Benang Merah ‘Black Lives Matter’ dan ‘Palestinian Lives Matter’

Gambar unggahan akun Joseph Willits di Twitter, Ahad, 31 Mei 2020. (Twitter)

Oleh Rudi Hendrik, jurnalis MINA

Pada hari Senin, 25 Mei 2020, seorang polisi kulit putih bernama Derek Chauvin menindak seorang pria kulit hitam bernama George Floyd di kota Minneapolis, Negara Bagian Minnesota, Amerika Serikat (AS). Saat itu Chauvin bersama tiga orang rekannya.

Chauvin membekuk Floyd yang berusia 40-an, ke trotoar dengan lutut di leher pria itu selama beberapa menit.

Floyd terdengar mengatakan, “Tolong, tolong, saya tidak bisa bernapas.”

Petugas memberi tahu Floyd untuk “santai”.

Floyd menjawab, “Saya tidak bisa bernapas. Tolong, lutut di leherku.”

Chauvin terus menahan Floyd dengan lututnya selama beberapa menit, sementara Floyd memohon dan meminta air.

“Perutku sakit. Leherku sakit. Tolong, tolong. Saya tidak bisa bernafas,” teriak Floyd, sambil mengerang dan terbatuk.

Floyd akhirnya tampak tak bergerak di bawah lutut petugas itu.

Mereka yang menyaksikan kejadian itu terdengar memohon polisi untuk melepaskan Floyd.

“Dia tidak bergerak,” kata seorang penonton dan berteriak, “Turun dari lehernya.”

Peristiwa itu terekam dalam sebuah video yang kemudian tersebar luas di media sosial. Namun, tidak jelas awal dan kesudahan di luar dari adegan yang terekam.

Namun, Departemen Kepolisian Minneapolis mengatakan, kemudian Floyd dipindahkan ke pusat medis terdekat tempat dia meninggal beberapa saat kemudian.

Kepala Kepolisian Minneapolis, Medaria Arradondo mengatakan dalam konferensi pers hari Selasa, 26 Mei, keempat petugas yang terlibat dalam insiden itu sekarang sudah diberhentikan dari tugasnya.

Namun, kemarahan warga Minneapolis telah tersulut yang menuduh polisi bertindak rasis dan brutal.

Protes massa terjadi dalam beberapa hari berturut-turut. Kerusuhan dan konfrontasi pengunjuk rasa dengan pihak keamanan terjadi.

Aksi yang sama kemudian manjadi nasional. Aksi protes dengan slogan “Black Lives Matter” yang menentang rasisme dan kebrutalan polisi terjadi di kota-kota besar Amerika Serikat,  Negara Bagian New York pun diguncang protes dan kerusuhan.

Mobil-mobil dan kantor polisi menjadi target pembakaran oleh pemrotes.

Ekonomi nasional yang ambruk karena pandemic virus corona baru (COVID-19) membuat warga memanfaatkan situasi untuk menjarah berbagai toko.

Hingga Ahad malam waktu Amerika, 31 Mei, protes dan kerusuhan masih terjadi di berbagai kota Amerika.

Petugas polisi Minneapolis, Derek Chauvin menindih leher George Floyd di trotoar, Senin, 25 mei 2020. (YouTube)

Pembunuhan Eyad Al-Hallaq

Beberapa hari kemudian, di daerah yang menjadi pusat rasisme terbesar, yaitu di tanah Palestina yang diduduki, terjadi pula aksi kebrutalan polisi yang menarik kecaman dan keprihatinan dunia internasional.

Pada hari Sabtu, 30 Mei 2020, di salah satu cek poin di Kota Tua Yerusalem (Al-Quds) yang diduduki, Iyad Al-Hallaq (32), seorang pemuda berkebutuhan khusus (cacat), ditembak mati oleh polisi Israel.

Pihak berwenang Israel mengatakan dalam pernyataannya, Hallaq yang autis, menolak untuk berhenti karena polisi mengatakan mereka melihat orang Palestina “membawa benda mencurigakan yang tampaknya seperti senjata.”

Namun menurut seorang pengacara yang mewakili keluarga Hallaq, Hallaq yang tidak bersenjata itu kemudian melarikan diri dari tempat kejadian, berlari dan bersembunyi di balik tempat sampah ketika polisi mengejarnya. Pemuda itu kemudian ditembak sebanyak 10 kali.

Media Israel melaporkan bahwa “objek yang mencurigakan” pada Hallaq adalah sebuah ponsel.

