Badan Khusus Pengembangan Wisata Ramah Muslim Diperlukan

Jakarta, MINA – Indonesia dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia berpotensi menjadi tujuan utama Wisata Ramah Muslim dunia. Sayangnya posisi Indonesia dalam Wisata Ramah Muslim (WRM) masih kalah populer dibanding negara-negara mayoritas penduduk Muslim lainnya.

Malah Indonesia menjadi target pasar Wisata Ramah Muslim bagi negara-negara muslim dan nonmuslim dunia. Ini terlihat dengan meningkatnya promosi wisata ramah Muslim oleh operator asing ditujukan pada wisatawan Indonesia untuk bepergian ke luar negeri.

Sedangkan Indonesia masih minim paket WRM untuk ditawarkan ke luar negeri sehingga belum banyak menggaet wisatawan Muslim mancanegara berkunjung ke Indonesia.

Oleh karenanya perlu dibangun suatu kesatuan pandangan dan aksi nyata yang sinergis oleh seluruh unsur dalam membangun ekosistem pariwisata untuk menumbuhkembangkan industri Wisata Ramah Muslim Indonesia.

Ketua Ikatan Cendikiawan Pariwisata Indonesia Prof. Azril Azahari, PhD, memandang perlunya andil masyarakat dan didukung pemerintah untuk membentuk badan yang khusus dan berfokus menangani pengembangan WRM di Indonesia.

“Saat ini momen tepat untuk membentuk badan khusus menangani pengembangan Wisata Ramah Muslim. MUI, utamanya dua ormas Islam besar seperti Muhamadiyah dan Nahdlatul Ulama diharapkan dapat menginisiasi pembentukan badan ini,” kata Azril kepada Kantor Berita MINA, Kamis (13/8).

Selain itu, lanjut dia, pembentukan badan tersebut sangat penting untuk merumuskan standarisasi serta pemeringkatan bagi destinasi dan layanan Wisata Ramah Muslim, sehingga menjadikan basis untuk pengembangan WRM di Indonesia.

Azril berpendapat konsep Wisata Ramah Muslim yang merupakan ceruk pada wisatawan muslim dengan menyediakan extended services atau layanan tambahan yang diperlukan wisatawan muslim yang tidak terdapat pada wisata konvensional.

Menurutnya, banyak perdebatan persepsi mengenai istilah bahwa istilah Wisata Halal itu membuat akomodasi Islam, kemudian Wisata Muslim atau Wisata Syariah itu syariat-syariat Islam harus diberlakukan di semua tempat.

“Namun sebetulnya Wisata Ramah Muslim ini adalah ceruk pasar baru atau market segmen baru yang perlu kita ambil dengan memberikan kualitas layanan atau services yang dibutuhkan oleh wisatawan muslim. Hal paling penting adalah bagaimana kita memberikan pelayanan kepada wisatawan muslim yang datang supaya dia merasa nyaman,” ujar Azril.

Dia mengatakan, Wisata Ramah Muslim (WRM) yang juga dikenal Muslim Friendly Tourism (MFT) terkonsentrasi di negara-negara OKI secara alamiah dianggap memiliki keunggulan komparatif lingkungan yang lebih ramah terhadap wisatawan internasional muslim bahkan nonmuslim secara universal.

Berbasis Komunitas

Dalam pengembangannya, WRM merupakan layanan tambahan yang memberikan atmosfir, perjalanan, akomodasi, atraksi, tujuan wisata berbagai barang dan jasa yang ditawarkan merupakan suatu kesatuan dengan ajaran Islam.

WRM tidak hanya berorientasi keuntungan, tapi juga Pemberdayaan masyarakat serta lingkungan hidup dan budaya lokal. Oleh karenanya, WRM merupakan industri pariwisata berbasis komunitas (Community Based Tourism), suatu skema usaha untuk pemberdayaan masyarakat melalui partisipasi masyarakat lokal.

Pengembangan layanan ini juga terkait dengan ekonomi kreatif dengan menggali budaya lokal yang akan menjadi sumber penciptaan produk kreatif dalam bentuk desain produk suvenir, fashion, furnitur, homestay dan produk-produk lainnya.

Motivasi utama wisatawan adalah karena alam dan budayanya yang merupakan basis WRM dalam mendukung pengembangan industri priwisata. Namun ceruk pasar WRM belum tergarap di Indonesia karena belum adanya lembaga khusus yang menangani hal ini.

Percepat Pembinaan SDM

Rencana pembentukan badan khusus pengembangan Wisata Ramah Muslim juga didukung penuh oleh Komunitas Pencinta Wisata Muslim (KPWM).

Menurut Ketua Umum Komunitas KPWM, Sjarman Sjarif, layanan Wisata Ramah Muslim ini sangat dibutuhkan agar umat muslim tidak mengorbankan keimanannya saat berpergian untuk suatu tujuan wisata yang syar’i.

Dalam wawancara kepada MINA, Kamis, dia menyatakan, Wisata Ramah Muslim merupakan perjalanan wisata biasa ke berbagai tujuan wisata. Hanya saja, wisata dikemas bernuansa Islam. Selain itu, memberikan fasilitas kepada wisatawan Muslim untuk berwisata tanpa meninggalkan ibadah.

“Kita ketahui bersama bahwa penyedia fasilitas pariwisata tidak semuanya muslim, oleh karenanya perlu kiranya agar seluruh pihak dalam industri wisata mengerti dan memiliki standar pemenuhan kebutuhan wisatawan muslim, yang tidak terbatas pada penyediaan makanan halal, tapi juga layanan amenitas dan atraksi yang sesuai dengan ajaran Islam,” imbuh Sjarman Sjarif.

Dia mengharapkan badan yang akan dibentuk ini menjadi solusi dalam mempercepat implementasi pembinaan SDM berbasis kompetensi untuk pengembangan industri Wisata Ramah Muslim di tanah air.

“Kami mengharapkan badan ini jadi pusat pelatihan bagi pemenuhan SDH di mana santri pesantren dan pemuda Islam dari berbagai ormas punya andil dalam hal ini,” pungkas Sjarman.

KPWM sendiri terbentuk pada 2009 kini beranggotakan lebih dari 50 biro perjalanan wisata dan tersebar di seluruh Indonesia. Komunitas ini telah melakukan sosialisasi dalam penyiapan SDM layanan Wisata Ramah Muslim berbasis pesantren dan sudah berkomunikasi dengan beberapa pemerintah daerah mengenai kesiapan destinasi Wisata Ramah Muslim ini.(L/R1/RS3)

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Comments are closed.