AWG Jabar Adakan Pelatihan, Bicara Aqsa Bicara Rasa Cinta

Oleh Bahron Ansori, Wartawan MINA

SEJATINYA setiap muslim tahu dan mengenal Masjid Al Aqsa. Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Rupanya, masih banyak kaum muslimin yang belum mengenal apa itu Masjid yang menjadi Kiblat  pertama umat Islam itu. Masjid mulia itu memang jauh letaknya dari Indonesia. Tapi, sebagai muslim, niat, dan keinginan untuk mengetahui lebih banyak seluk beluk Al Aqsa mesti menjadi sebuah keharusan.

Salah satu upaya untuk mengenal Masjid Al Aqsa lebih jauh, maka lembaga internasional Aqsa Working Group (AWG) wilayah Jawa Barat sejak Jum’at-Sabtu, 24-26 November 2017 mengadakan acara Training For Trainer (TFT) kedua yang dilaksanakan di Gedung SSC Jalan Ambon No. 19 Bandung. Sementara TFT pertama diadakan tahun 2015.Acara itu diikuti sekitar 50an peserta dari berbagai level dan daerah di Bandung.

“Mengenal Masjid Al Aqsha ini sangat penting bagi setiap muslim. Dan saya, merasa sangat bahagia,” ujar Encep Zarkasih Ketua AWG wilayah Jawa Barat saat menyampaikan sambutannya dalam pembukaan acara TFT selepas shalat Isya.

Ustad yang juga kini diamanahi sebagai Ketua Ukhuwah Al Fatah Rescue (UAR) Jawa Barat itu mengatakan tujuan TFT ini adalah untuk meratakan pemahaman tentang Al Quds kepada kaum muslimin. “TFT ini tujuannya jelas untuk memberikan pemahaman yang utuh kepada peserta tentang apa itu Al Aqsh dan Palestina. Selain itu, untuk mengetahui langkah-langkah seperti apa yang harus dilakukan untuk membebaskan masjid Al Aqsh,” jelasnya.

Pada hari Sabtu (25/11), sesi pertama TFT disampaikan oleh Munawar Zayyin asal Garut Jawa Barat. Ustad yang juga pernah menjadi peserta Global March to Jerusalem tahun 2012 lalu itu membawakan materi dengan tema Mengenal Masjid Al Aqsha dan Mengapa Al Aqsha Harus di Bebaskan?

Dalam sesi itu, Munawar menyampaikan setidaknya dasar yang menjadikan dalil syar’i wajibnya setiap umat Islam mengenal Masjid Al Aqsa ada dalam Al Quran surat Bani Israil / Al Isra ayat 1 yang artinya, “Maha suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”

Menurut Munawar, ayat pertama saja dalam surat Al Isra di atas sesungguhnya sudah menunjukkan betapa mulianya dua buah masjid; Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa. “Ayat itu adalah pijakan utama yang harus dibaca dan dipahami lalu diamalkan oleh setiap muslim untuk mengenal apa dan bagaimana Masjid Al Aqsa,” jelas Munawar.

Masih menurut Munawar, setidaknya minimal ada beberapa alasan mengapa Masjid Al Aqsa itu harus dibela oleh setiap muslim. Alasan itu antara lain; pertama, Al Aqsa adalah tempat yang diberkahi Allah Ta’ala. Bahkan keberkahan Al Aqsa akan menjadi keberkahan bagi seluruh alam. “Al Aqsa itu jantungnya dunia. Jika Al Aqsa aman (tidak terjadi konflik seperti sekarang, red.), maka dunia ini akan damai dan aman,” jelas Munawar.

Kedua, Al Aqsa adalah kiblat pertama umat Islam. “Inilah dasar kedua mengapa kaum muslimin itu harus dan wajib membela Al Aqsa,” tegasnya. Menurutnya, sebelum arah kiblat dipindahkan ke Masjidil Haram, maka kiblat pertama umat Islam adalah Al Aqsa.

Ketiga, tempat di Isra’ mi’rajkannya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Saat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dirundung kesedihan teramat dalam akibat ditinggal wafat istri tercintanya Khadijah Al Kubra radiallahu ‘anha, Nabi benar-benar terpukul. Bagaimana tidak, selama ini, saat semua orang menolak dakwahnya, maka Khadijahlah orang pertama yang memercayainya untuk beriman kepada Allah Ta’ala.