Orangtua Hallaq mengatakan kepada media setempat bahwa putra mereka sedang dalam perjalanan ke sekolah kebutuhan khusus tempat dia bekerja. Mereka telah mengatakan kepada Hallaq untuk memegang telepon guna memastikan dia tiba dengan selamat.

“Dia tidak mampu melukai siapa pun,” kata keluarganya mengatakan pada Haaretz.

The Hebrew Channel (13) mengungkapkan, polisi Israel telah menggerebek rumah Al-Hallaq setelah ia mati syahid untuk mencari bahan apa pun, bahkan melakukan penghinaan terhadap saudara perempuannya.

Pembunuhan terhadap Hallaq oleh polisi Israel mengguncang Palestina. Otoritas Palestina di Ramallah, Tepi Barat, dan Hamas yang menguasai Jalur Gaza bereaksi keras atas pembunuhan itu.

Pada Sabtu malam itu juga, puluhan massa berkumpul di Yerusalem memprotes pembunuhan Hallaq.

Demonstran di Kota Tua Yerusalem membawa rambu bertuliskan “Hidup Iyad penting” dan “Palestinian Lives Matter“, menggemakan gerakan Black Lives Matter yang berasal dari Amerika Serikat.

Salah satu papan pengunjuk rasa berbunyi “Keadilan untuk Eyad. Keadilan untuk George”, merujuk pada George Floyd di AS.

“Kekerasan polisi di Yerusalem Timur adalah kebijakan, sama seperti kebijakan terhadap orang kulit hitam di AS,” kata Shahaf Weisbein, salah satu penyelenggara protes.

“Kekerasan polisi dan kebijakan pendudukan terhadap Palestina adalah rutinitas yang menyedihkan. Sudah waktunya untuk mengakhiri pendudukan, dan untuk keadilan bagi semua korban kekerasan polisi di mana-mana,” kata Shahaf Weisbein, salah satu penyelenggara protes, sebagaimana dikutip dari The New Arab.

Pada malam yang sama, lusinan orang juga berkumpul untuk memprotes di Tel Aviv.

 

Eyad Al-Hallaq, pria autis Palestina yang ditembak 10 kali oleh polisi Israel di Kota Tua Yerusalem, Sabtu, 29 Mei 2020.

Reaksi dari Ramallah, Gaza dan Knesset Israel

Setelah pembunuhan itu, Otoritas Palestina (PA) dan wakil-wakil Arab di parlemen Israel “Knesset” menyerukan intervensi internasional yang mendesak untuk melindungi rakyat Palestina.

“Peningkatan kejahatan Israel di kota pendudukan Yerusalem menyerukan intervensi internasional segera,” kata Menteri Urusan Yerusalem PA, Fadi Al-Hadmi dalam pernyataan persnya, Sabtu.

Ia menambahkan, kejahatan pendudukan di Kota Tua belum berhenti, tetapi dalam beberapa pekan terakhir telah terjadi peningkatan yang nyata terhadap warga Palestina dan properti mereka.

Hamas, faksi bersenjata yang mengendalikan Jalur Gaza yang diblokade Israel, mengatakan, penembakan Hallaq itu “membuktikan kesadisan kepemimpinan Israel.”

“Respons orang-orang kami, setiap saat, akan berlanjut perlawanan dan intifada,” kata Hamas pada hari yang sama.

Sementara itu, Ayman Odeh, Ketua Fraksi “Joint List” di Knesset mengatakan dalam akun Twitter-nya, seseorang harus memastikan polisi Israel itu berada di penjara untuk diadili.

Anggota Knesset Israel Aida Toma Suleiman juga mengatakan di akun Twitter-nya, ia menganggap pembunuhan pada pemuda Palestina adalah hasil dari ancaman Menteri Keamanan Dalam Negeri Israel yang baru, Amir Ohana, untuk menumpahkan darah semua orang yang menyerang seorang polisi.

“Bagi mereka yang dikejutkan oleh pembunuhan di Amerika Serikat, perhatikan baik-baik, seluruh orang (Palestina) mengerang di bawah pendudukan Israel tanpa bisa bernapas,” ujarnya.

Pada hari Ahad, Perdana Menteri Alternatif dan Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz mengatakan, pemerintah Israel akan “menyelidiki” penembakan itu.

Meski tidak serusuh di Amerika Serikat reaksi atas tindakan rasis pasukan Israel terhadap orang Palestina, tetapi insiden rasis antara di Minneapolis dan Yerusalem menghubungkan “benang merah” yang kian membuka mata dunia tentang rasisme yang sistemik di lembaga pemerintahan dan keamanan Amerika Serikat dan Israel. (A/RI-1/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)