AWG Gelar Webinar Peringati Kematian Abdul Aziz Rantisi

Cileungsi, MINA – Lembaga Kemanusiaan Kepalestinaan Aqsa Working Group (AWG) pada Sabtu (17/4) di Cileungsi, menggelar webinar dalam rangka memperingati kematian salah satu pendiri organisasi perlawanan Palestina, Hamas, Abdul Aziz Rantisi dengan tema “Meneruskan Semangat Juang Singa Palestina, Assyahid Rantisi”.

Rantisi terbunuh akibat serangan udara Israel tahun tahun 2004 di Gaza.

Acara itu menghadirkan, adik kandung Abdul Aziz Rantisi, Sheikh Adnan Rantisi, anak kandung Abdul Aziz Rantisi, Ahmed bin Abdul Rantisi, Presiden Palestine Cultural Organisation Dr. Muslim Imron, dan Presidium Aqsa Working Group Nur Ikhwan Abadi.

Dalam kesempatan itu, Sheikh Adnan dan Ahmed yang merupakan adik dan anak kandung dari Abdul Aziz Rantisi mengatakan bahwa Abdul Aziz Rantisi adalah sosok luar biasa yang memiliki jiwa pemimpin tapi juga memiliki hati yang lembut.

“Orang tua (Ayah) kami, beliau hafal Quran saat di tahanan Israel. Ia adalah sosok yang sangat lembut dan mencintai dunia anak. Meski kehidupan kami bersamanya di rumah sangat singkat, ia sering membawa cucunya untuk bermain, cucu yang yang pertama sering bermain dengan jenggotnya dan menciumnya. Beliau sangat meniru dan mengikuti sosok Nabi SAW. Beliau juga selalu menghabiskan malamnya dengan sholat malam. Semoga Allah menerima amal ibadahnya,” kenang Ahmed.

“Ayah kami selalu berbicara tentang umat. Waktunya dihabiskan untuk perjuangan membebaskan Al Aqsa dan membangkitkan semangat umat sampai akhir hidupnya,” ujarnya

Seikh Adanan dalam kesempatan itu juga menyampaikan rasa terimakasihnya kepada bangsa Indonesia yang telah berjuang dan tidak pernah berhenti mendukung.

“Saya menghargai perjuangan antum dan pelayanan yang diberikan, RS Indonesia yang telah didirikan serta apa-apa yang berkaitan dengan materi semoga Allah berkahi apa yang kalian lakukan,” katanya.

Lebih lanjut Muslim Imron mengatakan, peringatan kematian Assyahid Abdul Aziz Rantisi adalah peringatan yang sangat penting bagi rakyat Palestina. Pendudukan Israel sendiri merupakan rezim kejam yang telah melakukan kejahatan membunuh anak-anak, menghancurkan rumah mereka.  Israel mebunuh tanpa tanpa proses peradilan.

Ia menegaskan perjuangan melawan Israel bukan hanya soal perebutan tanah tapi juga kemanusiaan.

Untuk itu Nur Ikhwan menegaskan bahwa persatuan sangat diperlukan dalam perjuangan pembebasan Al Aqsa dan Palestina. Selain itu juga dibutuhkan pengorbanan, baik harta, jiwa, dan raga dan dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Abdul Aziz Rantisi meninggal 17 April 2004 (pada umur 56 tahun), ia adalah seorang yang ikut mendirikan Hamas. Ia merupakan pemimpin politik Hamas dan Jubir di Jalur Gaza menyusul pembunuhan yang dilakukan Israel terhadap pemimpin spiritual Syaikh Ahmed Yassin, walau pemisahan antara sayap politik dan militer Hamas dikatakan sejumlah orang informal.

Seperti kebanyakan anggota Hamas, Rantisi menentang kompromi dengan Israel meneriakkan pembebasan seluruh daerah Palestina (termasuk keseluruhan Israel) melalui jihad melawan Israel.

Pada 2004, Rantisi terbunuh akibat serangan udara Israel ke mobilnya. Cara kematian seperti yang ia telah pilih. Ssebelumnya ia berkata, “Kematian ini apakah dengan pembunuhan atau kanker; itu sama saja. Tiada yang akan mengubah jika itu ialah Apache (pesawat helikopter tempur) atau perhentian jantung. Namun saya memilih untuk terbunuh dengan Apache.”

Dua orang lainnya, 1 orang pengawal, juga terbunuh dalam serangan itu. Radio pasukan Israel menyatakan bahwa inilah kesempatan pertama pada sasaran Rantisi, tanpa kerugian tambahan, sejak ia meneruskan kepemimpinan Hamas. (L/L7/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)