Banyak Siswa Belum Bisa Baca Al-Quran, Kompetensi Guru Perlu Diperkuat

Bogor, MINA – Data Kementerian Agama menunjukan masih cukup banyak siswa sekolah yang belum bisa membaca Al-Quran. Sehubungan itu, Kemenag terus berupaya meningkatkan kompetensi guru dalam pengajaran baca tulis Al-Quran.

Penguatan kompetensi ini dikemas dalam Workshop Tuntas Baca Tulis Al-Quran (TBTQ). Workshop yang diikuti guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah ini berlangsung di Kota Bogor, 3 – 5 Mei 2021.

“Ini menjadi keprihatinan kita semua dengan banyaknya siswa yang tidak bisa membaca Al-Quran,” kata Direktur Pendidikan Agama Islam Rohmat Mulyana Sapdi, di Bogor, Senin (3/5).

Menurutnya, kondisi itu disebabkan beberapa faktor, antara lain: jumlah siswa yang tidak sebanding, minat siswa kurang, motivasi keluarga, dan kompetensi guru.

“Apa yang dilakukan hari ini (workshop) adalah upaya meningkatkan kompetensi guru dan mendorong guru semakin giat menjalanka  tugas pembelajarannya, termasuk mencegah dampak lebih jauh pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang diberlakukan dalam setahun terakhir,” ujar Rohmat Mulyana Sapdi.

Ia berharap, guru yang telah mengikuti workshop dapat melanjutkan pengetahuannya dalam pembelajaran di kelas dengan menyiapkan pembelajaran yang nyaman agar siswa yang tidak bisa baca teratasi, begitu juga yang sudah bisa baca makin meningkat.

Salah satu peserta workshop, Fajrul mengaku banyak manfaat yang didapat dari kegiatan ini. Menurutnya, workshop mampu membenarkan bacaan-bacaan yang selama ini salah baik dari makharijul huruf maupun ilmu tajwid.

Sebanyak empat puluh guru PAI mengikuti wokshop Subdit PAI SD/SDLB. Mereka berasal dari Provinsi Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Tengah, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Banten.

Selain pelatihan baca dan tulis al-Qur’an yang benar berdasarkan ilmu tajwid, peserta juga dilatih menulis Arab indah (khatt al-jamil) yang dipandu oleh guru dari Pesantren Lemka Sukabumi, Jawa Barat. (L/R2/R1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)