Belasan Ribu Perempuan Palestina Menjadi Tahanan Israel Sejak Pendudukan

Yerusalem, MINA – Setidaknya 16 ribu perempuan Palestina telah menjadi tahanan Israel sejak negara Yahudi itu melakukan pendudukan terhadap Palestina, terdiri dari perempuan usia tua hingga anak di bawah umur ditahan di penjara-penjara Israel.

Menurut laporan media Wafa, pada periode Intifada Palestina pertama (Intifada Batu), yang dimulai pada tahun 1987, Israel melakukan penangkapan terbesar terhadap perempuan Palestina.

Jumlah penangkapan perempuan Palestina saat itu mencapai sekitar 3.000 orang. Kemudian pada Intifada Palestina kedua (Intifada Al-Aqsa) yang pecah pada tahun 2000, jumlah penangkapan terhadap perempuan Palestina mencapai sekitar 900 orang.

Sejak awal tahun 2009 hingga awal tahun 2012, intensitas penangkapan di terhadap perempuan Palestina menurun, tapi kembali meningkat dengan dimulainya perlawanan massal Palestina di akhir tahun 2015 silam.

Perlawanan rakyat Palestina memuncak ketika pendudukan Israel menutup gerbang Masjid Al-Aqsa yang diberkahi pada Juli 2017; Jumlah perempuan yang ditangkap sejak awal perlawanan hingga 1 Oktober 2017 mencapai sekitar 370 penangkapan.

Eskalasi penangkapan perempuan Palestina oleh pendudukan Israel mencapai puncaknya sejak pecahnya “Hadiah Yerusalem,” ibu kota abadi Palestina – setelah pengumuman yang tidak menyenangkan dari Presiden AS saat itu (Donald Trump) pada 6 Desember 2017 lalu. Berlanjut selama 2018, yang menyaksikan peningkatan laju penangkapan perempuan Palestina, terutama yang ditempatkan di Masjid Al-Aqsa, terus berlanjut selama 2019.

Selama tahun itu, pendudukan Israel menangkap sekitar 110 perempuan Palestina.

Pada tahun 2020, laju penangkapan dan hukuman terhadap tahanan perempuan Palestina meningkat. Selama waktu itu, otoritas pendudukan menangkap sekitar 128 perempuan.

Sementara pada tahun 2021 terjadi peningkatan penangkapan yang makin parah, karena otoritas pendudukan menangkap sekitar 184 perempuan, dan pada 27/7/2022.

Pendudukan Israel melakukan tindakan yang sangat buruk terhadap tahanan perempuan Palestina. Mereka menjadi sasaran tindakan pemukulan, penghinaan, dan penistaan.

Pelecehan terhadap perempuan Palestina meningkat ketika mereka ditempatkan di pusat-pusat interogasi; Semua metode interogasi dilakukan terhadap mereka, baik psikologis maupun fisik, seperti pemukulan, larangan tidur, ghosting selama berjam-jam, intimidasi tanpa memperhitungkan kondisi pisik dan kebutuhan khusus mereka.

Semua tahanan perempuan Palestina ditahan di penjara Damoun, yang didirikan selama periode Mandat Inggris sebagai tempat yang tertutup. Kondisi penjaran Damoun ini sangat lembab dan menjadi tempat yang buruk bagi para tahanan.

Setelah 1948, penjara Damoun sepenuhnya dikelola oleh Israel dan mengubahnya menjadi penjara yang sempat ditutup, kemudian dibuka kembali pada tahun 2001. Penjara Damoon tidak memiliki kebutuhan paling dasar untuk kehidupan manusia.

Sebagian besar kamar berventilasi buruk, dan banyak serangga karena kelembaban tinggi dalam waktu yang lama. Lantainya terbuat dari beton yang membuatnya sangat dingin di musim dingin dan sangat panas di musim panas. (T/B04/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)