Ben-Gvir Sebut Pengunduran Diri Gantz ‘Peluang Besar’ Capai Kemenangan di Gaza

Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel, Itamar Ben-Gvir (Foto: Yonatan Sindel/Flash90)

Gaza, MINA – Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel, Itamar Ben-Gvir, menganggap pengunduran diri Menteri Kabinet Perang, Benny Gantz, sebagai “peluang yang sangat besar” untuk mencapai “kemenangan” di Jalur Gaza, Anadolu Agency melaporkan.

“Rakyat Israel menginginkan kemenangan di selatan, rakyat Israel menginginkan kemenangan di utara, rakyat Israel ingin menghentikan kebijakan bahan bakar dan kemanusiaan, yang sebagian besar pada akhirnya jatuh ke tangan Hamas. Ini bukan perilaku negara yang ingin menang,” kata Ben-Gvir kepada wartawan, Senin (10/6).

Dia mengatakan, Partai Kekuatan Yahudi yang dipimpinnya akan meminta kursi di Kabinet Perang.

“Solusinya adalah kita akan memasuki kabinet [perang] ini dan dapat memiliki pengaruh yang lebih besar lagi,” tambahnya.

Baca Juga:  Putra Netanyahu Tuduh Militer dan Intelejen Shin Bet Berkhianat

Menteri Keuangan, Bezalel Smotrich, berpendapat pengunduran diri Gantz akan membantu Tel Aviv untuk bertindak lebih tegas terhadap Otoritas Palestina.

Anggota Kabinet Perang, Gantz dan Gadi Eizenkot, keluar dari pemerintahan darurat pada hari Ahad, menuduh Netanyahu menerapkan kebijakan yang sesuai dengan kepentingan politiknya. Mereka juga menyerukan pemilihan umum dini “sesegera mungkin”.

Israel menghadapi kecaman internasional di tengah serangan brutal yang terus berlanjut di Gaza sejak serangan kelompok Palestina, Hamas, pada 7 Oktober, meskipun ada resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera.

Lebih dari 37.100 warga Palestina telah terbunuh di Gaza, sebagian besar dari mereka adalah wanita dan anak-anak, dan hampir 84.700 lainnya terluka, menurut otoritas kesehatan setempat.

Baca Juga:  ICAN: Israel Punya 90 Hulu Ledak Nuklir

Delapan bulan setelah perang Israel, sebagian besar wilayah Gaza hancur akibat blokade makanan, air bersih, dan obat-obatan yang melumpuhkan.

Israel dianggap melakukan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ), yang dalam keputusan terbarunya memerintahkan Tel Aviv untuk segera menghentikan operasinya di kota selatan Rafah, tempat lebih dari satu juta warga Palestina mencari perlindungan sebelum serangan Israel pada tanggal 6 Mei. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Wartawan: sri astuti

Editor: Rendi Setiawan