Bangkrut Amal di Akhirat Gara-gara Medsos

Oleh: Thobib Al-Asyhar, Kasubag Sistem Informasi Ditjen Bimas Islam, Dosen PPs Universitas Indonesia

Sadarkah kita, karena Medsos, kita bisa bangkrut amal? Ya, semua itu gara-gara kebiasaan kita membuat status, memberi komen, dan berbagi berita hoax di Medsos yang berhubungan dengan orang lain.

Kok bisa? Iya. Medsos seperti Facebook, Twitter, Instagram, Path, dan khususnya WhatsApp (WA) dapat “menjebak” penggunanya menumpuk dosa tanpa sadar. Dosa berlipat, dosa di atas dosa.

Setiap hari, jam, bahkan menit, jari-jari kita ternyata menjadi sebab penyesalan di akhirat kelak. Jika Medsos tidak digunakan dengan bijak, maka waspadalah dengan “godaan Medsos yang terkutuk”.

Dalam beberapa kesempatan ceramah, saya sampaikan kepada jamaah, berhati-hatilah dengan Medsos. Ini mengingatkan saya sendiri sebagai pengguna Medsos aktif.

Betapa menggunakan Medsos “tanpa hati dan akal” dapat membahayakan amal kita di akhirat. Bukan soal Medsosnya, tetapi cara kita menggunakannya.

Seperti kita saksikan atau bisa jadi kita sendiri pelakunya, Medsos dijadikan media untuk saling serang, melecehkan, mengungkapkan kebencian antar sesama dan penyebaran berita hoax tak ada guna.

Jika kita suka posting di Medsos dan berbagi berita, gambar, dan video tanpa cek kebenaran konten, apalagi dengan tujuan untuk menertawakan orang lain, membicarakan keburukan orang lain, menyebarkan berita palsu (hoax) dan semacamnya, maka amal-amal baik yang kita lakukan selama ini akan terhapus dari catatan malaikat pencatat amal.

Hal yang mungkin menjebak kita dari penggunaan Medsos adalah unsur perbuatan “ghibah” (membicarakan keburukan orang lain) dan fitnah keji atas ketidakbenaran fakta yang bisa dibaca oleh puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang yang menerima secara beruntun (viral).

Bisa dibayangkan, satu postingan yang berhubungan dengan keburukan orang lain atau ketidakbenaran fakta kemudian menyebar tanpa kendali. Dahsyat!

Sekarang saya mengajak kepada kita semua untuk memprediksi amal kita sendiri. Satu keburukan orang lain yang dibincangkan dengan temannya ibarat “makan daging mentah saudaranya sendiri” (QS: Al-Hujurat: 12).

Nah, bagaimana jadinya jika “gunjingan” itu diterima, dibaca, dipersepsi, dan direaksi oleh ribuan, bahkan jutaan orang lain gara-gara ulah kita? Bukankah setiap kita wajib menutupi aib dan menjaga nama baik orang lain?

Bagi yang menyebarkan keburukan orang lain sangat jadi “menikmatinya”, apalagi dilakukan sambil cekikikan (tertawa). Tetapi bagaimana dengan perasaan obyek (orang yang dibicarakan)?

Bisa dibayangkan perasaannya, karena kelemahannya, keburukannya, atau dosa-dosanya akan dan diketahui oleh orang banyak melalui media viral?

Betapa sakitnya dia. Betapa malunya dia. Betapa marahnya dia. Betapa sedihnya dia. Jika sakit hatinya itu dibawa mati, maka orang-orang yang menyebarkannya akan dimintai pertanggugjawaban di akhirat kelak.

Apalagi mereka yang pertama kali memposting di Medsos untuk tujuan tertentu.

Untuk konten viralnya sesuai fakta saja bisa berakibat fatal. Apatah lagi jika ternyata gambar, berita, atau video yang disebarkan ternyata hanya sebuah rekayasa, bukan fakta sebenarnya yang dibuat untuk tujuan merusak nama baik dan membunuh karakter orang.
Sadarkah kita, perbuatan fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Membunuh saja masuk kategori perbuatan keji dan kejam, apalagi disebut lebih kejam dari membunuh (al-fitnatu asyaddu minal-qatl).

Shaikh Hisyam Kabbani, Mursyid Thariqah Naqsyabandiyah Nazhimiyyah, mengatakan, hukuman fitnah itu lebih berat dari ketidaktaatan. Kalau ketidaktaatan hanya berefek pada dirinya sendiri. Kalau fitnah berdampak kepada banyak orang dan tanpa batas. Sehingga, fitnah akan menyebabkan hukuman yang lebih berat dari Allah.

Allah akan menghukum lebih berat orang yang membuat fitnah daripada orang yang membuat dosa besar. Karena fitnah akan menciptakan kebingungan. Menciptakan situasi yang tidak terkendali.

Fitnah akan menciptakan situasi di mana banyak orang akan terjatuh dalam dosa tanpa mengetahui bahwa mereka telah jatuh ke dalam perangkap setan. Tidak ada jalan keluar bagi orang yang membuat fitnah.

Berapa banyak kerusuhan sosial meledak di berbagai penjuru dunia gegara fitnah keji dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab?

Masih ingatkah fitnah-fitnah kejam kepada orang dan kelompok orang yang marak melalui Medsos saat Pilpres lalu?

Karena itu wajar kenapa tidak ada pengampunan dari Allah bagi orang yang membuat fitnah.

Nabi Muhammad saw berkata: syafaa`ti li ahl al-kabaair min ummati (syafaatku untuk orang yang melakukan dosa besar).

Dari hadits tersebut bisa ditarik pemahaman lain bahwa tidak akan ada syafa’at Nabi saw untuk orang-orang yang membuat fitnah.

Sebagaimana Iblis berada di bawah kutukan Allah swt, maka orang-orang yang membuat fitnah akan dikutuk seperti iblis.

Jadi tidak ada yang bisa membawa orang keluar dari kutukan itu. Sebagaimana Nabi saw berkata, fitnah itu “tertidur” dan Allah mengutuk orang yang membangunkan fitnah (menyebarkan fitnah).

Nah, jika dalam keseharian jari-jari kecil kita bekerja untuk “ghibah” dan memfitnah orang lain melalui viral Medsos, kira-kira bisakah amal-amal baik yang kita lakukan selama ini dapat mengimbangi dosa-dosa yang kita perbuat? Itu baru satu jenis dosa yang kita lakukan.

Belum dihitung dengan sikap riya, takabbur, ujub (narsis), dan masih banyak dosa-dosa yang kita lakukan di luar melalui Medsos bukan?

Maka pertanyaan ini perlu dijawab, apakah kita yakin timbangan “baik” yang akan kita pertanggingjawabkan di hadapan Tuhan lebih berat dari dosa-dosa yang kita lakukan? Silahkan jawab!

Oleh karena itu, jika kita, pengguna Medsos, tidak mampu untuk mengendalikan diri memposting status, komen, atau sharing yang berhubungan dengan aib orang lain dan berita hoax, maka nasib kita di akhirat kelak bergantung pada jari-jari yang biasa pegang smartphone atau komputer.

Secara lugas bisa dikatakan, “kita akan menyesal atau bahagia di hari penghitungan amal bergantung dengan apa yang kita posting dan komen di Medsos”.

Sekarang tinggal kembali kepada kita, percaya atau tidak. Apa yang disebut “postinganmu harimaumu” menjadi benar adanya. Wallahu a’lam. (R05/P4)

Sumber : Bimas Islam Kemenag RI

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)