Bencana, Tanda Kekuasaan Allah, Peringatan Buat Manusia

Ali Farkhan Tsani pada acara Tausiyah “Berinteraksi dengan Al-Quran untuk Pembebasan Al-Aqsa“, di Masjid Kubah 9 Al-Muhajirin Transito Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, Ahad (18/2/2024). (Foto: Doc. Lajnah ODKQ)

Oleh : , Redaktur Senior Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency)

alam datang silih berganti. Beberapa hari lalu puting beliung menerjang delapan kecamatan di Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Pemerintah Kabupaten Bandung dan Sumedang pun menetapkan status tanggap darurat.

Insiden ini terjadi di dua kecamatan di Kabupaten Sumedang, yakni Cimanggung dan Jatinangor. Kemudian, di lima kecamatan di Kabupaten Bandung, yakni Kecamatan Cicalengka. Rancaekek, Cileunyi, Majalaya, dan Kertasari.

Sebelumnya, awal Februari, banjir besar melanda wilayah perbatasan Kudus dan Demak, Jawa Tengah. Banjir itu dipicu jebolnya tanggul Sungai Wulan, yang menyebabkan air meluap dan menerjang jalan raya dan pemukiman di Desa Ketanjung, Babatan, dan Magersari, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak yang berada di sisi barat Sungai Wulan.

Dari laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, ketinggian banjir diketahui hingga seleher orang dewasa. Bahkan, di beberapa titik lokasi dilaporkan mencapai 2 meter.

Terkini, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa bumi di Bayah, Banten, magnitudo 5,8. Gempa ini dangkal dengan kedalaman 10 Km.

Getaran gempa ini terasa di berbagai wilayah, di antaranya Pelabuhan Ratu, Bayah, Malimping, Panimbang, Cigelis, Serang hingga Bogor dan Jakarta.

Bagi kita orang-orang beriman, tentu semua bencana alam yang terjadi di bumi ini bukanlah sekedar bencana alam. Namun menunjukkan adanya kekuasaan Allah Yang Maha Besar. Bahwa semuanya tidak lepas dari ketetapan Allah, semua sudah tercatat di Lauhul Mahfudz.

Sebagaimana Allah berfirman :

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا ۗاِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ ٢٢ لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَآ اٰتٰىكُمْ ۗوَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۙ ٢٣

Artinya : “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Q.S. Al-Hadid [57]: 22-23).

Di dalam Tafsir Al-Quran Kementerian Agama dijelaskan, pada Surat Al-Hadid ayat 22 Allah  bahwa semua bencana yang menimpa di permukaan bumi, seperti gempa bumi, banjir dan bencana alam lainnya, termasuk kecelakaan, penyakit dsb, semuanya telah ditetapkan di Lauh Mahfudz, sebelum Allah menciptakan makhluk-Nya.

Hal itu menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi di alam semesta ini yang luput dari pengetahuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Selanjutnya,  Surat Al-Hadid ayat 23 menjelaskan, bahwa semua peristiwa yang terjadi di permukaan bumi ini sudah ditetapkan Allah, agar manusia bersabar menerimanya.

Karena itu kita janganlah terlalu bersedih menerima yang menimpa. Sebaliknya jangan pula terlalu bergembira berlebihan hingga sombong dan bangga diri menerima sesuatu yang menyenangkan.

Sikap yang terbaik adalah bersabar dalam menerima bencana dan musibah, serta bersyukur atas setiap karunia dan nikmat yang dianugerahkan-Nya.

Begitulah, ibarat roda kendaraan, sewaktu-waktu di atas, lain saat di bawah. Berputar mengitari porosnya secara bergantian. Bila saatnya harus di atas, ia pun akan di atas. Waktu gilirannya turun, ia pun harus turun memenuhi kodratnya.

Demikian halnya kehidupan, suka dan duka silih berganti menimpa hamba-hamba-Nya. Susah dan senang bagaikan dua sisi yang berhadapan susul-menyusul. Berhasil dan gagal kerap saling bertukar tempat dalam putaran waktu yang sangat cepat.

Hal ini memberikan pelajaran kepada hamba-hamba pilihan-Nya agar memakai pakaian syukur ketika berada di atas kesuksesan dan kesukacitaan. Sebaliknya mengenakan baju sabar bila sedang ditimpa duka cita, dirundung malapetaka dan diterpa badai bencana. Semua ujian itu kita kembalikan kepada Allah Sang Maha Pencipta, tempat kembali kita.

