Azwir Nazar: Aceh Harus Jadi Referensi Islam Nusantara

(Foto: Istimewa)

Banda Aceh, MINA – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Ikatan Siswa Kader Dakwah (Iskada) menggelar diskusi dan buka puasa bersama di Aula Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh pada Ahad (18/4). Hadir sebagai narasumber utama Azwir Nazar, mantan Presiden Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Turki.

Kegiatan yang diadakan dengan menerapkan protokol kesehatan tersebut dihadiri sejumlah tokoh Iskada, pengurus Remaja Masjid Baiturrahman, unsur KUA dan sejumlah perwakilan OKP serta Mahasiswa.

Azwir Nazar, Founder Yayasan Cahaya Aceh itu menyampaikan harapannya supaya Aceh harus jadi kembali sebagai referensi Islam, bukan saja bagi Nusantara, Tapi juga Asia Tenggara dan dunia.

“Tugas kita menyiapkan generasi lebih baik, lebih hebat secara ikhlas, ikhtiar yang kuat dan saling mendukung” pintanya, dalam keterangan tertulis yang diterima MINA, Ahad.

Seperti Masjid Raya Baiturrahman ini, lanjut Azwir, sudah seharusnya memiliki TV, atau saluran media yang bagus.

“Narasi tentang Islam dan Aceh harus dimulai di mimbar  dan menara menara masjid. Kita harus menghadirkan lagi Islam yang rahmatan lil’alamin. Insya Allah kita terus berbuat, memberi contoh dan saling menguatkan, ” kata alumni UIN Ar-Raniry itu.

Sebelumnya, Azwir mengawali pengantar diskusinya dengan menceritakan Turki sebagai magnet persatuan Islam yang progresif. Langkah-langkah yang sederhana, konsisten, kebersamaan dan nasionalisme telah menjadi spirit perubahan besar.

Ada beberapa hal menarik puasa di Turki terutama sebelum Covid-19. “Kalau puasa tiba dalam beberapa tahun saya sengaja datang dari Ankara ke Istanbul untuk bisa shalat tarawih di Masjid Muhammad Sultan Al-Fatih, Sang penakluk Konstantinopel, ” katanya.

Nasihat tarawihnya tak panjang, tapi langsung menusuk. Telah datang pada kita bulan Ramadhan, bulan mulia penuh berkah. Memberi makan orang yang berpuasa itu anugerah besar. Turki banyak pengungsi Suriah, Irak, dan lain-lain.

“Barangsiapa yang menolong dan memberi makan kepada mereka, maka sama seperti kaum Anshar dan Muhajirin masa Nabi. Berlomba-lombalah, ” ujar penceramah itu. Esoknya ramai-ramai melakukan hal tersebut. Jadi Islam harus diwujudkan dalam realitas sosial, sehingga betul-betul dapat dirasakan manfaatnya.

Kedua, pemerintah mulai tingkat Gampong/Kecamatan (Bölge), tiap bulan puasa itu menyediakan tratak untuk berbuka puasa, masyarakat boleh menyumbang. Tapi Pemerintah pendorongnya. Jadi yang membutuhkan iftar akan antri dan datang ke sana. Termasuk para musafir atau pelajar mancanegara yang tinggal di situ.

Ketiga, buka puasa massal, terutama depan Blue Mosque dan Hagia Sophia. “Itu Dahsyat sekali. Mungkin ada 10 ribu orang yang buka puasa. Ada yang datang dari kecamatan-kecamatan dengan menggelar tikar dan menjaga kebersihan. Syiar demikian suatu hari saya pikir bisa kita lakukan di Mesjid Raya ini,” sebut Azwir Nazar yang juga mantan Ketum Iskada 2003-2005.

Disisi lain Azwir yang juga jebolan Komunikasi Politik ini juga memetakan geopolitik umat Islam dunia. Pengalamannya berkeliling dunia Islam, seperti Palestina, perbatasan Suriah, Libya, Mesir hingga Turki dan Eropa memberi sebuah pencerahan bahwa persoalan umat Islam sangat kompleks.

“Dunia Islam ini sangat luas, masing-masing punya problem sendiri, maka dari itu seorang dai harus punya visi dan wawasan luas. Kita butuh persatuan Islam. Teknologi dan dunia digital sebuah keniscayaan. Apa yang kita kerjakan di gunung atau lautpun selama ada akses internet, semua orang mengetahui dan merasakan,” sambungnya.

Kegiatan diskusi dan buka puasa ini sendiri kata Ketua Panitia yang juga Ketua DPW Iskada, Ustadz Deni adalah sebuah kerinduan.

“Sejak lama kita ingin bersilaturahmi dan menghidupkan kembali diskusi keummatan dan keIslaman di Masjid Raya Baiturrahman,” ujar alumni Labuhan Haji ini.

Alhamdulillah baru sekarang terwujud, dan walaupun masih dalam suasana dunia yang dilanda pandemi COVID-19, kita di Aceh harus terus memancarkan Cahaya Keislaman,” tambahnya.

Iskada sendiri merupakan salah satu organisasi dakwah tertua di Aceh yang berbasis di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

Para kader yang dibina sejak 1973 oleh para tokoh Aceh seperti Abdullah Ujong Rimba, Aly Hasyimi, Sofyan Hamzah, A Rahman Kaoy, dan lain-lain adalah siswa-siswa berprestasi dari berbagai sekolah di Aceh. Kini, setelah lebih 30 tahun, Iskada telah melahirkan banyak tokoh baik di Aceh maupun di Luar Negeri.

Acara diskusi ditutup oleh Ustaz Marwidin Mustafa, yang didampingi, Ketua Umum DPP Iskada, Khairul Laweng, Sekum Muhammad Syarif dan Ahsan Jass sebagai pembina dan generasi Pertama sekali Iskada dibentuk. (R/R1/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)