Assad: Inggris, AS, Perancis Sengaja Perpanjang Perang di Suriah

Damaskus, MINA – Presiden Suriah Bashar Al-Assad dalam sebuah wawancara dengan Mail on Sunday mengatakan, Inggris, Amerika Serikat (AS) dan Perancis mendukung pasukan pemberontak di Suriah untuk menyerang warga sipil.

Assad juga mengatakan, Inggris dan Perancis adalah satelit politik bagi AS yang ingin memperpanjang perang di Suriah.

Inggris secara terbuka mendukung Helm Putih yang merupakan cabang dari Al Qaeda, Al-Nusra, di berbagai wilayah Suriah.

“Mereka (Inggris) menghabiskan banyak uang, dan kami menganggap Helm Putih sebagai aksi PR oleh Inggris. Jadi ya, pasti, itu dipentaskan oleh ketiga negara ini bersama, dan Inggris terlibat,” katanya seperti dilaporkan MEMO, Senin (11/6).

Douma adalah situs serangan senjata kimia yang dicurigai oleh pasukan Suriah dan Rusia pada April lalu, sejumlah warga sipil tewas dalam serangan yang menyebabkan AS, Perancis, dan Inggris menyerang tempat-tempat rezim di negara itu.

“Pemerintah Inggris harus terlebih dahulu membuktikan dengan bukti bahwa serangan itu terjadi dan kemudian mereka harus membuktikan siapa yang bertanggung jawab – tentu saja ini tidak terjadi,” tegas Assad.

Tindakan AS dan Inggris di Suriah adalah “invasi, mereka melanggar kedaulatan Suriah”, Assad melanjutkan, “berbeda dengan Rusia yang diundang Pemerintah Suriah, karena itu keberadaan Rusia di Suriah adalah keberadaan yang sah, demikian juga Iran.”

Asad juga dengan tegas mengungkapkan, bahwa tujuan intervensi yang dilakukan oleh negara Barat di Suriah, utamanya adalah perubahan rezim.

“Ini adalah kebijakan kolonial, begitulah kami melihatnya, dan ini bukan hal baru. Mereka tidak pernah mengubah kebijakan ini sejak cara kolonialisme lama yang ada pada awal abad ke-20 dan abad ke-19 dan sebelumnya, tetapi hari ini ditutupi oleh topeng baru, atau topeng yang berbeda,” terang Assad.

“Semakin kita maju, semakin banyak dukungan yang dimiliki teroris dari Barat,” Assad menambahkan, “kami akan mencapai rekonsiliasi di bagian selatan Suriah hanya dua minggu lalu, tetapi Barat mengganggu dan meminta para teroris untuk tidak melakukan rekonsiliasi.” ikuti jalan ini untuk memperpanjang konflik Suriah. ”

Perang saudara meletus di Suriah sejak tahun 2011 setelah rezim menanggapi dengan keras terhadap protes-protes rakyat yang tidak bersenjata yang menyerukan diakhirinya 44 tahun pemerintahan keluarga Assad di negara itu dan untuk kepentingan demokrasi. (T/B05/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)