Avigdor Lieberman, Ancaman Masa Depan Palestina

Oleh Rudi Hendrik, jurnalis Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Pada Februari 2015, Avigdor Lieberman, Menteri Pertahanan Israel yang baru, yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Luar Negeri menyatakan bahwa, “Operasi (militer) keempat di Jalur Gaza tidak bisa dihindari, seperti perang Lebanon ketiga yang tidak bisa dihindari.”

Dua tahun sudah pasca perang Israel yang dinamai Operasi Protective Edge di Jalur Gaza, wilayah kantong pesisir Palestina yang diblokade.

Penunjukan Lieberman sebagai Menteri Pertahanan Israel kemungkinan besar akan membawa dia selangkah lebih dekat untuk mencapai ramalannya.

“Kita seharusnya tidak tertipu oleh Zionis yang membenci bersatunya Lieberman-Netanyahu,” tulis Refaat Alareer, seorang penulis dan aktivis Palestina. “Mereka juga ingin warga Palestina tewas, tapi dengan (sutra) syal, bukan bom!”

Lieberman adalah seorang penentang perdamaian dengan Palestina yang memimpin kalangan partai ekstrim sayap kanan, Yisrael Beiteinu. Ia telah menjabat dua periode sebagai Menteri Luar Negeri dan memiliki sedikit pengalaman militer yang signifikan.

Selama perang di Gaza 2014, Lieberman secara terbuka mengkritik Netanyahu dan menuduhnya tidak menindak cukup keras di Gaza.

Sejak akhir 2008, Israel telah melakukan tiga kali perang melawan Palestina di Gaza. Pada bulan Juli hingga Agustus 2014, tentara Israel melakukan agresi ke Gaza dari darat, udara dan laut selama 51 hari. Lebih dari 2.200 warga Palestina tewas selama perang itu, diperkirakan dua pertiga adalah warga sipil, menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA). Lebih dari 18.000 unit rumah rusak berat atau hancur dalam perang Juli / Agustus itu.

Ada lebih dari 75.000 orang yang masih mengungsi di Gaza sebagai akibat langsung dari perang Juli / Agustus 2014.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kanan) dan Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman. (Foto: Jim Hollander/EPA)
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kanan) dan Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman. (Foto: Jim Hollander/EPA)

Meskipun relatif tenang sejak gencatan senjata 26 Agustus 2014 antara Israel dan Hamas, tapi ada lebih dari 20 insiden serius yang melibatkan serangan Israel, serangan udara, dan saling tembak rudal dengan 23 warga Palestina tewas di Jalur Gaza sejak Desember 2015.

Pada tanggal 5 Mei lalu, militer Israel telah melakukan serangan udara di Jalur Gaza dengan dalih menanggapi tembakan mortir ke wilayahnya. Seorang wanita tewas dalam serangan udara di samping korban cedera yang dilaporkan.

Lieberman telah berulang kali menganjurkan bahwa Israel harus kembali menduduki Jalur Gaza dan melakukan pembersihan menyeluruh daerah kantong itu, dan mendukung pembunuhan yang menargetkan para pemimpin Hamas di Jalur Gaza.

Bulan lalu, ia mengatakan bahwa jika ia menjadi Menteri Pertahanan Israel, ia akan memberi waktu 48 jam kepada pemimpin Hamas, Ismail Haniya untuk menyerahkan dua warga sipil Israel yang ditahan di Gaza serta mayat prajurit yang tewas dalam perang 2014.

“Atau kamu (Ismail Haniyah) mati,” kata Lieberman waktu itu.

Jabatan baru Lieberman telah mengundang cemoohan dari Hamas dan faksi-faksi Palestina.

“Jika Lieberman adalah pria sejati, biarkan dia mendekati Gaza,” kata pemimpin senior Hamas, Mahmoud Al-Zahhar.

Fathi Hammad, mantan Menteri Dalam Negeri Hamas menyatakan bahwa Hamas tidak terintimidasi oleh ancaman Lieberman kepada pimpinan gerakan mereka.

“Kami tidak menyebut ingin perang, tapi kami akan berjuang jika dipaksakan kepada kami,” kata Hammad.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Kamis (19/5), Kementerian Luar Negeri Palestina mengatakan, penunjukan Lieberman menegaskan kurangnya mitra perdamaian di pihak Israel.

Sementara itu, situasi di Jalur Gaza tetap tegang. Pengamat mengatakan bahwa setiap kesalahan perhitungan dapat mengakibatkan konfrontasi baru skala besar.

Pengamat Palestina Adnan Abu Amer menggambarkan pandangan suramnya di hari-hari ke depan. Menurutnya, Lieberman sedang mencari kesempatan untuk menempatkan kekuatan posisinya yang baru.

“Israel menghadapi krisis. Kepemimpinan ini memungkinkan politisi seperti Netanyahu dan Lieberman untuk mempromosikan agenda mereka,” kata Abu Amer. “Operasi penikaman pertama di Tepi Barat atau peluncuran roket dari Gaza adalah tanda untuk masa yang akan datang.”

Beberapa kesempatan, Lieberman pernah menyerukan untuk mengeksekusi politisi Arab Israel tertentu. Berulang kali ia mempertanyakan loyalitas minoritas Arab Israel dan ia mengusulkan pemancungan kepada siapa pun yang menentang Yahudi Israel. Ia juga mengusulkan agar tahanan Palestina ditenggelamkan di Laut Mati.

Ahmed Alfaleet, mantan tahanan Palestina dan pengamat urusan Israel, mengatakan bahwa meskipun Lieberman jauh-jauh hari telah mengancam, tapi penunjukan dirinya sebagai Menteri Pertahanan Israel tidak akan mengubah agenda Israel.

“Kebanyakan pembantaian itu dilakukan oleh apa yang disebut peaceniks (penganut perdamaian),” kata Alfaleet dan ia menambahkan bahwa Lieberman berdiri di pinggir pengambilan keputusan di Israel.

Menurutnya, keputusan pemerintah Israel diambil melalui strategi yang dipertimbangkan di dalam dan oleh hierarki.

“Lieberman hanyalah salah satu roda penggerak dalam mesin perang Israel,” tandasnya. (P001/R05)

Sumber: Al Jazeera

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)