Azis (10 Tahun) Saksi Hidup Agresi Israel di Gaza

Pemandangan proses evakuasi korban reruntuhan dari serangan udara pesawat-peswat tempur Israel ke gedung tempat tinggal keluarga Al-Kulk, termasuk Aziz Al-Kulk di Jalan Al-Wehda di pusat Kota Gaza.(Foto: Eksklusif)

Oleh: Mohammad Shaaban, Kontributor Kantor Berita MINA di Jalur Gaza, Palestina

“Saya tahu bahwa saya satu-satunya yang selamat, karena saya melihat ibu, ayah dan adik-adik saya meninggal dunia kehabisan darah di hadapan saya.”

Begitu penuturan seorang anak bernama Aziz Al-Kulk, 10 tahun, memberi tahu pamannya, setelah berjam-jam tertimbun reruntuhan gedung di mana dia dan keluarganya tinggal, setelah serangan udara pesawat-pesawat tempur Israel. Azis satu-satunya yang masih hidup dari keluarganya.

Aziz adalah saksi mata dari pembantaian yang dilakukan oleh militer pendudukan Israel terhadap keluarganya, mengakibatkan terbunuhnya ibunya, seorang insinyur bernama Doaa Al Hatta, ayahnya seorang pengacara Ezzat, dan dua saudara laki-lakinya Zaid (8) dan Adam (4). Kini tragedi itu tentunya akan berdampak padanya selama sisa masa hidupnya.

Tragedi itu terjadi pada malam Ahad, 16 Mei 2021. Menjadi salah satu malam paling mencekam yang disaksikan oleh penduduk Gaza yang terblokade selama agresi Israel 11 hari yang kejam dan intens di kota itu.

Setelah enam hari agresi brutal Israel di Gaza, penduduk Gaza telah hidup beberapa jam dengan damai. Tiba-tiba, suara pesawat-pesawat tempur militer Israel mulai terdengar. Pada tengah malam itu, militer otoritas pendudukan Israel melancarkan puluhan serangan yang intens dan menakutkan di daerah-daerah terpisah di seluruh kota.

Pesawat-pesawat tempur militer Israel pun menargetkan gedung permukiman milik keluarga Al-Kulk dan Abu Al-Auf, dekat toko roti Shanti, di Jalan Al-Wehda di pusat Kota Gaza, yang mengakibatkan puluhan orang tak bersalah terbunuh dan terluka. Mereka juga mengebom sebuah restoran di kawasan perumahan yang sama.

Pesawat-pesawat tempur militer Israel juga membom gedung tempat Aziz dan keluarganya tinggal di Jalan Al-Wahda, seketika menghancurkannya saat para penghuni berada di dalam gedung. Aziz adalah satu-satunya yang selamat dari keluarganya setelah ibu, ayah, dan dua saudara lelakinya dibunuh oleh serangan brutal Israel.

Orang-orang berlarian ke mana saja, mencari tempat yang lebih aman, menjauhi ledakan bom yang mengerikan di dekat rumah mereka. Dalam beberapa menit, pesawat-pesawat tempur militer Israel menembakkan lebih dari 50 rudal penghancur berturut-turut.

Anak itu mulai berteriak dari jendela untuk memberi tahu semua orang bahwa pesawat-pesawat tempur telah datang. Dia tidak tahu bahwa pesawat-pesawat tempur itu datang untuk membunuhnya.

Aziz Al-Kuk (10), adalah satu-satunya yang selamat dari keluarganya setelah ibu, ayah, dan dua saudara lelakinya dibunuh akibat serangan udara Israel di Gaza Palestina.(Foto: Eksklusif)

Aziz menceritakan secara detail malam yang mengerikan sebelum kerusakan satu-satunya gedung rumah mereka, mengatakan bahwa ketika pemboman dimulai, dia bergegas dengan suasana penuh getar untuk duduk bersama di antara keluarganya.

Ayahnya berada di samping kanannya sambil memeluk adiknya Zaid (8), sementara ibunya bersama adiknya Adam (4) di sebelah kiri, memeluknya. Aziz berada di tengah-tengah mereka. Ibu dan ayahnya berusaha melindungi Azis dan kedua adiknya.

“(Serangan udara) mendekati kami, seketika atap rumah jatuh di atas kepala kami, dan saya berkata kepada ayah saya: Kami akan mati, jangan khawatir Ayah, kami akan pergi kepada Allah dan hidup damai di sana.”

Dia menggambarkan kondisi keluarganya di bawah reruntuhan dan berkata, “Saya melihat kepala ayah dan ibu saya bersimbah berdarah dan mereka terluka karena kehancuran yang hebat”.

