BELAJAR RENDAH HATI (TAWADHU) DARI RASULULLAH

butiran-padi
imlawifrailham.blogspot.com
imlawifrailham.blogspot.com

Oleh: Bahron Ansori, Redaktur Kantor Berita Islam MINA

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah orang yang sangat indah akhlaknya. Salah satu akhlak mulianya adalah sifat rendah hati (tawadhu’)nya kepada siapa pun. Salah satu bentuk ketawadhu’an Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam adalah ia tidak suka dipuji atau disanjung secara berlebihan.

Nabi Shallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Janganlah kamu sanjung aku (secara berlebihan) sebagaimana kaum Nasrani menyanjung Isa bin Maryam secara berlebihan. Aku hanyalah seorang hamba Allah, maka panggillah aku dengan sebutan hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Abu Daud).

Dalam riwayat lain disebutkan dari Anas bin Malik ra ia berkata, “Ada beberapa orang yang memanggil Nabi Shallahu ‘Alaihi Wasallam sambil berkata, “Wahai Rasulullah, wahai orang yang terbaik dan anak orang terbaik di antara kami, wahai junjungan kami anak dari junjungan kami.”

Mendengar itu, Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam langsung menyanggah dengan bersabda, “Wahai sekalian manusia, katakanlah sewajarnya saja! Jangan sampai kalian digelincirkan oleh setan. Aku adalah Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak sudi kalian angkat di atas kedudukan yang dianugerahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepadaku.” (HR. An Nasa’i).

Baca Juga:  Ibadah Haji dan Kesatuan Umat Islam

Suatu hari dikisahkan ada seorang wanita datang menemui Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam sambil berkata, “Wahai Rasulullah, aku memerlukan sesuatu dari Anda.” Lalu Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam berkata kepada wanita itu, “Pilihlah di jalan mana yang engkau kehendaki di kota Madinah ini, tunggulah aku di sana, niscaya aku akan menemuimu (memenuhi keperluanmu).” (HR. Abu Daud).

Masya Allah, betapa luar biasanya akhlak mulia Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam mengabulkan permintaan seorang wanita. Sejatinya, begitulah para pemimpin hari ini memperlakukan rakyat yang dipimpinnya dengan memenuh segala keperluannya dan memecahkan segala persoalan yang dihadapi demi kebaikan rakyat yang dipimpinnya. Bukan malah ‘mengorbankan’ rakyatnya sendiri demi memenuhi tuntutan segelintir orang yang mempunyai kepentingan.

Baca Juga:  Ini 7 Alasan Israel Ingin Serang dan Kuasai Rafah

Nabi Shallahu ‘Alaihi Wasallam adalah pemimpin bagi setiap orang yang rendah hati baik dalam ilmu ataupun amal. Nabi Shallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda, “Andai kata aku diundang makan paha atau kaki hewan, niscaya aku kabulkan undangannya. Andai kata aku dihadiahkan kaki atau paha hewan, tentu akan aku terima hadiah itu.” (HR. Bukhari).

Begitulah sifat rendah hati (tawadhu’) Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam. Ia tidak senang dipanggil dengan sebutan yang berlebihan. Ia hadir dengan segenap jiwa terpuji lagi mulia di tengah umatnya. Akhlaknya menjulang tinggi ke tempat yang terpuji. Bila dikaji lebih dalam, akhlak Nabi Shallahu ‘Alaihi Wasallam jauh lebih harum dari minyak kasturi. Disinilah mestinya, para pemimpin negeri yang konon katanya mayoritas islam ini banyak memetik hikmah dari sikap rendah hatinya Nabi Shallallahu ‘Alailhi Wasallam.

Kondisi Kita

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita tawadhu’ kepada sesama? Bagaimana pula para pemimpin bangsa ini, sudahkah mereka semua bersikap tawadhu’ (menghargai dan tidak semena-mena) kepada rakyat kecil yang dipimpinnya? Rasanya kondisi negara ini tidak akan menjadi lebih  baik, jika cara para pemimpinnya meperlakukan rakyat sekehendak hatinya; tak perduli rakyat menjadi susah dan miskin, yang penting pemimpin kenyang dan sejahtera.

Baca Juga:  Ini 7 Alasan Israel Ingin Serang dan Kuasai Rafah

Jangan pernah bermimpi negeri ini akan menjadi lebh baik, bila para pemimpinnya hanya sibuk memperkaya diri dengan terus-menerus melakukan ‘penindasan’ kepada rakyat.

Hari ini, sedikit sekali pemimpin yang sesuai dengan akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sebaliknya, kebanyakan pemimpin hari ini lebih senang dilayani, dihormati (gila hormat), dan setiap apa yang diputuskannya wajib dilaksanakan tanpa mau peduli dan merasakan apakah keputusan itu justeru membuat rakyat semakin terpuruk.

Jadi, sudah saatnya entah itu para pemimpin negara, organisasi bahkan pemimpin rumah tangga untuk mengamalkan sifat rendah hati (tawadhu’), wallahua’lam.(R02/P4)

Miraj Islamic News Agency (MINA)

Wartawan: Bahron Ansori

Editor:

Comments: 0