Bagaimana Menasehati Pemimpin

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Sayang, masih banyak para da’i yang seakan-akan mereka di atas ilmu akan tetapi materi dakwah mereka dipenuhi dengan celaan terhadap pemimpin. Dengan mudahnya mereka mengumumkan kesalahan-kesalahan pemimpin dan dengan rasa senang hati mereka menyebarkan aib-aib para pemimpin supaya kaum muslimin mengetahui kejelekan-kejelekan yang dilakukan oleh pemimpinnya.

Wahai saudaraku, perhatikanlah sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang berkaitan dengan hak para pemimpin yang wajib ditunaikan oleh para nasihat.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa yang ingin menasihati para pemimpin, maka janganlah menampakkan pembicaraan dengan di hadapan khalayak, tapi hendaklah ia menggandeng tangannya dan menyendiri dengannya maka jika dia menerimanya (itulah kebaikannya) dan jika tidak maka sungguh dia telah menunaikan kewajibannya dan telah memenuhi hak pemimpinnya.” (HR. Hakim 3:290 dan Ahmad 3:404)

Hadis yang mulia di atas menunjukkan bagaimana cara generasi pertama dari umat ini dan para ulama yang berpegang teguh dengan kitab dan sunnah untuk menasehati pemimpin. Lalu di manakah posisi kita di antara barisan mereka? Jangan sampai kita mengambil ilmu agama ini dari orang-orang yang tidak faham terhadap agamanya sendiri.

Karena perbuatan para da’i yang tidak bertanggung jawab tadi, maka akan muncul begitu banyak dampak negatif yang tidak diinginkan oleh kaum muslimin. Di antaranya berupa pembangkangan sebagian kaum muslimin terhadap pemimpin mereka sehingga kaum muslimin terpecah menjadi beberapa kelompok.

Perhatikanlah bagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang telah beliau sampaikan sejak 14 abad yang silam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Wajib atas muslim untuk mendengar dan taat kepada hal-hal yang disukai maupun yang dibenci. Selama tidak diperintah dalam hal kemaksiatan dan jika diperintah dalam hal kemaksiatan maka tidak boleh mendengar dan taat.” (HR. Bukhari, no.2955 dan Muslim, no.1839)

Dalam sabdanya yang lain, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda, “Siapa yang membenci sesuatu yang dilakukan pimpinannya maka hendaklah bersabar, karena sesungguhnya barang siapa yang keluar sejengkal saja dari (ketaatan kepada) pemimpin, maak sungguh matinya seperti matinya orang-orang jahiliyyah.” (HR. Bukhari, no.7054 dan Muslim, no.1849)

Masih banyak sekali hadis-hadis yang memerintahkan seorang muslim untuk mentaati pemimpin, meskipun mereka adalah pemimpin yang zalim yang selalu membuat kerusakan di muka bumi ini.

Ada suatu pelajaran dari kisah yang sangat mengharukan datang dari Imam ahlus sunah Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Ia bersungguh-sungguh untuk mempraktikkan nasihat-nasihat dari nabi yang tertuang dalam hadis-hadis di atas. Ia dicambuk, dibelenggu dengan rantai dan dipenjara bertahun-tahun lamanya karena mempertahankan aqidah bahwa Al Quran kalamullah bukan makhluk.

Aqidah ahlus sunah wal jamaah, aqidah yang murni yang diambil dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengatakan bahwa Alquran adalah kalamullah dan bukan makhluk. Namun demikian Imam Ahmad bin Hanbal bersabar dan selalu taat kepada pemimpinnya dan tidak melakukan perlawanan. Lebih dari itu ia tetap menasihati kaum muslimin untuk selalu taat kepada pemimpinnya dan sabar atas cobaan yang menimpa mereka dengan mengatakan, “Jangan kalian memecah belah ketaatan (terhadap pemimpin kalian), bersabarlah kalian.

Semoga kita bisa mengikuti keteladanan dan sikap Imam Ahmad yang penuh hikmah. Mari jadikan bahan introspeksi, supaya semua berada dalam satu barisan, tidak bercerai-berai. Jangan tertipu dengan kelihaian para da’i dan khatib dalam berbicara karena sesungguhnya umat ini berada pada suatu zaman yang jumlah orang-orang berilmunya sedikit, sebaliknya, jumlah da’i dan khatib yang pandai berbicara sangat banyak.

Hal ini, seperti yang telah dikatakan oleh sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud, “Sesungguhnya kalian berada pada suatu zaman yang banyak ulamanya dan sedikit para juru khutbahnya dan sungguh setelah kalian akan ada suatu zaman yang banyak para juru khutbahnya dan sedikit ulamanya.”

Jadi, mari muhasabah. Jangan berpecah-belah menjadi beberapa golongan. Sebab berpecah-belah itu hanya akan mengundang laknat dan azab dari Allah Ta’ala, wallahua’lam. (A/RS3/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)