Di dalam Al-Quran, Allah mengingatkan:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ١٥٥ اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ ١٥٦ اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ ١٥٧

Artinya : “Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 155-157).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun menyebutkan di dalam sabdanya :

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Artinya : “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (H.R. Muslim).

Kita pun patut mengambil hikmah di balik bencana yang datang. Bahwa adanya bencana dahsyat yang terkadang di luar prediksi manusia menunjukkan akan adanya kekuasaan Allah dan betapa lemahnya manusia.

Bencana bisa bermakna teguran dan peringatan dari Sang Pencipta agar kita sebagai hamba-hamba-Nya segera bertobat atas segala dosa dan mengakui kebesaran-Nya.

Bencana juga mengandung hikmah, bahwa Allah berkehendak menjadikan hamba-hamba-Nya agar tersadar untuk kembali pada ajaran-Nya serta bersimpuh meningkatkan ibadah di hadapan-Nya, mumpung masih diberi waktu.

Dengan bencana pula Allah berkenan menjadikan manusia-manusia pilihannya sebagai hamba-hamba yang dicintainya, bila mereka mampu menerimanya dengan penuh kesabaran.

Firman Allah menyebutkan :

وَكَاَيِّنْ مِّنْ نَّبِيٍّ قٰتَلَۙ مَعَهٗ رِبِّيُّوْنَ كَثِيْرٌۚ فَمَا وَهَنُوْا لِمَآ اَصَابَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَمَا ضَعُفُوْا وَمَا اسْتَكَانُوْا ۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الصّٰبِرِيْنَ ١٤٦

Artinya : “Betapa banyak Nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat, dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (Q.S. Ali Imran [3]: 146).

Adapun bencana yang disebabkan ulah tangan manusia, yang berdampak bukan hanya kepada pelakunya, tetapi juga kepada manusia lainnya, itupun menjadi peringatan agar manusia sadar akan perbuatannya dan kembali pada jalan yang benar.

Allah dalam Surat Ar-Rum ayat 41, memperingatkan manusia:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (dampak) perbuatan mereka. Semoga mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. Ar-Ruum [30] : 41).

Sahabat Abu Bakar As-Shiddiq menafsirkan kerusakan di darat dan di laut sebagai kerusakan ucapan dan hati manusia. Kerusakan lisan dan qalbu melalui kemungkaran-kemungkaran itu diratapi manusia dan Malaikat.

Hati manusia memiliki kedalaman dan keluasan sebagaimana lautan. Manusia bisa memasukkan apa saja kedalam hatinya, kebaikan ataupun keburukan. Dan bila telah rusak hati manusia karena terlalu banyak memasukkan kebesaran dunia sehingga melupakan kebesaran Allah Yang Maha Besar, maka yang keluar dari lisannya akan rusak.

Lisan seharusnya dipergunakan untuk dzikrullah, tilawah Al-Quran, istghfar, shalawat, mengatakan hanya kalimat yang penting dan kalimat yang baik saja. Dengan rusaknya hati, lisan pun memproduksi banyak fitnah dan bencana.

Terlepas dari itu semua, akibat ulah tangan manusia, alam semesta berperilaku sesuai dengan perintah dan izin dari Allah. Sebagaimana firman-Nya :

بِاَنَّ رَبَّكَ اَوْحٰى لَهَاۗ ٥

Artinya : “Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) padanya.” (Q.S. Az-Zalzalah [99] : 5).

Dalam Tafsir Al-Quran Kementerian Agama Republik Indonesia  dijelaskan bahwa maksud ayat ini adalah, “bumi menyampaikan kepada manusia apa yang terjadi padanya dan bersaksi di hadapan Allah tentang apa saja yang manusia lakukan di atasnya karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan padanya untuk berbuat demikian”.

Semoga kita sebagai orang-orang beriman dapat menyikapi musibah dan bencana dengan bersabar dan menyandarkan diri hanya kepada Allah Sang Maha Pencipta alam semesta. Aamiin. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)

Penulis, Ali Farkhan Tsani, Wartawan/Redaktur Senior MINA, Duta Al-Quds Internasional, Da’i Pondok Pesantren Al-Fatah Bogor, Penulis Buku Kepalestinaan. Penulis, Dapat dihubungi melalui Nomor WA : 0858-1712-3848, atau email [email protected].

Ikuti saluran WhatsApp Kantor Berita MINA untuk dapatkan berita terbaru seputar Palestina dan dunia Islam. Klik disini.