Perlu dicatat bahwa Jalan Al-Wehda adalah salah satu daerah paling ramai di kota Gaza, dipenuhi dengan toko, pekantoran, dan sekolah. Tempat ini dikenal dengan kepadatan penduduknya yang tinggi, penuh dengan kehidupan yang tiba-tiba berubah menjadi kota hantu.

Pesawat-pesawat tempur Israel membom gedung tempat tinggal Aziz dan rumah tetangga mereka, keluarga Abu Al-Auf, dan berturut-turut mengebom jalan-jalan menuju rumah itu hingga menghancurkan gedung sepenuhnya rata dengan tanah. Petugas dan relawan dari Otoritas Pertahanan Sipil Gaza, ambulans dan tenaga medis hampir tidak bisa mencapai tempat itu untuk menyelamatkan mereka.

Barulah pada pagi hari besoknya, puluhan warga sipil dan petugas pertahanan sipil berusaha mengevakuasi jenazah, atau bahkan sebagian dari tubuh jenazah, dari reruntuhan selama 12 jam tanpa henti. Beberapa orang masih memanggil-manggil dari bawah puing-puing, sementara yang lain suaranya memudar dan secara bertahap hilang.

Azis, seorang anak tak berdosa, 10 tahun, masih berada di bawah reruntuhan, di antara anggota keluarganya, yang sudah meninggal, selama lebih dari 10 jam. Dia bisa mendengar suara ibunya yang tercekik hingga dia terdiam tak bersuara sama sekali. Wafat. Aziz masih sendirian setelah suara ibu dan ayahnya menghilang, dan dia menyadari bahwa mereka telah meninggal.

Aziz mulai berteriak untuk memberi tahu orang-orang bahwa dia masih hidup. Orang-orang hampir tidak bisa mendengar suaranya. Ada yang mendengar, mereka bergegas menyelamatkan dan mengeluarkannya dari bawah reruntuhan dalam kondisi hidup.

Aziz ditemukan dari bawah puing-puing dengan melihat jenazah dua saudara laki-lakinya dan kedua orang tuanya yang sudah diangkat ke tempat aman. Dia berulang kali bertanya pada dirinya sendiri, “Mengapa mereka dibunuh? Apa kesalahan mereka?”

Anak-anak, perempuan, dan fasilitas sipil dijadikan sebagai target militer otoritas pendudukan Israel karena kegagalan mereka untuk menekan gerakan perlawanan Palestina yang merdeka. Pembunuhan anak-anak dan wanita tak berdosa nampaknya masih merupakan perilaku biasa di tengah keheningan komunitas internasional yang menyakitkan.

Suasana pelaksanaan shalat jenazah dari para korban serangan udara Israel yang menargetkan gedung tempat tinggal keluarga Al-Kulk dan Abu Al-Auf, di pusat kota Gaza Palestina.(Foto: Eksklusif)

Menurut sumber-sumber lokal, pesawat-pesawat tempur militer pendudukan Israel melancarkan lebih dari 100 serangan, di berbagai bagian Jalur Gaza yang terblokade, yang mengakibatkan kematian dan melukai sejumlah warga, sementara yang lain masih hilang di bawah reruntuhan.

Akibat dari kebrutalan pesawat-pesawat tempur militer pendudukan Israel yang menargetkan rumah-rumah dan bangunan-bangunan sipil di Jalan Al-Wehda pada malam yang tragis itu, sebanyak 42 warga Palestina terbunuh, termasuk 16 wanita dan 10 anak-anak, dan 50 lainnya terluka dengan berbagai luka, kebanyakan dari mereka anak-anak dan wanita.

Agresi militer otoritas pendudukan Israel di Gaza yang terblokade dimulai pada 10 Mei 2021, setelah ribuan pemukim ekstrimis Yahudi dan tentara Israel menyerbu halaman Masjid Al-Aqsa, yang menyebabkan konfrontasi kekerasan antara orang-orang Palestina dan pasukan pendudukan Israel yang menyebar ke seluruh wilayah Palestina.

Agresi brutal ini telah menyebabkan pembunuhan 232 warga Palestina, termasuk 65 anak-anak, 39 wanita dan 17 orang tua. Selain itu, agresi tersebut mengakibatkan 1.900 warga sipil luka-luka dengan berbagai luka, termasuk 90 luka berat dan 500 luka di bagian atas, 155 di antaranya di kepala dan leher.

Sampai saat ini, 560 anak-anak, 380 wanita dan 91 orang lanjut usia terluka masih menunggu pengobatan lebih lanjut.(A/MS/R1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)