Belajarlah dari Sejarah (Oleh: Shamsi Ali)

Oleh: Shamsi Ali, Direktur Jamaica Muslim Center New York Amerika Serikat

Sebuah opini atau pendapat yang disampaikan, baik secara lisan atau tulisan, tidak selalu harus dimaknai sebagai serangan kepada orang-orang tertentu. Apalagi jika tafsiran itu terbangun di atas asumsi-asumsi politis.

Hal yang pasti, Al-Quran penuh dengan cerita masa lalu alias sejarah. Sejarah itu penting. Karena dengan sejarah manusia belajar untuk berubah dan menjadi lebih baik di masa kini dan mendatang.

Salah satu sejarah yang sering terulang dalam Al-Quran adalah sejarah kekuasaan di masa lalu. Ada kekuasaan yang berkarakter “ketakwaan”. Yaitu kekuasaan yang terbangun di atas nilai-nilai kebenaran (al-haq), kejujuran (al-amanah), dan keadilan (al-adl).

Tapi tidak sedikit pula kekuasaan yang terbangun di atas karakter “fujuur” (penyelewengan dan dosa). Kekuasaan ini penuh dengan ketidakjujuran dan kebohongan, ketidakadilan (kezholiman), bahkan kekejaman dan kebiadaban.

Dalam sejarah, Allah Yang Maha Rahman selalu menghadirkan dari kalangan hamba-hamba-Nya sendiri untuk mengoreksi kekuasaan fujuur (Korup) itu. Nabi Musa Alaihissalam diutus kepada Fir’aun, Ibrahim Alaihissalam kepada Namrud, dan seterusnya.

Dalam usaha mengoreksi kekuasaan itulah tidak jarang terjadi resistensi keras dari kekuasaan korup itu. Bahkan sering terjadi pembungkaman dan bahkan eliminir. Tidak jarang pula resistensi itu berwujud kekerasan dan kezholiman.

Tapi ada satu fakta sejarah yang perlu diingat. Bahwa opresi atau kezholiman dan kekejaman penguasa kepada rakyatnya bukan karena mereka kuat dan hebat. Sebaliknya, justeru kezholiman dan kekejaman kekuasaan itu adalah indikasi kepanikan, ketakutan, kelemahan, bahkan awal dari kejatuhan.

Kapan dan kenapa Fir’aun tenggelam di Laut Merah?
Kapan dan kenapa Namrud terbunuh oleh seekor nyamuk?
Kapan dan kenapa Tsamud binasa?
Kapan, kenapa dan bagaimana para penguasa zholim dalam sejarah hidup manusia mengalami kehancurannya?

Al-Quran memberikan jawaban yang pasti. Bahwa kebinasaan dan kehancuran kekuasaan zholim dan keji itu terjadi di saat rintihan dan suara rakyat kecil tidak lagi terhiraukan. Saat mereka yang lemah dan terzholimi mengadukan nasib mereka ke Penguasa langit dan bumi.

Pada saat-saat seperti itulah tabir samawi akan terbuka. Lalu antara doa-doa dan rintihan mereka dan Allah tiada lagi yang membatasi. Allah akan membuka pintu-pintu “nushroh” samawi yang wujudnya kadang di luar jangkauan logika manusia.

Seringkali juga Allah tidak secara langsung menghabisi mereka. Justeru diberi kesempatan demi kesempatan untuk sadar. Fir’aun diingatkan berkali-kali dengan berbagai peringatan (azab). Tapi peringatan itu tidak dihiraukan. Hingga pada akhirnya ditenggelamkan oleh Allah di Laut Merah.

Ini sekaligus indikasi bahwa harapan untuk penguasa zholim berubah sangat kecil. Kita tidak nafikan kemungkinan intervensi Ilahi. Tapi kezholiman penguasa terhadap rakyat kecil adalah penghalang besar antara manusia dan hidayah-Nya. Karena rakyat adalah “ra’iyah” yang seharusnya dijaga, digembala, diurus, dan diperhatikan. Bukan disakiti demi kelanggenan kekuasaan itu sendiri.

Realitanya, kekuasaan yang sedang mengalami kepanikan akan berbuat apa saja, bahkan terkadang di luar nalar atau logika sehat manusia, untuk mempertahankan kekuasaannya. terkadang rasa malu itu menjadi semakin kecil. Kebohongan, sandiwara, tipuan, dan tidak jarang urusan rakyat banyak dijadikan “mainan” demi kepentingan semata.

Sebaliknya upaya koreksi kekuasaan oleh rakyat dibalik menjadi kejahatan, usaha penggulingan, dan lain-lain. Ini adalah realita Qurani: “dan jika dikatakan kepada mereka jangan merusak, mereka berkata kami ini orang-orang yang melakukan kebaikan” (Al-Baqarah:11).

Prilaku irrasionalitas kekuasaan itu tergambarkan misalnya ketika Namrud terjepit oleh logika Ibrahim Alaihissalam. Dengan arogansi dan perasaan menguasai segalanya dia menjerit bak kesurupan syetan “uqtuluuhu wanshuruu alihatakum” (bunuh Ibrahim dan tolonglah tuhan-tuhan kalian).

Karenanya teruslah berjuang dengan ikhlas dan benar (bahasa formalnya secara Konstitusional), konstruktif (tidak merusak), seraya menengadahkan kedua tangan ke langit. Insya Allah ketukan langit itu akan terdengar. Dan pada masanya janji itu akan tiba.

Innallaha laa yukhliful mii’aad” (Allah takkan pernah ingkar janji). Percayalah!

Soekarno-Hatta, 16 Oktober 2020.

(AK/R1/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)