Disaat semua orang membenci dan mencibir pesan mulia yang diembannya, maka Khadijahlah yang tampil kedepan menjadi perisai bagi suami tercinta Nabi Shallahu ‘Alaihi Wasallam. Khadijahlah orang yang telah banyak berkorban harta bahkan jiwanya untuk bersama-sama Nabi Shallalahu ‘Alaihi Wasallam memikul beban berat dakwah.

Keempat, Al Aqsa adalah satu di antara tiga tempat yang ada di dunia ini yang sangat dianjurkan untuk diziarahi. Inilah pesan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada umatnya agar bisa berziarah ke tiga tempat dimana salah satunya adalah Masjid Al Aqsa. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tidak dipandang sebagai perjalanan yang utama kecuali kepada tiga masjidku ini, al-Masjidil Haram dan al-Masjidil Asha’. Shalat di dalam masjidku ini lebih utama dari seribu shalat di Masjid lainnya, kecuali di al-Masjidil Haram.” (HR Bukhari, Muslim dan Ahmad, Abu Daud, an Nasai dari Ibnu Majah yang bersumber dari Abu Hurairah).

Masih banyak alasan lain yang bisa menjadikan dasar mengapa seorang mukmin harus melakukan pembelaan terhadap Masjid Al Aqsa. Tapi paling tidak dalam tulisan singkat ini penulis hanya menampilkan minimal empat hal di atas sudah bisa menjadi dasar yang kuat mengapa Al Aqsa harus dibela.

Rasa Cinta  

Bicara Al Aqsa sejatinya kita bicara tentang Rasa Cinta. Bagaimana tidak, jika Allah Ta’ala saja yang menciptkan Masjid Al Aqsa begitu mencintainya, lalu alasan apakah yang menjadi penghalang setiap muslim untuk tidak ikut mencintainya? Rasa cinta Allah Sang Pencipta langit dan bumi sebagaimana termaktub dalam firman-Nya Quran surat Bani Israil minimal dalam ayat 1 sampai 4.

Maka tak heran, para Nabi dan Rasul pun (termasuk Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) dan para sahabatnya begitu mencintai Al Aqsa. Bahkan, jika bukan karena rasa cinta, mustahil Zionis Israel begitu ambisi menjajah Palestina. Fakta lain yang menunjukkan rasa cinta terhadap Al Aqsa itu benar-benar ada bisa dilihat dari adanya tempat ibadah tiga agama berdiri dengan megah dan indahnya; Islam, Kristen dan Yahudi.

“Bicara tentang Aqsa berarti bicara tentang rasa cinta,” jelas Agus Sudarmaji Ketua AWG Pusat disela pemaparan materi TFT.

Lihatlah, kalau bukan karena rasa cinta, mustahil Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengirim sebuah pasukan yang dipimpin oleh seorang panglima perang muda belia bernama Usamah bin Zaid, dimana Zaid adalah anak angkat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Para sahabat senior sekaliber Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali, Khalid bin Walid dan beberapa sahabat besar lainnya sontak terkejut saat mengetahui seorang pemuda bernama Usamah bin Zaid ditunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai Panglima untuk membebaskan Al Aqsa.

Namun, belum lagi Usamah tiba di Palestina untuk membebaskan Al Aqsa, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam wafat. Maka panglima muda dan pasukannya pun untuk sementara ditarik kembali. Tak lama setelah Abu Bakar di baiat menjadi Khalifah Rasulillah pengganti Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka Usamah bersama pasukannya tetap diamanahi untuk melanjutkan perjalanan menuju Palestina dengan misi utama adalah membebaskan Al Aqsa.

Dalam rasa cinta untuk membebaskan Al Aqsa, ada rasa rindu yang membuncah. Umar bin Khattab dengan takdir Allah akhirnya mampu membebaskan Al Aqsa tanpa harus menumpahkan darah. Kala itu, Abu Ubaidah Al Jarrah mengepung Baitul Maqdis selama 6 bulan. Perjuangan mereka tak sia-sia. Saat itu, udara dingin musim semi April tahun 637, menjadi saksi bahwa umat Islam akhirnya dapat bersujud tenang di Al Aqsa.

Penjaga kunci kota Al Quds, Pendeta Sophronius menyaratkan tidak akan menyerahkan kunci kecuali kepada sesorang yang memenuhi syarat tertentu, para ahli sejarah berbeda pendapat tentang sifat tersebut. Ada yang menyebutkan bahwa mereka menyaratkan 3 huruf dalam nama orang tersebut. Atas kehendak Allah, kaum muslimin mendapatkan sifat tersebut pada Amirul Mukminin Umar bin Khattab, Abu Ubaidah berkirim surat pada Umar di Madinah.

