JAKARTA kembali kebanjiran dan seperti biasa, anak-anak menyambutnya dengan tawa lepas. Air cokelat setinggi dada mereka berubah menjadi kolam bermain dadakan, gang sempit menjelma wahana air gratis, dan ember bekas menjadi perahu imajiner.
Di tengah genangan yang merepotkan orang dewasa, anak-anak justru menemukan kebahagiaan. Mereka mungkin belum tahu bahwa yang mereka nikmati itu adalah kegagalan para pemimpin dan pemangku kebijakan di Jakarta yang datang rutin setiap tahunnya.
Bagi warga Jakarta, banjir bukan lagi peristiwa luar biasa. Ia sudah seperti agenda tahunan yang setia datang tanpa undangan. Hujan turun, air naik, berita ramai, pejabat turun ke lapangan, lalu menghilang bersama surutnya genangan.
Tahun demi tahun, siklus itu berulang dengan “disiplin” yang patut diacungi jempol. Sayangnya, “disiplin” banjir yang datang itu jauh lebih konsisten dibanding disiplin penyelesaiannya.
Baca Juga: Siapa Israel Houghton? Musisi yang Dilarang Tampil di Indonesia
Banjir bukan sekadar air yang meluap. Ia adalah cermin dari tata kota yang tersedak, drainase yang kelelahan, sungai yang dipaksa menampung dosa kolektif, dan kebijakan yang sering lebih lancar di atas kertas daripada di lapangan.
Rumah terendam, kendaraan mogok, aktivitas lumpuh, dan warga kembali menghela napas panjang. Namun, entah mengapa, setiap tahun kita dipaksa berpura-pura terkejut.
Ketika Banjir Menjadi Rutinitas yang Dinormalisasi
Di sudut-sudut kampung kota, anak-anak melompat riang. Mereka berenang di air yang bagi orang dewasa adalah sumber keluhan. Tawa mereka memecah genangan, seolah berkata bahwa hidup harus terus berjalan, apa pun kondisinya.
Baca Juga: Mengapa 5 Oktober Diperingati sebagai Hari Guru Sedunia? Ini Sejarah dan Tantangannya
Ironisnya, keceriaan itu sering dijadikan alasan tak resmi untuk menormalisasi banjir. “Lihat, anak-anak saja senang,” begitu kira-kira narasi tak tertulis yang mengambang bersama datangnya genangan air.
Padahal, di balik tawa itu, ada risiko kesehatan, ada trauma laten, ada masa depan yang dipaksa berdamai dengan ketidakberesan. Anak-anak itu tidak sedang merayakan banjir; mereka hanya tidak diberi pilihan lain untuk bahagia.
Mereka hanya beradaptasi, sementara para pemimpin dan pemangku kebijakan di Jakarta justru tampaknya nyaman saja dengan rutinitas tahunan ini.
Banjir yang dinormalisasi adalah banjir yang dibiarkan. Ketika genangan dianggap biasa, maka urgensi perbaikan ikut tenggelam. Kota pun perlahan belajar hidup dengan masalah, alih-alih menyelesaikannya.
Baca Juga: Melemahnya Rial Iran Secara Tajam: Bagaimana WNI Mengantisipasinya?
Anak-anak mungkin tumbuh dengan kenangan bermain air, tetapi mereka juga tumbuh dalam sistem yang mengajarkan bahwa kegagalan bisa diterima selama bisa ditertawakan.
Gaji Para Pemimpin Tetap Mengalir Bersamaan dengan Banjir
Pemerintah daerah tentu tidak diam. Spanduk peringatan dipasang, pernyataan disampaikan, rapat digelar, dan anggaran dicatat rapi. Sungai dinormalisasi di satu atau beberapa titik, lalu menyempit di titik-titik lain.
Waduk dibangun, tapi daerah resapan menghilang perlahan. Kebijakan seolah bergerak, tetapi banjir tetap setia datang, seakan tahu bahwa tak ada yang benar-benar berani memutus mata rantainya.
Baca Juga: Israel dan Pertarungan Narasi di Indonesia: Dari Hasbara hingga Media Sosial
Lebih menariknya lagi, setiap musim banjir selalu muncul lomba narasi. Siapa yang salah? Hujan ekstrem, kiriman dari hulu, sampah warga, perubahan iklim, semuanya disebut.
Benar semua, tetapi tidak pernah cukup untuk menutupi satu hal: absennya keberanian politik untuk menata kota secara konsisten dan adil. Kota ini terlalu sering dibangun untuk kepentingan jangka pendek, sementara air selalu datang konsisten dan berjangka panjang.
Banjir Jakarta bukan sekadar masalah teknis, melainkan persoalan serius pada tata kelola. Ia lahir dari kompromi kebijakan, pembiaran lingkungan, dan kegemaran menunda-nunda penyelesaian.
Para pemangku kebijakan, dengan gaji yang tetap mengalir setiap bulan, seharusnya tidak hanya pandai mengalirkan pernyataan empati. Kota ini tidak butuh belas kasihan musiman, melainkan kerja nyata yang berani dan berkelanjutan untuk menyelesaikan persoalan.
Baca Juga: Refleksi 20 Tahun Ghazwah Fath Al-Aqsa: Dari Seruan Pembebasan hingga Global Sumud Flotilla
Anak-anak Jakarta mungkin akan terus tertawa di tengah banjir, karena itulah cara mereka bertahan. Tetapi apakah kita akan terus membiarkan tawa itu menjadi soundtrack kegagalan orang dewasa? Atau justru menjadikannya alarm keras bahwa sudah terlalu lama kita menikmati rutinitas tanpa perbaikan berarti?
Suatu hari nanti, anak-anak itu akan tumbuh dewasa. Pertanyaannya sederhana namun menohok: apakah mereka akan mewarisi kota yang lebih baik, atau hanya kenangan bahwa banjir dulu selalu datang, dan para pengelolanya selalu sibuk menunggu surut, mengatur ulang narasi, menikmati gaji, lalu lupa lagi. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Iran di Tengah Tekanan Nuklir, Hormuz, Saudi dan Amerika
















Mina Indonesia
Mina Arabic