Bekal Menghadap Allah (Oleh: Bahron Ansori)

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Dalam hidup ini setiap manusia harus memiliki bekal. Bekal untuk kehidupan selanjutnya; akhirat. Tanpa bekal yang cukup, perjalanan menuju akhirat akan sangat melelahkan. Berikut ini adalah beberapa bekal seorang mukmin dalam menghadap Allah Ta’ala kelak. Antara lain sebagai berikut.

Pertama, bekal takwa. Takwa adalah sebaik-baik bekal. Tak ada satupun bekal yang bisa mengalahkan bekal takwa. Allah Ta’ala berfirman,

 وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

“Dan siapkanlah bekal karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (Qs. al-Baqarah: 197). Takwa merupakan bekal yang sangat diperlukan manusia. Tanpa takwa, Allah tidak rela memberikan pertolongan kepada hamba-Nya.

Tanpa takwa, Allah tidak akan menerima amalan hamba-Nya. Takwa juga merupakan syarat keberhasilan usaha di dunia dan keselamatan di akhirat kelak.

Kedua, bekal ilmu. Ilmu adalah cahaya kehidupan, cahaya agama. Orang yang menjalani kehidupan ini tanpa ilmu, sama seperti orang buta yang tak mengetahui ke mana arah tujuannya melangkah. Ilmu sangat diperlukan bagi seorang muslim untuk meraih kebahagian dunia dan akhirat.

Hanya orang-orang yang berilmulah yang merasa takut kepada Allah Ta’ala. Ia takut jika sampai memaksiati-Nya. Ia takut jika sampai tidak menjalankan perintah-Nya. Ia takut  bila melanggar apa-apa yang dilarang-Nya. Begitulah orang-orang yang memiliki ilmu tentang syariat Islam ini.

Allah Ta’ala berfirman yang aratinya,

اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ

“Sesungguhnya, yang takut kepada Allah dari para hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.” (Qs. Fathir: 28). Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.

Kalau seseorang enggan belajar akan membuat kerusakan, tidak membuat perbaikan, tidak bermanfaat, tapi justru merugikan, tidak menang, tapi pasti kalah dan tersesat. Apalagi, orang yang rajin beramal sekalipun tanpa disertai ilmu, seperti orang berjalan bukan pada jalannya. Jangan sampai, amalan yang dilakukan berbuah sia-sia tanpa dasar ilmu.

Ketiga, bekal tawakal. Tawakal adalah upaya maksimal seorang hamba dalam meraih sesuatu. Artinya, tawakal itu bukan diam. Tawakal itu usaha maksimal dengan mengerahkan segala kemampuan yang telah Allah ilhamkan. Lalu setelah ikhtiar maksimal itu, maka serahkan semuanya kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ

“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya dia akan mencukupinya.” (Qs. ath-Thalaq: 3).

Tawakal akan menanamkan kepada hati kesungguhan dalam menggantungkan diri kepada Allah. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, segala sesuatunya Allah yang menentukan. Maka, biarkan Allah yang mencukupi kita selama hidup di dunia.

Keempat, bekal syukur. Hidup akan indah, jika setiap muslim mampu menyukuri setiap pemberian Allah, tanpa terkecuali. Syukur adalah bukti iman seorang hamba. Syukur juga merupakan tanda terima kasih seorang hamba atas segala limpahan nikmat dari Allah Ta’ala.

Tentang rasa syukur ini, Allah tidak akan pernah menyiksa orang-orang yang banyak bersyukur kepada Allah. Allah berfirman,

مَا يَفْعَلُ اللّٰهُ بِعَذَابِكُمْ اِنْ شَكَرْتُمْ وَاٰمَنْتُمْۗ

“Mengapa Allah akan menyiksa kalian kalau kalian bersyukur dan beriman?” (Qs. an-Nisa: 147).

Bentuk rasa syukur itu meliputi syukur dengan lisan, hati, dan dengan tindakan kita. Ingat, sesungguhnya nikmat-nikmat itu akan lestari karena syukur dan akan hilang dengan kufur.

Kelima, bekal sabar. Sabar dan syukur setali tiga uang. Sabar merupakan kunci untuk meraih surga dan ridha Allah Ta’ala. Hebatnya, Allah Ta’ala itu menyertai orang-orang yang bersabar. Seperti firman Allah Ta’ala,

اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

“Sesungguhnya, Allah itu menyertai orang-orang yang sabar.” (Qs. al-Baqarah: 153). Apa pun profesinya, manusia sangat memerlukan kesabaran. Seorang guru tentu memerlukan kesabaran dalam mengajar anak didiknya.

Begitu juga dengan profesi yang lain. Bahkan, orang yang tertimpa musibah juga harus senantiasa bersabar. Jadikanlah sabar sebagai penolong kita karena yakinlah Allah bersama dengan orang-orang yang sabar terhadap ujian hidup di dunia.

Keenam, bekal zuhud (tidak mencintai dunia). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فَقَالَ: “اِزْهَدْ فِيْ الدُّنْـيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ.”

“Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu dan janganlah mencintai apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia mencintaimu!” (HR. Ibnu Majah).

Ketujuh, itsarul akhirah (mengutamakan akhirat). Sebagaimana Allah berfirman,

وَمَنْ اَرَادَ الْاٰخِرَةَ وَسَعٰى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَاُولٰۤىِٕكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَّشْكُوْرًا

“Barangsiapa menghendaki akhirat dan mengusahakan bekal untuknya sedangkan dia beriman maka mereka itulah yang dibalas usaha mereka.” (Qs. al-Isra’: 19).

Inilah di antara bekal yang harus kita siapkan sebelum Allah memanggil untuk menghadap-Nya. Yakinlah, inilah bekal yang menolong setiap muslim dalam memikul beban kewajiban syariat dalam kehidupan dunia ini.[A/RS3/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)