Tak lama, Umar bin Khattab berangkat dari Kota Nabi, Madinah, Umar tidak langsung masuk ke Baitul Maqdis, namun ia terlebih dahulu ke Jabiya dan kaum muslimin telah menyambutnya disana, bersama Abu Ubaidah, Khalid bin Walid, Yazid bin Abu Sufyan, ketika melihat Umar, Abu Ubaidah ingin mencium tangannya namun ditolak Umar, begitu juga Umar ingin mencium telapak Abu Ubaidah namun ditolaknya.

Kemudian Umar berkhutbah di Jabiyah, “Wahai jamaah sekalian, perbaikilah hal-hal yang tersembunyi dari kalian maka akan baik pula yang tampak dari diri kalian, berbuatlah untuk akhirat maka urusan dunia akan tercukupi, ketahuilah bahwa seseorang itu tidak ada di antaranya dengan adam seorang bapak yang hidup pasti bernasab pada kematian, siapa yang ingin mendapat jalan ke surga hendaklah senantiasa bersama jamaah, sesungguhnya setan bersama orang  yang sendiri, dan dia lebih menjauh dari orang yang berdua. Tapi jangan sekali-kali berduaan dengan perempuan, karena setan menjadi yang ketiga. Siapa yang senang dengan kebaikannya dan sedih atas keburukannya menandahkan bahwa dia adalah seorang mukmin.”

Pejanjian Umariyyah

Penjaga kunci Al Quds, Pendeta Sophronius saat itu datang ke Jabiyah menemui Umar, tanpa ragu ia serahkan kunci kota al-Quds. Tanpa ragu ia tanda tangani kesepakatan dengan jaminan keamanan dan kebebasan beribadah di sana. Perjanjian itu dikenal dengan al-‘uhdah al’umariyah (Perjanjian Umariyyah).

“Dengan nama Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Inilah jaminan keamanan yang diberikan oleh hamba Allah, Umar Amir al Mu’minin, terhadap penduduk Iliya (Al-Quds). Aku memberikan jaminan keamanan bagi jiwa raga dan harta benda mereka. Untuk gereja-gereja serta tiang-tiang salib mereka. Yang sakit maupun yang sehat, serta seluruh tradisi kepercayaan mereka.

Gereja-gereja mereka tidak akan diduduki atau dihancurkan, tidak akan dikurangi ataupun dirubah. Tidak akan dirampas salib maupun harta benda mereka, walaupun sedikit. Mareka tidak akan dimusuhi kerena keyakinan agamanya, dan tidak akan diganggu atau diancam seorangpun dari mereka. Dan tidak diizinkan bangsa Yahudi untuk tinggal bersama mereka di Iliya, meskipun hanya satu orang.

Terhadap penduduk Iliya, mereka harus membayar jizyah, sebagaimana pernah diberikan oleh penduduk kota-kota yang lain. Mereka juga harus mengusir bangsa Romawi dan kaun Lushut. Siapa diantara mereka yang keluar, dijamin aman nyawa serta hartanya, hingga mencapai tempat aman mereka. Dan siapa yang tetap tinggal diantara mereka, diapun dijamin aman. Hanya saja ia dikenakan jizyah, sebagaimana yang diwajibkan terhadap penduduk Iliya.

Apa yang tertuang dalam surat perjanjian ini dilindungi oleh janji Allah, jaminan Rasul-Nya, jaminan para khalifah, serta jaminan kaum mu’minin, jika mereka memberikan jizyah (pajak) yang dikenakan atas mereka. perjanjian ini disaksikan oleh Khalid bin Walid, ‘Amru bin ‘Ash, Abdurrahman bin ‘Auf, dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Dan dituliskan pada tahun 15 Hijriyah.”

Begitulah cinta. Bicara Al Aqsa itu artinya seorang mukmin sedang bicara tentang bagaimana cara mencintainya. Bila rasa cinta terhadap Al Aqsa itu sudah tumbuh subur dalam diri seorang muslim, maka bukan tidak mungkin Allah akan memudahkan langkahnya berada dalam barisan para mujahid pilihan untuk membebaskannya. Semoga. (A/RS3/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)