) itu, menduduki peringkat 2 dalam kompetisi grup Indonesia di akhir training.

Berdasarkan penilaian, belimbing wuluh yang merupakan bahan utama sabun ‘Mak Rah Pireng’ terbukti ramah lingkungan dan gampang didapat di negara tropis, terutama di Indonesia.

Berkat penghargaan tersebut, produk Aceh ini menjadi boming, sehingga banyak yang meminta untuk dipasarkan di luar provinsi Aceh, seperti Riau, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Tanggerang dan Jakrta.

Namun pihaknya mengaku terkendala di biaya pengiriman ke luar provinsi Aceh, bahkan biaya pengiriman bisa lebih mahal dari produk yang kita pasarkan. Tapi Mak Rah Pireng punya mimpi besar, sehingga produk ini bisa dipasarkan di tingkat nasional. (L/AP/RS3)

Mi’raj News Agency (MINA)