Bantuan LSM Pertama Sampai ke Tigray Ethiopia

Warga Etiopia, yang melarikan diri dari konflik di wilayah Tigray di Ethiopia utara terlihat menerima bantuan setelah mencapai Negara Bagian Al Qadarif, Sudan pada 24 November 2020. [Stringer - Anadolu Agency]

Addis Ababa, MINA – Konvoi bantuan non-pemerintah (LSM) pertama sejak pertempuran, mulai tiba di ibu kota wilayah Tigray utara Ethiopia pada Sabtu (12/12), ketika pemerintah memerintahkan bisnis untuk dibuka kembali dan para pejabat untuk kembali bekerja.

Pemerintah federal membatasi akses ke Tigray setelah pertempuran dimulai pada 4 November antara pasukannya melawan Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF), sebuah partai politik yang memerintah provinsi itu.

Sejauh ini konflik di negara terpadat kedua di Afrika itu diyakini telah menewaskan ribuan orang dan membuat sekitar 950.000 orang mengungsi, MEMO melaporkan.

Tetapi tempo pertempuran tampaknya telah melambat sejak pemerintah mengumumkan direbutnya ibu kota daerah Mekelle akhir bulan lalu, meskipun informasi sulit untuk diverifikasi karena pembatasan tersebut.

Sambungan telepon dan internet secara bertahap dipulihkan, tetapi sebagian besar wilayah tetap tidak terjangkau oleh jurnalis dan badan bantuan luar.

Konvoi tujuh truk putih yang tiba di Mekelle itu diorganisir oleh Komite Internasional Palang Merah (ICRC) dan Palang Merah Ethiopia, kata ICRC.

“Para dokter dan perawat telah… berpekan-pekan tanpa persediaan baru, air mengalir, dan listrik,” kata Patrick Youssef, Direktur Regional ICRC untuk Afrika.

Menurutnya, pengiriman medis itu akan menyuntikkan stok baru, membantu pasien, dan mengurangi beban hidup.

Hampir 50.000 pengungsi, kebanyakan Tigrayan, telah menyeberang ke Sudan timur sejak awal November. Hampir 15.000 orang berada di kamp Um Rakoba, di mana antrean panjang orang menunggu makanan dengan piring di tangannya dan para pendatang baru membangun tempat berlindung menggunakan cabang pohon.

“Kami tidak memiliki cukup makanan atau tempat tinggal di sini, tetapi saya terlalu takut untuk kembali,” kata Tewelo Gabrageres, pedagang berusia 35 tahun. (T/RI-1/RS3)

Mi’raj News Agency (MINA)