Belajar Ketahanan Pangan dari Qinjing Farm (Oleh: Widi Kusnadi, Wartawan MINA)

(Foto: Istimewa)

Oleh: Widi Kusnadi, Wartawan MINA

Ketahanan pangan merupakan “senjata utama” bagi sebuah bangsa. Bila suatu bangsa ketahanan pangannya lemah, maka lemah pulalah kehidupan bangsa tersebut. Sebaliknya bila kuat ketahanan pangannya, maka akan kuat pula kehidupan bangsa itu.

Negara yang kuat bukan hanya dibuktikan dengan memiliki persenjataan yang canggih dan militer yang hebat, akan tetapi salah satu hal yang utama kuatnya negara adalah apabila negara itu berswadaya dalam bidang pangan.

Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) yang melimpah. Maka sepantasnya lah kita menjadi bangsa yang kuat dalam hal ketahanan pangan. Jika dikelola dengan sungguh-sungguh untuk kepentingan bersama dan berkelanjutan, maka pastinya kita akan menjadi bangsa yang kuat.

Untuk menjadi negara yang kuat, tidak ada salahnya kita belajar dari negara lain yang sudah berhasil memiliki ketahanan pangan yang kuat. Kali ini, penulis akan menjelaskan bagaimana Taiwan yang hanya memiliki wilayah 35.801 km2 (seperempat dari pulau Jawa), dengan penduduk sekitar 25 Juta jiwa memiliki ketahanan pangan yang tangguh. Tulisan ini adalah hasil kunjungan penulis ke Taiwan dalam rangka mengikuti program kunjungan wartawan Indonesia 7-12 Februari 2020.

Pada hari ketiga kunjungan (Ahad, 9/2), kami berkunjung ke lahan pertanian dan peternakan Qinjing yang merupakan penyangga utama bagi kebutuhan pangan di negeri itu di bawah pengelolaan Kementerian Pertahanan Taiwan.

Sekilas Pertanian Qingjing (Qingjing Farm)

Qingjing secara makna berarti luas. Di wilayah itu terdapat lahan pertanian dan peternakan yang dikelola oleh dewan pensiunan di bawah Kementerian Pertahanan. Jadi, para pensiunan polisi dan tentara diberi lahan untuk mengelola lahan pertanian dan peternakan.

Wilayah Qinjing farm sangat luas, yaitu 760 hektare, meliputi wilayah Wushe di selatan, hingga Meifeng di utara. Lokasinya berada di jalan raya propinsi, sekitar 2,5 jam dari kota Taichung.

Di Qinjing farm itu, terdapat peternakan domba dan sapi yang bibitnya didatangkan dari Australia. Ada jutaan domba dan sapi yang diternak di padang rumput luas dengan pengawasan dan penanganan yang prima sehingga mampu menyuplai kebutuhan daging nasional.

Selain peternakan, para petani Qinjing farm juga menanam berbagai macam buah dan sayur. Dengan dukungan teknologi yang cukup maju, hasil pertanian Qingjing juga mampu menyuplai lebih dari separuh kebutuhan sayur dan buah nasional.

Sementara itu untuk beras, Taiwan mampu mengekspor ke Singapura dan Malaysia. Lahan pertanian berada di luar Qingjing karena wilayah ini terletak di ketinggian 1.748 di atas permukaan laut.

Selain untuk area peternakan dan pertanian, kawasan itu juga dijadikan sebagai obyek wisata. Pemerintah bekerja sama dengan pihak swasta menyediakan hotel, guest house, hingga fasilitas transportasi yang bagus sehingga memanjakan wisatawan yang bekunjung.

Untuk melengkapi wahana hiburannya, di dalam area peternakan juga terdapat atraksi potong bulu domba dan pacuan kuda. Selain melihat hamparan padang rumput yang dipenuhi domba dan sapi, para pengunjung pastinya akan terhibur dengan kedua atraksi tersebut.

Berikut ini adalah beberapa obyek yang bisa dinikmati wisatawan:

1. Kampung Bowang Xincun

Kampung Bowang Xincung didesain dengan tema budaya kelompok etnis Yi di Qingjing, dipadu dengan museum artefak Burma Bowang Xincun. Di sana juga menampilkan sejarah suku Wing dan perjalanan Qingjing farm yang sudah berlangsung selama 50 tahun.

Artefak Burma menampilkan sejarah heroik seorang tentara Burma (Myanmar) yang pindah ke Taiwan dan membuat rumah dengan balok kayu di Qingjing.

2. Taman Swiss Kecil

Taman bergaya Eropa yang dibuat dengan bunga yang berbeda warna, dikonfigurasi menjadi berbagai model sehingga menarik turis untuk memotret. Tanaman lainnya yang terdapat di tempat itu ada; pinus, kayu putih dan tanaman empat musim lainnya.

Bagian pintu masuk dengan bangunan bergaya Eropa, ditambah dengan dinding bunga menyambut tamu, pohon cedar berjajar di sisi jalan, sangat terasa seperti tiba di Swiss.

3. Pemandangan Danau Bihu

Atas ide dari Presiden Pertama Taiwan, Chiang Kai-Shek saat berkunjung ke tempat itu, ia melihat ada sebuah danau dikelilingi oleh pegunungan, air danau yang hijau menjadi pemandangan yang menakjubkan seperti giok hijau yang tertanam di pegunungan, oleh karena itu, ia menamakannya “Bihu” dan kemudian dibuatlah sebagai obyek wisata.

4. Puncak Chilai

Chilai merupakan salah satu dari 100 puncak gunung tertinggi di Asia dengan ketinggian 3.952 meter di atas permukaan laut. Di sepanjang jalan, pengunjung akan disuguhi rumpun pinus dan bambu, padang rumput hijau, dan kelompok bunga liar bertabur di lerengnya. Udara yang segar semakin menambah eksotisme tempat itu.

Begitulah sekilas tentang Qingjing Farm yang didesain sebagai penyangga ketahanan pangan, sekaligus obyek wisata yang menghasilkan banyak devisa bagi Taiwan. Semoga negeri kita menjadi negara yang kuat dan mampu berswadaya dan swasembada pangan. (A/P2/R1)

Mi’raj News Agency (MINA)